Kamis, 28 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Tapak Tilas Orphan Kafala di Aceh

Program Orphan Kafala ini merupakan sebuah program yang memberikan bantuan pendanaan yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim dan yatim piatu

Tayang:
Editor: bakri
IST
IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari Sigli 

OLEH IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari Sigli

ACEH pernah mengalami masa konflik dan tsunami yang dipicu gempa bumi berkekuatan 9,3 skala Richter pada tahun 2004.

Musibah itu merenggut ribuan nyawa penduduk Aceh dan korban lainnya di 12 negara.

Akibat bencana dahsyat tersebut anak-anak kehilangan orang tua, tempat tinggal, dan sanak saudara.

Pascamusibah besar itu muncul pula kepedulian terhadap para korban dari Organization of Islamic Conference (OIC) dan Islamic Development Bank (IsDB) bekerja sama untuk membantu anak-anak yang kehilangan kedua orang tua dengan membuat program berupa Orphan Kafala Program (OKP).

Program Orphan Kafala ini merupakan sebuah program yang memberikan bantuan pendanaan yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim dan yatim piatu, untuk perawatan kesehatan, pendidikan, pembimbingan, pelatihan dan rehabilitasi anak-anak korban bencana gempa bumi/tsunami dan konflik pada tahun 2005 silam.

Selain itu, dalam program ini juga mencakup rehabilitasi para ibu atau ibu pengganti bagi mereka yang kehilangan kedua orang tuanya.

Dalam hal ini Laznas Baitulmal Muamalat (BMM) bersama Islamic Development Bank (IsDB) melakukan program kerja sama dengan memberikan beasiswa bagi anak yatim korban musibah gempa bumi/tsunami dan konflik di Aceh.

Pada awal program ini dibentuk, sekitar 3.025 anak menjadi penerima manfaat program tersebut.

Namun saat ini jumlahnya berkurang menjadi 1.917 orang.

Baca juga: Alumni SMA Negeri 1 Labuhanhaji Angkatan 2006 Gelar Bukber dan Santunan Anak Yatim

Baca juga: Senyum Bahagia Anak Yatim Dapat Satunan dari Alumni Dayah Ulumuddin Lhokseumawe

Terjadinya pengurangan jumlah tersebut karena banyak anak yang sudah lulus, bekerja, dan menikah sehingga tidak dapat mengikuti OKP lagi.

Anak-anak tersebut tersebar di beberapa wilayah yang ada di Aceh, yaitu di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.

Dengan adanya program tersebut bisa membantu anak-anak korban gempa bumi dan tsunami untuk bangkit kembali.

Kamis (19/5/2022) saya berjumpa dengan staf Orphan Kafala Pidie dan Pidie Jaya, Syarifuddin atau yang lebih dikenal dengan sapaan Syeh Din, Malahayati, Habibi, Surya Azhari, dan Zikrillah.

Mereka lebih senang disebut sebagai relawan karena mereka menjadi penyambung tangan donatur dalam menyalurkan beasiswa untuk anak yatim dan yatim piatu.

Program yang sudah ada semenjak 2006 ini sangat luar biasa, dengan usaha relawan, anak-anak yang telah kehilangan orang tua bisa mendapatkan ibu atau ayah asuh.

Jumlah penerima syafaat bantuan di Pidie 625 orang dan saat ini tinggal 251 orang, di antara mereka sudah menyelesaikan sekolah menengah atas (SMA).

Merujuk pada standard operating procedure (SOP) program Orphan Kafala hanya menjamin anak-anak asuh sampai tamat sekolah akhir.

Konsep program ini, setiap anak yang mendapat beasiswa tinggal di rumah masingmasing bersama keluarganya.

Setiap bulan relawan datang mengunjungi mereka, menyerahkan bantuan, melihat perkembangan sekaligus memberi bimbingan, serta mengevaluasi aktivitas pendidikan ana-anak.

Selain itu masih banyak program lain dari OKP, di antaranya, medical check up setiap tahun, membagikan school kit, training reparasi sepeda motor, training menjahit , training teknisi komputer, dan desain grafis.

Semua itu untuk melatih skill anak-anak asuh.

Terkadang relawan juga mengajak anakanak untuk melakukan kegiatan wisata alam, wisata sejarah, dan pekan kreasi.

