Jumat, 10 April 2026

Info Kesehatan

1.600 Pasien Rutin Lakukan Cuci Darah

Saat ini ada 1.600 pasien yang melakukan cuci darah, meningkat dibanding 5 tahun lalu sekitar 600 lebih pasien

Editor: IKL
For Serambinews.com
PROF DR DR MAIMUN SYUKRI, Konsultan Ginjal dan Hipertensi 

"Saat ini ada 1.600 pasien yang melakukan cuci darah, meningkat dibanding 5 tahun lalu sekitar 600 lebih pasien."

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sebanyak 1.600 pasien di Aceh saat ini rutin melakukan cuci darah atau hemodialisis, baik di Rumas Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh atau di pusat layanan cuci darah lainnya yang tersebar di Aceh.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan pesat dibanding sebelumnya, yang sekaligus menunjukkan tingginya angka gagal ginjal di Aceh. Ya, cuci darah adalah prosedur untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak bisa bekerja dengan baik akibat kerusakan pada organ tersebut.

“Saat ini ada 1.600 pasien yang melakukan cuci darah, meningkat dibanding 5 tahun lalu sekitar 600 lebih pasien,” ungkap Konsultan Ginjal dan Hipertensi sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Prof Dr dr Maimun Syukri Sp PD K-GH FINASIM.

Selain dengan melakukan hemodialisis, cara lainnya yang dilakukan pasien gagal ginjal tahap akhir adalah Cuci Perut CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis). Ini adalah proses cuci darah dengan menggantikan cairan dialisat melalui selang perut setiap 6 jam, yang dapat dilakukan sendiri di rumah pasien.

“Fungsinya sama dengan cuci darah menggunakan pakai mesin (hemodialisis). Saat ini ada 55 pasien yang cuci darah model CAPD,” sebut Prof Maimun.

Diabetes

Lebih lanjut dia menjelaskan, penyebab paling banyak sehingga seorang pasien melakukan cuci darah adalah infeksi saluran kemih atau nefritis. Tapi seiring waktu diabetes menyusul, karena kasus diabetes di Aceh juga meningkat.

“Ada penyakit lain yang juga menyebabkan gagal ginjal sehingga pasien harus melakukan cuci darah, yaitu batu ginjal, lupus, kista, dan tumor,” imbuhnya.

Terkait dengan diabetes, Maimun Syukri menjelaskan, penyakit ini sangat berkaitan dengan pola hidup. Jadi pola hidup lebih dominan (60 % ) dibandingkan faktor keturunan sebagai penyebab dari diabetes.

Bagi orang-orang yang sudah mempunyai co-morbid diabetes, baik diri sendiri atau keluarga, kuncinya adalah mengatur gula darah. Hal itu dilakukan agar komplikasi tidak sampai terjadi. Ia melanjutkan pengobatan diabetes juga hipertensi itu ada yang memakai obat (farmakologis) dan ada yang tidak memakai obat (nonfarmakologis).

“Yang tidak pakai obat itu berupa edukasi, olahraga, diet. Lalu ada yang farmakologis berupa memakai obat minum serta insulin bagi penderita diabetes,” ujarnya.

Namun, sambung Prof Maimun, apapun ceritanya, yang perlu dilakukan adalah mengontrol gula darah. Sebab komplikasi gula darah itu menyasar pembuluh darah kecil dan pembuluh darah besar. Komplikasi pembuluh darah besar mengakibatkan stroke, serangan jantung, luka kaki yang akhirnya harus diamputasi. Sementara pembuluh darah kecil menyerang mata dan ginjal.

“Itu saja. Kemanapun dicari ilmunya, kuncinya adalah kontrol gula darah, tidak ada yang lain,” tegas Dekan FK USK ini.

Hipertensi

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved