Kupi Beungoh
Bloh Lam Apui, Tradisi Warisan Indatu Khas Samatiga Aceh Barat
Tradisi turun-temurun itu sejatinya menjadi ciri khas yang perlu digali dan dikembangkan sehingga menjadi daya tarik agar orang-orang
Oleh: Suwandi Wandian dan Hasan Basri M Nur
Setiap daerah memiliki tradisi turun-temurun tersendiri yang menjadi pembeda dari daerah lain.
Tradisi turun-temurun itu sejatinya menjadi ciri khas yang perlu digali dan dikembangkan sehingga menjadi daya tarik agar orang-orang berkunjung ke suatu tempat.
Sejauh tidak bertentangan dengan ajaran agama, tradisi turun-temurun itu mesti dilestariakan. Ia adalah wujud local wisdom (kearifan lokal) yang perlu diturunkan ke generasi penerus.
Ia juga perlu dikampanyekan kepada masyarakat luas sehingga menjadi objek wisata.
Jika tanah Gayo terkenal dengan tarian Saman, maka di Samatiga Aceh Barat terdapat sebuah tradisi yaitu “bloh lam apui” (berjalan di atas bara api).
Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun di Samatiga, walaupun nyaris luput dari pengetahuan publik.
Salah satu desa di Kecamatan Samatiga yang masih melestarikan tradisi indatu “bloh lam apui” adala Desa Leukeun, Kemukiman Mesjid Baro.
Baca juga: Potensi Wisata Melimpah, Aceh Butuh Sentuhan Pengusaha Visioner
Aparat desa ini belakangan ini mulai menggelar kembali tradisi “bloh lam apui” dengan pemainnya adalah penduduk setempat yang punya nyali.
Generasi millennial hingga generasi Z di Desa Leukeun Samatiga mengetahui bahwa “bloh lam apui” itu adalah tradisi warisan indatu (leluhur) yang diwarisi secara turun-temurun lintas generasi.
Mereka sekarang sudah melihat dengan mata sendiri kisah heroik dan patriotik cucu-cucu Teuku Umar Johan Pahlawan.
Meskipun tradisi berjalan di atas bara api hampir saja terlupakan dalam sejarah dan budaya ke Acehan, namun sekelompok masyarakat setempat masih mempertahankan keberlangsungan tradisi tersebut sampai saat ini.
Momen Malam Gelap
Menjelang pelaksanaan upacara “bloh lam apui” masyarakat Desa Leukeun mempersiapkan kayu dari pohon tertentu ditambah tempurung sebagai bahan dasar bara api.
Kayu-kayu itu dipotong-potong dan dijemur selama 7 hari hingga benar-benar kering.
Prosesi pembakaran kayu sebagai sarana “bloh lam apui” dilakukan pada malam hari di awal atau akhir bulan qamariah (hijriyah).
Pemilihan awal atau akhir bulan ini bertujuan agar kondisi malam benar-benar gelap sehingga cahaya api benar-benar terpantul dengan terang.
Baca juga: Melihat Kegigihan Darmiati, Janda “Eksportir” Pisang Asal Laweung Pidie
Kayu-kayu kering itu ditempatkan ke dalam wadah besi tempat membakarnya ukuran kira-kira 1 meter kali 1,5 meter. Wadah itu mirip tempat bakar ikan.
Seorang tokoh masyarakat membaca setempat “basmalah” dan Ummul Quran saat mulai membakar kayu dengan korek yang disirami bensin.
Tokoh tersebut memohon doa kepada Allah agar bara api tersebut tidak terasa panas saat dilintasi telapak kaki telanjang warga desanya.
Doa tersebut terkabul. Warga yang berjalan di atas bara api tidak ada terbakar dan tidak merasa kepanasan. Allah Maha Kuasa.
Baca juga: Berkat Kerja Sambil Kuliah, Kini Suryadi Jadi Toke di Banda Aceh
Potensi Wisata
Tradisi “bloh lam apui” menjadi tontonan menarik di Desa Leukeun Samatiga. Kiranya ia perlu digalakkan secara khusus dan dipromosikan oleh Dinas Pariwasata setempat.
Para wisatawan Aceh, nasional dan internasional diyakini akan terdorong untuk menyaksikan langsung ke desa tersebut.
Kala tamu berdatangan, maka akan berdampak kepada perekonomian warga setempat. Warung-warung kopi/nasi, tempat parkir hingga penginapan akan laku.
Demikian juga souvenir hasil olahan masyarakat setempat. Initinya dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi warga.
Sejarah “Bloh Lam Apui”
“Bloh lam apui” pertama sekali diperkenalkan kepada publik oleh Almarhum Bumai Husen. Dia sendiri adalah pribumi asli desa tersebut. Bumai mengajarkan tata cara “bloh lam apui” kepada beberapa penduduk setempat.
Perlu diketahui, “bloh lam apui” tidak bisa dilakukan secara sembarangan oleh seseorang. Akan tetapi untuk keselamatan seseorang berjalan di atas api tentunya dibutuhkan ilmu (doa) yang dibacakan oleh ahlinya.
Setelah lama menghilang, akhir-akhir ini tradisi “bloh lam apui” dimunculkan kembali oleh ahli api yang baru, yakni Maznim. Dia sendiri adalah cucu dari Bumai Husen, anak dari Tgk Imum Marzuki.
“Alhamdulillah telah dilakukan uji coba perdana dengan hasil sangat memuaskan”, ujar Mukhsin, tokoh masyarakat setempat.
Meulaboh, 14 Juni 2022
Penulis Suwandi Wandian dan Hasan Basri M Nur, Keduanya adalah alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, email: hasanbasrimnur@gmail.com
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca juga: Mengundang Dubes dan Investor India Lalu Mengusirnya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Suwandi-kiri-Hasan-Basri-M-Nur-kanan.jpg)