Sabtu, 9 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Etos Kerja di Kalangan Masyarakat Aceh

Etos berarti sikap, kehendak, kebiasaan, watak, cara berbuat, dan perhatian. Jadi, etos adalah suatu karakter yang sudah mendarah daging

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
T.A.SAKTI, peminat manuskrip dan sastra Aceh, melaporkan dari Bale Tambeh, Tanjung Selamat, Aceh Besar 

OLEH T.A.SAKTI, peminat manuskrip dan sastra Aceh, melaporkan dari Bale Tambeh, Tanjung Selamat, Aceh Besar

Etos berarti sikap, kehendak, kebiasaan, watak, cara berbuat, dan perhatian.

Jadi, etos adalah suatu karakter yang sudah mendarah daging atau dalam istilah Aceh disebut “jaban droe” (watak diri).

Adapun etos kerja bermakna sikap lahir batin terhadap pekerjaan apa saja yang dilakukan.

Menyimak sokongan budaya Aceh terhadap kerja yang sangat positif, maka kita boleh beranggapan bahwa etos kerja orang Aceh cukup baik.

Timbul pertanyaan, apakah sifat yang positif ini terjelma dalam kenyataan hidup sehari-hari? Memang benar, walaupun terkadang bisa muncul suasana pasang naik atau pasang surutnya.

Akibat tantangan yang bertubi-tubi yang tak sanggup diatasi, mulai dari sinilah berkecambahnya sifat malas pada seseorang.

Bila kemalasan ini terus berkembang terlalu lama, ia mampu mengubah watak seseorang menjadi berkarakter malas alias “beretos malas”.

Kenyataan beginilah yang akhirnya menelurkan peribahasa: Tajak u gle dicok le rimueng, tajak u krueng dikap le buya.

Baca juga: Gubernur Nova Harapkan BPPA Tingkatkan Etos Kerja

Baca juga: Gubernur Aceh Minta Idul Fitri Jadi Momentum Tingkatkan Etos Kerja

Tajak u laot disyok le paroe, taduek di nanggroe hana hareuga.

(Pergi ke rimba diterkam harimau, datang ke sungai digigit buaya.

Pergi ke laut ditusuk ikan pari, tinggal di negeri tak dihargai) yang mencerminkan rasa putus asa.

Namun, jika selagi dini “penyakit malas” memperoleh obat mujarabnya, besar kemungkinan akan normal kembali.

Banyak faktor yang bisa menjadi “obat” bagi penyakit sosial (malas) tersebut.

Termasuklah di antara resep yang manjur adalah punya harapan bahagia di masa depan atau punya masa depan, terbuka kesempatan maju, dan bakal sukses.

Dalam hal ini, campur tangan pemerintah sangatlah menentukan tercapainya keberhasilan yang didambakan, yaitu terwujudnya etos kerja positif, yakni watak rajin bagi massa rakyat.

Oleh karena itu pula pemimpin yang prorakyat selalu didambakan sepanjang sejarah umat manusia.

Berlandaskan iman

Kesadaran kerja ini berlandaskan iman yang berkeyakinan bahwa Allah Swt telah menaburkan rezeki untuk segenap makhluk-Nya di muka bumi.

Kewajiban manusialah berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkannya.

Bila mendambakan keberhasilan, berusahalah sekuat tenaga, peras keringat, banting tulang, sebab tak sesuatu pun bisa diperoleh secara gratis.

Berdiam diri atau “duek teuseupok meulhok ngon jaroe” atau pun “lale tumpang keueng” (duduk berpangku tangan atau menopang dagu).

“Meugrak jaroe meu ek gigoe” (singsingkan lengan, dapat makan).

“Rezeki ngon tagagah, tuah ngon tamita.

Tuah meubagi-bagi raseuki meujeumba-jeumba” (Rezeki harus diusahakan, keberuntungan tuah, mesti dicari.

Pada keberuntungan takdir Tuhanlah yang menentukan, begitu pula dengan hal rezeki).

Pepatah Aceh di atas menekankan bahwa dalam soal beruntung atau malang nasib insan di dunia, takdir Tuhan jua yang berperan.

Ini pernyataan iman dan sangat penting untuk mencegah rasa putus asa, akibat kecewa jika ditimpa kerugian, kemalangan, atau musibah tak terduga dalam kegiatan berusaha.

Semangat hidup

Rangsangan utama yang menggairahkan orang mencari nafkah adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Selain faktor pemenuhan kebutuhan hidup, banyak pula faktor lainnya yang ikut menggairahkan giatnya orang mencari materi.

Dorongan agama, pengaruh lingkungan, dan pandangan masyarakat termasuk perangsang-perangsang yang menentukan.

Malah dalam “mutiara kata” lebih seram dinyatakan: segala urusan tergantung uang.

Meunye hana peng di dalam jaroe, seupot lam nanggroe peungeuh lam rimba.

(Bila tak ada uang di tangan, gelap dalam negeri, terang benderang dalam rimba).

Atau peribahasa “Gaseh leumo naleueng, gaseh ureueng keu atra” (Kasih lembu pada rumput, kasih orang pada harta).

Inilah pemicu merantaunya orang Aceh, terutama orang Pidie dan Aceh Besar, menuju hutan rimba untuk menanam lada.

Pada abad 17-18 mereka merantau ke bagian barat-selatan Aceh.

Hal ini tergambar dalam Hikayat Ranto tulisan Leube Isa atau Leube Bambi asal Pidie.

Sementara pada abad ke-19 orang Pidie merantau ke Aceh bagian timur.

Kisah ini tercatat dalam disertasi berjudul “Seuneubok Lada, Uleebalang dan Kumpeni”, karya Dr Muhammad Gade Ismail MA.

Istilah “Jak u Timu”(berangkat ke timur) masih terdengar sewaktu saya masih kecil di awal tahun 1960-an.

Pemalas bagaikan sampah

Sikap budaya Aceh pada dasarnya benci kepada orang malas.

Sebaliknya, sangat menghargai orang-orang yang rajin bekerja.

Lukisan sikap budaya Aceh terhadap kedua jenis perilaku manusia ini tercermin lewat kristal-kristal budaya yang kita warisi dari endatu (nenek moyang) kita sendiri.

“Peue dale dahoh siuroe suntoek, kon tabeudoh laju tajak mita boh-boh sidom” (Kerjamu melulu hanya nongkrong setiap waktu, kan lebih baik berangkat mencari ‘telur-telur semut’).

Perumpamaan sebesar telur semut, berarti harta sebanyak apa pun, memang mesti dicari dan diusahakan.

Banyak sekali ungkapan bernada meremehkan si pemalas dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari.

“Teguran” atau nasihat ini biasanya terselip dalam pergaulan para warga desa umumnya.

“Peue lale duek dukhoh siuroe seuntok” (Kenapa hanya nongkrong saban hari).

“Hana peue shot buleuen ngon ujong sadeuep” (Tak usah mencolok bulan dengan ujung sabit; kerja sia-sia).

“Bek preh dahoh” (Tak perlu banyak tunggu!) dan “bek preh geulupak gob top” (jangan mengharap belas kasihan orang lain).

Terdapat pula pepatah Aceh yang bernada mengejek seorang lelaki, “Hana peng, hana inong” (Tak punya uang, tak bakal mendapat perempuan; istri).

Kesemua pribahasa Aceh di atas adalah sindiran tajam yang “menusuk hati” bagi orang yang berperilaku demikian.

Kritik sosial ini akan lebih cepat mencapai sasaran, terutama bagi mereka yang memiliki “mata hati” yang jernih dan terang.

Sementara bagi insan-insan yang “klop prip dan gai bugai” (tak mempan lagi dinasihati), petuah sebaik apa pun tak bakal lagi menggugah mereka, terkecuali dengan siraman taufik serta hidayah dari Allah Swt.

Penghargaan kepada mereka yang rajin (jeumot) juga sering tersentil dalam percakapan sehari-hari.

“Nyang meurot cit leumo tumbon” (orang kaya memang orang-orang rajin).

Para pedagang obat kaki lima, biasa pula mengawali gelaran dagangannya dengan pepatah, “Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki” (Kaki berjalan, otot urat melenggang; insyaallah rezeki pun datang).

Biarpun memiliki pupuk budaya kerja yang menyanjung orang rajin serta mengutuk si pemalas, bukan berarti sibeue-o si-iet (pemalas) itu tidak mempunyai tempat sandaran kemalasannya.

Di antara hadih maja (peribahasa) Aceh yang “mendukung” sifat malas, yaitu “Atra sikai hanjeuet sicupak, beurang ho tajak ka dumnan kada” (Soal rezeki, sudah ditentukan Tuhan, tak bisa diubah-ubah lagi).

“Keupeue le that atra, peue na tapeulob lam uruek” (Untuk apa berharta banyak, ‘kan tidak dibawa ke kubur,” cetus si kakek yang berkehidupan papa-merana.

Sang nenek tak sependapat, lalu ia menyelutuk, “Bak akhe donya on trieng meuhareuga (Di zaman canggih, daun bambu pun bisa jadi duit),” celoteh seorang nenek di pojok rumah, pertanda gembira.

Akibatnya, terwujudlah etos kerja positif.

Baca juga: Persaingan Ketat, PNS Bireuen Diminta Tunjukkan Etos Kerja yang Baik

Baca juga: Pemuda Desa Ini Jarang Keluar Rumah, Dikira Kerja Gaib, Ternyata Kelola Server di Berbagai Negara

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved