Bincang Sejarah
Yusra Habib: Surat Rahasia Van Heutsz, 2000 Pasukan Khusus Dikirim Reje Linge untuk Gempur Belanda
Yusra Habib mengaku mendapatkan informasi itu dari surat rahasia Van Heutsz yang pernah menjadi Gubernur Militer dan Sipil Belanda pada 1898-1903
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Penulis Buku “Marechaussee (baca: marsose)” Dr Yusra Habib Abdul Gani menyatakan pada kurun waktu 1875-1896 Reje Linge mengirimkan 2000 anggota pasukan khusus ke pesisir Aceh untuk mendukung perjuangan mempertahankan Aceh Darussalam yang berdaulat dari gempuran kolonialis Belanda.
Yusra Habib mengaku mendapatkan informasi itu dari surat rahasia Van Heutsz yang pernah menjadi Gubernur Militer dan Sipil Belanda pada 1898-1903, dan kemudian menjadi Gubernur Jenderal 1904-1909. Dokumen tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional.
“Bukti ini ada di tangan saya,” kata Yusra Habib dalam Bincang Sejarah “Memperingati 118 Tahun Pembantaian Masyarakat Gayo Alas oleh Belanda” secara virtual, Kamis (12/5/2022). Bincang Sejarah ini diselenggarakan Pusat Kajian Kebudayaan Gayo. Narasumber lainnya adalah HM Iwan Gayo, yang pernah memimpin ekspedisi Van Daalen ke Gayo Alas.
Dr Yusra Habib yang kini bermukim dan menjadi warga negara Denmark mengatakan, pengiriman pasukan khusus oleh Reje Linge itu sebagai bentuk dukungan kepada pejuang-pejuang di pesisir Aceh. Selain itu secara sendiri-sendiri para pejuang Gayo juga banyak terlibat dalam perjuangan di Kawasan pesisir Aceh. Ia menyebut nama Panglima Tengku Tapa dan Pang Burik berkiprah di Aceh Timur sekarang, secara sendiri-sendiri melawan kolonialis Belanda.
Yusra Habib menduga, akibat perlawanan dan sokongan kesetiaan dan kekuatan inilah yang menyebabkan Belanda kemudian menggempur habis-habisan Tanah Gayo-Alas dalam perang Gayo-Alas 1904, setelah didahului kedatangan pasukan pimpinan Collin ke Gayo dan menderita perlawanan dan kekalahan dari pejuang Gayo pada peristiwa penghadangan di Bur Intim Intim.
“Saya terus terang tidak menemukan alasan kenapa petinggi militer Belanda menyerang orang Gayo. Tapi dari hasil yang saya baca, penyebabnya --sesuai kesimpulan Belanda-- bahwa orang Gayo dianggap sangat memberi sokongan pasukan, senjata, dan logistik kepada pejuang di pesisir. Mereka menganggap tidak akan berhasil menaklukkan Aceh kalau tidak memerangi Gayo, sebagai sumber utama dukungan. Ini saya tafsirkan sesuai dengan dokumen mereka, Colijn, Van Heutsz, Daalen. Orang Gayo dianggap sangat setia memeberi sokongan untuk mempertahankan kedaulatan Aceh sebagai sebuah negara berdaulat semasa itu,” ujar Yusra yang telah melahirkan ratusan artikel dan banyak buku sejarah, budaya dan sosial.
“Oleh karena kesetiaan orang Gayo inilah bagi Belanda, tidak ada cara lain selain membumi hancurkan sumber penyebab gagalnya perang di Aceh. Ada satu filosofi berpikir orang Gayo, yaitu setie-mate. Gemasih - papa, artinya kesetiaan berujung mati, tingkat gemasih berujung kemiskinan,” lanjut Yusra Habib.
Ia melukiskan pejuang-pejuang Gayo dan Aceh masa itu saling bekerja sama. Persatuan antara Gayo dengan masyarakat pesisir begitu kental ketika itu, tapi kemudian direnggangkan oleh pihak tidak bertanggung jawab melalui provokasi menyebabkan tidak mesranya hubungan Aceh-Gayo. “Padahal berdasarkan fakta dulu, tidak ada bedanya orang Gayo dan pesisir Aceh dalam mempertahankan kedaulatan Aceh Darussalam, ketika itu.”(*)
Baca juga: VIDEO KISAH WNI Lolos dari Perang Ukraina Rusia, Berhasil Melarikan Berkat Sembunyi di Ruang Rahasia
Baca juga: Angkut 9 Ton Arang Bakau tanpa Dokumen Resmi, Personel KPH Amankan Tiga Pikap di Aceh Tamiang