Berita Jakarta
Konsumsi Pertalite Terjadi Ketimpangan, Pertamina: Stok BBM Relatif Aman
PT Pertamina Patra Niaga melaporkan terjadi ketimpangan antara konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dengan real octane number (RON) 90
JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga melaporkan terjadi ketimpangan antara konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dengan real octane number (RON) 90 dari keseluruhan total pembelian gasoline.
Ketimpangan konsumsi itu disebabkan karena perbedaan harga yang cukup lebar antara Pertalite dengan BBM non-subsidi yang belakangan mengalami penyesuaian harga akibat fluktuasi di pasar dunia.
Penjabat sementara (Pjs) Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting mengatakan, rata-rata konsumsi Pertalite secara nasional hingga Mei 2022 mencapai sekitar 80 persen.
Sementara itu, rata-rata konsumsi Pertamax hanya berkisar di angka 19 persen.
“Secara nasional rata-rata konsumsi Pertalite hingga bulan Mei ini sekitar 80 persen dibandingkan total gasoline, sedangkan untuk Pertamax rata-rata di angka 19 persen,” kata Irto melalui pesan singkatnya, Selasa (24/5/2022).
Kendati demikian, dia memastikan, stok BBM itu relatif dalam kondisi yang aman.
Dia beralasan ketersediaan Pertalite dapat bertahan hingga 17 hari ke depan.
Sementara solar dapat bertahan hingga 23 hari dengan asumsi data per 24 Mei 2022.
“Stok dalam keadaan aman semuannya, ketahanan stok Pertalite di 17 hari dan solar berada di atas 23 hari,” tuturnya.
Sejak awal April 2022, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah mengajukan rencana penambahan kuota solar subsidi sebanyak 2,28 juta kiloliter menjadi 17,39 juta untuk paruh kedua tahun ini kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Baca juga: Harga Pertalite Tak Naik Sudah Tepat
Baca juga: Jokowi Pertahankan Harga Pertalite Rp 7.650, Sebut BBM di Indonesia Termurah Sedunia
Kementerian ESDM menambah kuota solar subsidi karena mengalami kelebihan kuota realisasi penyaluran sebanyak 9,49 persen periode Januari sampai Maret 2022 akibat peningkatan aktivitas pertambangan dan perkebunan.
Sementara itu, penambahan kuota Pertalite mencapai 5,45 juta kiloliter menjadi 28,50 juta kiloliter karena kelebihan kuota realisasi penyaluran sebesar 14 persen pada periode Januari sampai Maret 2022.
Sebelumnya, volume kuota Pertalite adalah 23,05 juta kiloliter dengan angka realisasi 6,48 juta kiloliter sampai dengan 2 April 2022, sehingga menyisakan 16,57 juta kiloliter.
Sementara itu, volume kuota solar subsidi sebanyak 15,10 juta kiloliter dengan realisasi penyaluran mencapai 4,08 juta kiloliter dan menyisakan 11,02 juta kiloliter pada APBN 2022.
Saat itu, Kementerian ESDM mencatat terjadi kelebihan konsumsi bahan bakar jenis Pertalite sebesar 14 persen, solar sebanyak 9,5 persen dan minyak tanah sekitar 10,09 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kendaraan-melakukan-pengisian-bbm-jenis-solar-dan-pertalite-di-spbu-pante-raya-bener-meriah.jpg)