Breaking News:

Internasional

Pakar Perang Saudara Sebut AS Sedang Menuju Pemberontakan, Perang Saudara Versi Abad 21

Barbara F Walter, seorang profesor ilmu politik di University of California di San Diego, berbicara kepada The Washington Post pada awal tahun ini.

Editor: M Nur Pakar
The Washington Post
Barbara F. Walter, penulis buku "How Civil Wars Start: And How to Stop Them" 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Barbara F Walter, seorang profesor ilmu politik di University of California di San Diego, berbicara kepada The Washington Post pada awal tahun ini.

Dia menjelaskan keadaan berbahaya demokrasi Amerika Serikat (AS) dalam sebuah wawancara luas yang menjadi tren di media sosial minggu ini.

Walter, penulis " How Civil Wars Start: And How to Stop Them ," (Bagaimana Perang Sipil Dimulai: Dan Bagaimana Cara Menghentikannya).

Dia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari perang saudara, menyelidiki faktor risiko, kesulitan resolusi, dan pendekatan untuk mengakhiri konflik.

Para ahli sejak lama percaya, setiap perang saudara disebabkan oleh serangkaian faktor uniknya sendiri, yang tahan terhadap paralel atau perbandingan.

Tetapi ketika metodologi dan teknologi meningkat, Walter mengatakan beberapa pola mulai muncul, dua di antaranya terbukti sangat prediktif.

Seorang perusuh dengan kemeja QAnon bergerak di lorong Capitol di luar ruang Senat, Washington DC pada Rabu (6/1/2021).
Seorang perusuh dengan kemeja QAnon bergerak di lorong Capitol di luar ruang Senat, Washington DC pada Rabu (6/1/2021). (AP)

Baca juga: 4 Dampak Mengerikan Bagi Indonesia Bila Amerika Serikat Resesi, Apa saja?

Yang pertama, katanya, variabel yang disebut anokrasi.

Istilah tersebut merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambarkan beberapa faktor yang terkait dengan pemerintahan suatu negara, termasuk seberapa otokratis atau demokratis negara tersebut.

Anokrasi diukur dengan menggunakan skala negatif 10 hingga positif 10, dengan yang pertama menjadi paling otoriter dan yang terakhir menjadi paling demokratis.

AS membanggakan peringkat 10 positif selama beberapa tahun, kata Walter, tetapi secara singkat diturunkan menjadi 5.

Sejak itu ditingkatkan menjadi 8.

Faktor risiko kedua, menurut Walter, ketika orang-orang di negara-negara demokrasi yang tidak stabil ini mulai mengorganisir partai politik di sepanjang garis identitas ras, agama, atau etnis.

Tidak sepenuhnya berbeda dari banyak anggotad ari Partai Republik membungkuk untuk merangkul supremasi kulit putih dalam beberapa tahun terakhir.

"Menonton apa yang terjadi pada Partai Republik benar-benar kejutan yang lebih besar, mereka menggandakan strategi supremasi kulit putih ini," katanya.

Baca juga: Mantan Menhan AS Mark Esper Dalam Bukunya Ungkap Keinginan Donald Trump Invasi Venezuela

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved