Senin, 20 April 2026

Penghasil Migas

Gubernur Aceh Buka Rapat Kerja Asosiasi Daerah Penghasil Migas Wakili Ridwan Kamil

Menurut Nova, konteks daerah harus diwacanakan pemanfaatan pendapatan dari perusahaan migas di daerah, khususnya BUMD dalam pengembangan energi terbar

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT saat membuka Rapat Kerja (Raker) Asosiasi Daerah Penghasilan Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET) di Manado.. 

Ganti Gubernur Ridwan Kamil, Gubernur Aceh Buka Rapat Kerja Asosiasi Daerah Penghasil Migas

Laporan Fikar W Eda I Sulawesi Utara

SERAMBINEWS.COM, MANADO - Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT mewakili Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET) Ridwan Kamil membuka rapat kerja ADPMET di Manado, Sulawesi Utara, Kamis, 9 Juni 2022.

Rapat kerja mengupas kenaikan harga migas dan proyeksi pemanfaatannya dengan tema "Transisi Keuangan menuju energi hijau" itu digelar di Hotel Four Points by Sheraton Manado, Sulawesi Utara, Rabu-Jumat, 8-10 Juni 2022.

Gubernur Aceh menyampaikan syukur, karena pada rapat kerja kali ini bisa dilakukan langsung secara tatap muka. Sehingga banyak diskusi yang bisa dilakukan. "Mudah-mudahan pandemi sudah menjadi endemi," katanya.

Nova juga berterima kasih kepada dewan pengurus ADPMET yang terdiri 20 provinsi, 58 kabupaten dan 10 kota penghasil migas dan energi terbarukan. Kemudian bisa diwacanakan energi terbarukan ikut hadir di kota-kota.

"Kita juga harus mentracing bahwa peran ADPMET dalam mentransisi energi di daerah yang menciptakan industri migas yang ramah lingkungan adalah sebuah trend kedepan, sebuah obsesi cita-cita luhur, tapi tidak juga harus takut kalau energi ini harus berakhir," sebut Nova.

Pemerintah Aceh Sudah Setahun Alih Kelola Wilayah Kerja Blok B Migas, Ini Pesan Nova Iriansyah

Menurut Nova, konteks daerah harus diwacanakan pemanfaatan pendapatan dari perusahaan migas di daerah, khususnya BUMD dalam pengembangan energi terbarukan dan kegiatan migas yang bersih.

"Di Aceh misalanya ada BUMD yang mengelola blok yang kita alih kelolakan dari Pertamina. Itu terjadi karena ada undang-undang pemerintahan Aceh," katanya.

Ia menyebutkan, ada juga inovasi yang lain pengurangan industri karbon, sebuah inovasi green. Lalu ada beberapa inovasi yang datangnya dari forum ADPMET dengan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, termasuk yang menyangkut payung hukum.

"Itu bisa kolaborasi semua, karena manfaatnya bisa dirasakan semuanya. Kemudian kita mengajak semua elemen saling berkolaborasi kongkrit terhadap masalah energi ini untuk mencapai produksi migas dengan metode yang update yang lebih bersih, yang ramah lingkungan," ujarnya.

Wakil Ketua Bidang Transisi Energi ADPMET Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si mengatakan, rapat kerja ADPMET digelar pada saat harga minyak bumi sedang tinggi, sedangkan produksi migas terus menurun.

"Kondisi tersebut menjadi dilema bagi pemerintah. Di satu sisi tingginya harga minyak bumi memberi dampak pendapatan dari produk migas. Namun di sisi lain belanja negara untuk mengimpor minyak bumi juga semakin tinggi," kata Amran yang juga Bupati Wajo itu.

Ia menyebutkan, keadaan dilematis ini tidak bisa berlangsung terus menerus, karena dihadapkan dengan tantangan kebutuhan energi bagi masyarakat dengan tumbuhnya perekonomian dan jumlah penduduk.

"Untuk itu pembangunan sektor energi termasuk migas dan energi terbarukan harus dibenahi. Paragdigma baru sebagai modal dasar pembangunan harus diwujudkan dalam kebijakan kongkrit baik tingkat nasional maupun daerah," ujarnya.

SKK Migas-Pertamina EP Rantau Field, Tutup Sumur Ilegal yang Terbakar di Rantau Peureulak

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved