Breaking News

Waduh, Jumlah Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Naik Lagi

Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Budiman mengatakan, kenaikan pasien yang dirawat tersebut dalam kategori terkendali.

Twitter/@EricHermansyah
Foto Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran Jakarta tampak menyala semua lampunya, viral setelah dibagikan akun Twitter pada (9/9/2020). 

 


SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Setelah sempat sedikit jumlahnya kini pasien covid-19 di Rumah Sakit Darurat Covid-19(RSDC) Wisma Atlet, Pademangan, Jakarta Utara kembali melonjak. Data hari Kamis(16/6) ada 63 pasien positif virus corona.

Sehari kemudian atau Jumat (17/6/2022) pasien bertambah menjadi 71 orang.

Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Budiman mengatakan, kenaikan pasien yang dirawat tersebut dalam kategori terkendali.

Ia menambahkan, mayoritas yang dirawat menunjukan gejala ringan."Saya kira semua sudah terkendali, sudah kita perhitungkan " kata dia.

Dokter Budiman merinci, 60 persen pasien covid-19 adalah Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN), sedangkan 40 persen domestik yang dikirim dari luar Puskesmas maupuan rumah sakit lain, serta yang mandiri atau datang sendiri.

Akan tetapi dia belum mengetahui pasien-pasien tersebut apakah positif virus omicron BA.4 atau BA.5.

"Untuk pemeriksaan BA.4 dan BA.5 itu tentu saja sampai saat ini kita di sini tidak memastikan, harus dikirim ke Balitbangkes. Tapi yang jelas yg terkonfirmasi positif covid kita rawat di sini. Nanti penelusuran lebih lanjut diperiksa SGTFnya, dan baru akan ketahuan setelah dikirim ke Balitbangkes," jelas Dokter Budiman.

Sementara itu, jumlah kasus covid-19 di Indonesia kembali bertambah. Jumat(17/6) ada 1.220 kasus positif covid-19. Sementara itu jumlah pasien sembuh bertambah 556, meninggal 6. Dengan angka tersebut jumlah kasus covid-19 tiga kali berturut-turut berada di angka di atas seribu.

Baca juga: 1.987 Sapi di Langsa Terjangkit PMK, 1.410 di Antaranya Sembuh, Ini Data Lengkap, Termasuk yang Mati

Baca juga: Sempat Ditolak, Ribuan Jemaah Padati Tabligh Akbar Ustaz Abdul Somad di Masjid Cikal Harapan Bogor

Baca juga: Resah Rumahnya Didatangi Polisi Saat Dini Hari, Nikita Mirzani akan Lapor ke Propam

Kasubbid Dukungan Kesehatan Satgas Covid-19 Nasional, Alexander Ginting meyakini, lonjakan kasus Covid-19 kali ini selain disebabkan oleh munculnya varian baru juga karena faktor lainnya seperti longgarnya penerapan protokol kesehatan di masyarakat.

"Tapi kenaikan kasus ini juga dibarengi oleh faktor-faktor lain. Salah satunya faktor yang membuat kenaikan kasus itu adalah terjadinya pelonggaran protokol kesehatan di masyarakat, individu, keluarga ataupun komunitas," katanya.

Faktor kedua, seiring dengan perbaikan dan pemulihan ekonomi yang menyebabkan terjadinya peningkatan mobilitas.

Diakuinya, terkait mobilitas ini tertuang dalam surat edaran Satgas Covid-19 tentang Protokol Kesehatan bagi Pelaku Perjalanan Dalam Negeri Nomor 18 dan Surat Edaran Nomor 19 tentang Protokol Kesehatan bagi Pelaku Perjalanan Luar Negeri.

"Jadi ini juga mempengaruhi terjadinya mobilitas yang tinggi. Artinya banyak orang Indonesia ke luar dan banyak orang luar masuk Indonesia. Dan seiring vaksinasi yang memadai, sudah optimal, sehingga banyak persyaratan-persyaratan seperti PCR dan lain-lain dialihkan ke vaksinasi," terangnya.

Alex menyampaikan, pandemi covid-19 belum berakhir dan corona virus ini akan terus bermutasi dan menular. Untuk itu, pemerintah akan melanjutkan penerapan strategi pengendalian Covid-19 berlapis yang selama ini diimplementasikan.

"Sekarang kita masuk dalam penerapan prokes di tingkat desa dan kelurahan yang disebut skala mikro. Ini yang tidak boleh kemah. Sebab ini bagian dari sistem ketahanan negara," ujarnya.

Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman mengatakan pola atau tren dari global Covid-19 saat ini, khususnya pada negara yang sudah ditemukan kasus atau penularan komunitas BA.4 dan BA.5 mulai terjadi kenaikan. Selain menunjukkan kasus infeksi yang terus meningkat, ditandai pula dengan kenaikan angka reproduksi. Begitu pun dengan juga tes positifity rate yang meningkat.

Baca juga: Kemenkes Minta Masyarakat Tak Panik Kasus Covid-19 Meningkat Lagi

"Bahkan rata-rata sudah di atas 20 persen. Ini yang harus diwaspadai. Dan ini terjadi utama di Eropa. Dan sebagai pengingat untuk kita di Indonesia," ujarnya.

Bahkan untuk beberapa negara di Eropa, terjadi peningkatan di fasilitas kesehatan. Khususnya yang terdeteksi varian BA.5 ini.

Selain itu kata Dicky, yang harus dilihat pertama, umumnya yang paling terdampak adalah negara dengan populasi penduduk orang lanjut usia yang lebih besar. Kedua kelonggaran yang dilakukan membuat situasi semakin rentan. Pelonggaran penggunaan masker dan aktivitas , kemudian cakupan vaksinasi tiga dosis yang rendah.

"Nah ini adalah kondisi utama yang membuat dampak dari BA.4 dan BA.5 lebih terlihat mampu memperburuk situasi. Ini yang harus kita jadikan pelajaran," kata Dicky lagi.

Namun Dicky pun mengingatkan. Meski Indonesia memiliki penduduk dewasa muda yang lebih besar. Tapi masih punya penduduk dalam kondisi rawan.

"Yaitu lansia dan pasien komorbid. Anak di bawah lima tahun belum vaksinasi. Itu yang berbahaya," tutupnya.(Tribun Network/ais/rin/wly)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved