Kamis, 16 April 2026

Luar Negeri

Dinesh Gunawardena Sekutu Rajapaksa Dilantik Jadi Perdana Menteri Baru Sri Lanka

Dia dilantik di hadapan Wickremesinghe, yang duduk di depan jajaran pejabat militer dalam ruangan yang dipenuhi anggota parlemen dan para pejabat Sri

Editor: Faisal Zamzami
AFP/ISHARA S. KODIKARA
Menteri Luar Negeri Sri Lanka Dinesh Gunawardena berbicara dalam konferensi pers di Kolombo pada 23 Maret 2021. Saat ini Gunawardena dilantik menjadi PM baru Sri Lanka. 

SERAMBINEWS.COM, COLOMBO - Presiden baru Sri Lanka Ranil Wickremesinghe menunjuk Dinesh Gunawardena menjadi Perdana Menteri (PM) baru Sri Lanka, menggantikan dirinya.

Pada kenyataannya, Gunawardena adalah sekutu dinasti politik Rajapaksa yang berkuasa sejak lama di Sri Lanka.

Dilansir Associated Press (AP), Gunawardena telah diangkat sebagai PM Sri Lanka pada Jumat (22/7/2022).

Dia dilantik di hadapan Wickremesinghe, yang duduk di depan jajaran pejabat militer dalam ruangan yang dipenuhi anggota parlemen dan para pejabat Sri Lanka.

Gunawardena merupakan bekas teman sekolah Wickremesinghe.

Dia kini berusia 73 tahun dan berasal dari keluarga politik terkemuka.

Gunawardena dilantik sehari setelah Wickremsinghe sendiri diangkat secara resmi sebagai Presiden baru Sri Lanka oleh Parlemen.

Wickremsinghe menjadi presiden baru Sri Lanka menggantikan Gotabaya Rajapaksa yang mundur usai kabur ke luar negeri di tengah krisis ekonomi.

Gunawardena merupakan anggota parlemen senior. 

Sosoknya telah dikenal sebagai sekutu keluarga Rajapaksa dan pernah menjabat menteri dari Partai Podujana Peramuna (SLPP) yang menaungi Rajapaksa.

Baca juga: Perdana Menteri Jadi Presiden, Gelombang Kemarahan Meledak di Sri Lanka

Baca juga: Keberadaan Rumah Bordil Meningkat di Tengah Krisis Ekonomi Sri Lanka,Wanita Jadi Alat Barter Makanan

Pelantikan Gunawardena ini digelar beberapa jam setelah pasukan keamanan Sri Lanka menggerebek dan membongkar kamp demonstran anti-pemerintah di ruas jalan menuju Istana Kepresidenan di Colombo pada Jumat pagi waktu setempat.

 
Para demonstran terhitung telah bertahan di kamp itu selama 104 hari terakhir.

Dikutip dari Reuters, Juru bicara kepolisian menyebut sedikitnya sembilan orang ditangkap dalam penggerebekan itu.

Sedangkan penyelenggara protes menuturkan sekitar 50 orang mengalami luka-luka dalam tindakan represif itu, termasuk beberapa jurnalis yang dilaporkan dipukuli oleh pasukan keamanan Sri Lanka.

"Itu merupakan serangan sistematis dan terencana," ucap salah satu penyelenggara unjuk rasa, Chameera Dedduwage.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved