Breaking News:

Kajian Islam

Terjadi Pro dan Kontra di Masyarakat, ISAD Gelar Kajian Poligami, Ulama Perempuan Aceh Tegaskan Ini

Melihat realitas yang ada inilah sehingga pengurus ISAD Aceh dan Tastafi Banda Aceh mengangkat masalah ini untuk dibahas dan dicarikan solusinya.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
FOR SERAMBINEWS.COM
Narasumber dalam kajian 'Mungkinkah Poligami?" ialah Ummi Hj Rahimun SS dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Ketua STAI Tgk Chik Pante Kulu Tgk Jamaluddin Thaib MA, Pimpinan Dayah Mini Banda Aceh Ustaz Umar Rafsanjani Lc MA dan Ketua DPP ISAD Aceh Tgk Mustafa Husen Woyla. 

Terjadi Pro dan Kontra di Masyarakat, ISAD Gelar Kajian Poligami, Ulama Perempuan Aceh Tegaskan Hal Ini

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ikatan Sarjana Alumni Dayah ( ISAD) Aceh menyelenggarakan kajian khusus bekerjasama dengan Majelis Tastafi Banda Aceh yang menangkat pembahasan mengenai poligami.

Pengajian yang berlangsung di sebuah hotel di Banda Aceh pada Minggu (26/6/2022) ini menghadirkan empat orang narasumber dan seratusan peserta.

Keempat narasumber yaitu Ummi Hj Rahimun SS dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Ketua STAI Tgk Chik Pante Kulu Tgk Jamaluddin Thaib MA, Pimpinan Dayah Mini Banda Aceh Ustaz Umar Rafsanjani Lc MA dan Ketua DPP ISAD Aceh Tgk Mustafa Husen Woyla.

Sekjend ISAD Aceh, Dr Teuku  Zulkhairi mengatakan, acara ini diselenggarakan karena terjadi persoalan-persoalan yang terkait dengan poligami.

Di satu sisi, kata Zulkhairi, Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, syariatnya sebagai solusi dan alternatif berbagai masalah makhluk di atas muka bumi ini.

Baca juga: Kisah Istri Pertama Minta Suami Poligami Sampai Punya 4 Istri, Ikhlas Akhirnya Dapat 3 Sekaligus

Tapi di sisi lain, realitasnya angka perceraian terjadi cukup tinggi. Juga terjadi dua suara masyarakat yang pro dan menolak poligami.

Di sisi lain, juga terdapat kasus-kasus pelaku poligami yang tidak menjalankan kewajibannya untuk berlaku adil dan membiayai anak-anaknya sehingga dari sini muncul anggapan bahwa poligami itu cenderung destruktif alias merusak.

Akibatnya, muncul image buruk kepada pelaku poligami dan kepada Syari’at poligami itu sendiri.

Ada kaum adam yang berkecupan sehat jiwa dan mental, ketika ingin ber poligami masih ada saja hambatan dan tudingan miring.

Juga mirisnya lagi, tambah Zulkhairi, perempuan kedua biasa disebut pelakor, sekalipun dia pasif, hanya menerima dari kaum adam yang datang mempersuntingnya.

Juga masalah lain, pelecehan seksual di masa puber ke ketiga (usia senja), Angka Perceraian, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan penyimpangan hasrat seksual (liwath dan homo) juga marak akhir-akhir ini.

“Melihat realitas yang ada inilah sehingga pengurus ISAD Aceh dan Tastafi Banda Aceh mengangkat masalah ini untuk dibahas dan dicarikan solusinya oleh para intelektual dayah untuk dipublikasikan kepada khalayak, “ sebut Teuku Zulkhairi.

Baca juga: Poligami antara Keinginan dan Kebutuhan

Dalam pengajian ini, Anggota MPU Komisi C Ummi Hj Rahimun binti Ibrahim SS yang tampil sebagai narasumber mengatakan bahwa dewasa ini poligami hampir mustahil.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved