Wawancara Eksklusif
Media Barat Tak Terkendali
Harian Serambi Indonesia mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgina
Harian Serambi Indonesia mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgina Vorobieva, secara virtual, Kamis (30/6/2022).
Selama 30 menit, Lyudmila banyak menceritakan tentang kondisi terkini perang Rusia dengan Ukraina yang sudah berlangsung sekitar empat bulan dan tanpa ada kepastian kapan akan berakhir.
Di sesi akhir wawarcara, Lyudmila juga mengutarakan rencananya untuk datang kembali ke Aceh, khususnya ke Sabang.
Agenda utamanya adalah untuk berziarah ke makam perwira angkatan laut asal Rusia yang dikebumikan di kompleks pemakaman Merbabu, Kota Sabang, seperti yang pernah dilakukannya pada Februari 2021 lalu.
"Kemungkinan besar saya akan ke Aceh nanti pada bulan Februari apabila saya ada di Indonesia.Itu untuk mengenang, ada kuburan pelaut kami di Sabang dan itu sudah ada lebih 1.000 tahun," katanya kepada News Manajer Serambi Indonesia, Bukhari M Ali.
Berikut petikan wawancara eksklusif Bukhari M Ali dengan Lyudmila Georgina Vorobieva, secara virtual yang dibantu penerjemah Feby, mahasiswi Informatika Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, dan dirangkum oleh wartawan Serambi, Masrizal:
Bagaimana respons rakyat Rusia terhadap konflik antara Rusia dengan Ukraina?
Kami sudah sedikit lelah dengan semua respons yang kami dapatkan.
Apalagi, media barat yang sangat tidak terkendali.
Baca juga: Wakil Dubes Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy Sebut Media Sensor Kondisi Pengungsi di Mariupol
Baca juga: Tak Ikutan Lakukan Kampanye Anti Rusia, Dubes Rusia Berterima Kasih kepada Indonesia
Dan kami juga melihat Ukraina sebagai saudara kami, sebagai abang dan kakak-kakak yang ada di sana sebagai keluarga.
Jadi, mereka (media barat) merasa kalau kebijakan yang diberikan itu sangat tidak adil dan mereka juga mendukung untuk bisa membebaskan Ukraina dari konflik yang sedang dilanda oleh kedua belah pihak.
Sementara warga Rusia sangat mensupport untuk bisa membuat Ukraina menjadi negara yang bisa dilihat sebagai negara yang tidak negatif.
Mereka juga merasa kebijakan yang membuat dua belah pihak merasa tidak baik dan untuk ke depannya berharap menjadi lebih baik lagi.
Apa sebetulnya yang diinginkan Rusia terhadap Ukraina?
Apakah benar Rusia merasa tersinggung karena Ukraina dianggap terlalu dekat bahkan pro Amerika Serikat? Alasannya bukan karena mereka (Ukraina) pro Amerika Serikat.