Haji 2022
Laporan Petugas Haji Aceh dari Madinah, Arab Saudi yang Terasa Semakin Indonesia
Pasalnya, saat Mizaj menanyakan dalam bahasa Arab, si petugas justru menjawabnya dengan bahasa Indonesia, tetapi dengan nada yang sedikit sombong
Kesal namun kagum.
Hal itulah yang dirasakan Mizaj Iskandar, Petugas Haji Daerah (PHD) Aceh saat berbicara dengan petugas Bandara Amir Muhammad, Madinah.
Pasalnya, saat Mizaj menanyakan dalam bahasa Arab, si petugas justru menjawabnya dengan bahasa Indonesia, tetapi dengan nada yang sedikit sombong.
SEBAGAI sebuah negara kerajaan yang mengelola dua kota suci, Makkah dan Madinah, Arab Saudi menjadi destinasi utama wisata spiritual bagi umat muslim, baik perjalanan haji maupun umrah.
Hal yang sama berlaku bagi muslim Indonesia.
Koneksi muslim Tanah Air dengan Tanah Suci sudah terjalin sejak lama, selama masuknya Islam ke Nusantara yang sejatinya dibawa oleh para pedagang Arab sejak abad XII.
Masyarakat Indonesia dahulu menyebut Tanah Hijaz, tempat di mana dua Kota Suci berada sebagai negeri di atas langit.
Sebutan ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab Arab-Jawi Klasik.
Hal tersebut dikarenakan sulitnya masyarakat Nusantara ketika itu menjangkau kedua Tanah Suci sebagaimana sulitnya manusia mencabar langit.
Menurut Henry Chambert Loir dalam bukunya ‘Naik Haji di Masa Silam’, perjalan haji dari Aceh memakan waktu lebih kurang enam bulan perjalanan kapal layar.
Baca juga: Jamaah Haji Aceh Mulai Bergerak dari Madinah ke Mekkah, Ini Ibadah yang akan Dijalani Berikutnya
Baca juga: Jamaah Haji Aceh di Madinah Mulai Bergerak ke Mekah
Jarak yang cukup membuat banyak orang kecut melakukan safar.
Tetapi seiring perkembangan zaman, Tanah Air dengan Tanah Suci makin tak berjarak.
Perjalan haji dari Banda Aceh ke Madinah hanya membutuhkan 7 jam penerbangan.
Selain jarak, bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari juga bukan lagi menjadi kendala di Tanah Suci.
Semakin banyak orang Arab yang fasih berbahasa Indonesia.