Kisah sukses anak asuh Program yang sudah berjalan selama 15 tahun ini menggambarkan kesuksesan donatur melalui tangan- tangan dalam menjaga anak-anak asuh hingga mereka bisa melanjutkan kuliah dan mendapat pekerjaan yang bagus, kisah H Muzzammil atau yang biasa disapa Zammil merupakan salah satu dari sekian anak yatim di Pidie yang mendapat bantuan beasiswa dari Pemerintah Arab Saudi melalui Islamic Development Bank (IsDB) sejak kelas tiga MTsN tahun 2011 sampai dengan 2015.

Tamat MTsN 2012 Muzammil melanjutkan studinya di SMK Grafika ISS Jantho Aceh Besar.

Selama di OKP Muzammil merupakan anak yatim yang aktif mengikuti beragam kegiatan.

Pada tahun 2014 berkat prestasi yang diraih, Muzammil terpilih sebagai peserta yang menerima undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi menunaikan ibadah haji beserta 100 anak yatim lainya.

Berkat belajar di SMK Grafika ISS Jantho, Zammil memiliki kemampuan bidang desain grafis sehingga 2017 Muzammil diterima kerja di salah satu media cetak terbesar di Aceh, yaitu Serambi Indonesia sebagai tenaga desain (layouter).

Selain itu, kisah tentang Muhammad Iqbal bin Rasyidin.

Ia korban Tsunami.

Kehadiran OKP mampu membuat anak almarhum Rasyidin Bangkit demi meneruskan hidup dan meraih cita-cita menjadi dokter.

Selama sekolah Muhammad Iqbal rutin mendapat beasiswa dan bantuan pendukung lainya untuk sekolah.

Sekolah di SMAN 1 Sigli, Muhammad Iqbal mendapat beasiswa dari OKP sejak kelas 1 SMA tahun 2006 dan berakhir disaat lulus sekolah pada tahun 2008.

Selama di sekolah Muhammad Iqbal meraih prestasi juara 2 pada perlombaan bidang studi kimia antar-SMA se-Kabupaten Pidie pada tahun 2007.

Selain itu ia juga aktif di organisasi intra sekolah dan organisasi eksternal seperti Remaja Masjid Al- Falah, Kota Sigli.

Tepatnya pada tahun 2014 Muhammad Iqbal menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Berkat keuletan dan kesabaran mampu mengantarkan Muhammad Iqbal menjadi dokter di Rumah Sakit Umum Sigli.

Tidak sampai di situ, Muhammad Iqbal terus memperdalam ilmu kedokteran nya dengan mengambil bidang Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Syiah Kuala (USK) pada tahun 2020.

Harapan Hadirnya program ini menjadi salah salah penopang kestabilan ekonomi untuk masyarakat kurang mampu, terkhusus mereka yang yatim atau piatu.

Anak-anak sangat tertolong, mereka mendapat pendidikan dan kehidupan yang sama dengan temantemannya meskipun mereka tidak memiliki orang tua lengkap, dan besar harapan kita tentunya program ini senantiasa berlanjut dan khususnya Pemerintah Pidie ikut mengambil andil untuk menyukseskan program-program serupa.

Relawan menyampaikan kepada saya, "Persoalan utama kehidupan anak yatim adalah pendidikan dan ekonomi.

Ini yang kami lihat ketika setiap bulan berkunjung ke rumah mereka, harapan kami anak-anak yatim haruslah tetap mendapatkan pendidikan dengan baik meskipun segala keterbatasan dan kekurangan yang ada," kata Syeh Din.

Nah, rasanya masyarakat juga bisa berperan aktif untuk mengurangi kesenjangankesenjangan kehidupan anak yatim, masyarakat harus hadir baik moral maupun materi, jangan bertumpu tangan pada pemerintah.

Misalkan masyarakat yang memiliki kemudahan rezeki bisa bersedekah atau minimal satu keluarga mengasuh satu anak yatim, tentu anak-anak tersebut akan memiliki kehidupan yang layak dan berkembang.

Akhir perjumpaan kami sore itu dengan relawan Orphan Kafala Pidie dan Pidie Jaya saya dapatkan pesan berharga bahwa senantiasalah berbuat baik karena dunia sangat membutuhkan itu, bersatu dan bahu-membahu menjaga anak yatim dan piatu.

Bukankah orangorang dari luar, sejak bencana tsunami dan konflik sudah banyak memberikan bantuan, sekarang menjadi tugas kita bersama untuk melanjutkan mengambil peran membawa perubahan.(*)

Baca juga: Bukan Hanya Fakir Miskin, Ternyata 8 Orang atau Asnaf Ini Berhak Menerima Zakat Fitrah, Siapa Saja?

Baca juga: Komunitas Extrim Bireuen Santuni Belasan Anak Yatim

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved