Kisah Rahmah, Ketua Koperasi Ketiara, dari Kopi Gayo Gelondong sampai Ekspor ke Luar Negeri

Kisah Rahmah dan Koperasi Pedagang Kopi (Kopepi) Ketiara, mulai dari jual beli kopi gelondong hingga ekspor ke luar negeri dengan omzet 100 Rp miliar

Penulis: Sara Masroni | Editor: Amirullah
Facebook Serambinews.com
Ketua Koperasi Ketiara, Rahmah (kiri) bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, bercerita mulai dari jual beli kopi gelondong hingga ekspor ke luar negeri. 

SERAMBINEWS.COM - Mulai dari nol. Kata itu keluar dari mulut perempuan asal Takengon, Aceh Tengah yang kini sudah mengekspor kopi gayo ke sejumlah negara di dunia.

Adalah Rahmah, Ketua Koperasi Pedagang Kopi (Kopepi) Ketiara, koperasi yang menyambung hajat sebagian masyarakat Gayo dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Roda perekonomian di dataran tinggi Gayo sangat terbantu karena adanya sosok Rahmah dan koperasi ini di sana.

Para petani bisa merasakan langsung manisnya penghasilan kopi dari kebun mereka untuk diekspor ke luar negeri, sekaligus juga membuka lapangan kerja bagi yang lain.

Tak tanggung-tanggung, tenaga kerja untuk operasional produksi saja kini mencapai 100-an orang di koperasi tersebut.

"Sekitar 100-an orang ada pak," ungkap Rahmah saat diwawancara Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra bersama Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia Zainal Arifin M Nur di home base Koperasi Ketiara, Takengon, Rabu (20/7/2022).

Belum lagi petani kopi dari puluhan desa berasal di sekitaran Gayo.

Terutama Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, mereka merasakan manisnya penghasilan dari tumbuhan berkafein yang mereka panen melalui koperasi tersebut.

Semua tidak mudah, ada perjuangan, keringat dan kerja keras serta kemauan untuk selalu belajar hingga sampai di titik ini.

Dan sosok yang bisa dikatakan sebagai orang di balik layar suksesnya Koperasi Ketiara adalah Rahmah, bagaimana kisahnya?

Berawal dari Kopi Gelondong

Perjuangan perempuan asal Takengon, Aceh Tengah ini berawal dari tahap paling bawah, yakni jual beli kopi gelondongan pada tahun 1989.

Sebagian menyebutnya kopi ceri, kopi gelondongan ini ada yang kemudian ditukar dengan sembako dan sebagainya.

Rahmah mulai naik kelas setelah 10 tahun berjibaku di usaha tersebut. Ia mulai menjual gabah atau kopi yang sudah dikupas dari kulitnya hingga green bean.

Kemudian Rahmah mulai ekspansi pasar ke luar Aceh, yakni Medan.

Dari sana ia mendapat banyak insight bisnis yang kemudian jadi cikal bakal berani ekspor ke luar negeri, termasuk Amerika serta berbagai negara di Eropa dan Asia.

Ia mendapat saran dari rekan bisnisnya di Medan agar mengikuti pameran SCAA di Amerika Serikat, supaya bisa melebarkan pangsa pasar ke tingkat global melalui ekspor.

Sambil bercerita, Rahmah sempat tertawa mengingat masa itu karena terpikir bagaimana mungkin bisa ke Amerika sedangkan ke Jakarta saja jarang.

Singkat cerita, setelah mendapat izin dari suami lalu urus paspor untuk lima tahun, secara perdana ia pun berangkat ke Seattle, Amerika untuk mengikuti pameran kopi pada 2015.

Sesampainya di sana, Rahmah mendapat pujian dari para buyer karena rasa kopi gayonya yang khas.

"Kopimu luar biasa Rahmah, kopimu rasa ganja. Ada buyer yang bilang begitu," kenangnya sambil tertawa.

Ia menjelaskan memang dulu nenek moyang di Aceh menanam ganja, namun sekarang tidak dibolehkan karena bisa berurusan dengan hukum.

Syukurnya, keberangkatan perdana ke Amerika itu membuahkan hasil. Ia mendapat buyer pertama dengan pembelian total 15 kontainer.

Seolah tak percaya , Rahmah berkali-kali mengucap syukur karena mendapat rezeki langsung usai mengikuti pameran tersebut di luar negeri.

Namun di sisi lain, Rahmah mulai kebingungan menyiapkan produk sebanyak itu untuk diekspor sebagaimana yang diminta para buyer.

"Pas dapat orderan 15 kontainer, malah mikir stres gak bisa tidur," katanya.

Saat itu kopi dengan ukuran ekspor untuk satu kontainer saja bernilai modal Rp 1,5 miliar.

Terlebih Rahmah dibebankan karena harus membelinya langsung dari petani secara cash, tidak boleh utang.

Masyarakat di Gayo kebanyakan mendapat penghasilan hanya dari kopi, baik itu digunakan untuk kebutuhan hidup, biaya sekolah  anak sekolah dan sebagainya.

Sehingga menurutnya hampir tidak mungkin bila diutangkan ke petani hanya untuk permintaan buyer dan memenuhi cita-citanya mengekspor kopi ke luar negeri.

"Kalau diutangkan, kasihan bisa-bisa berhenti makan (para petani) dan anak-anaknya berhenti sekolah," ungkap Rahmah.

Ia pun harus putar otak mencarikan jalan keluar dan solusi terbaik menghadapi kondisi tersebut.

Akhirnya berkat bantuan beberapa buyer, Rahmah direkomendasikan ke salah satu bank di luar negeri dengan bunga 9 persen.

Ia cukup kaget akan tawaran itu karena selama ini hanya kredit palingan di sekitar Rp 4 juta, namun kini mulai main miliaran rupiah dan di luar negeri pula.

"Pak, saya cuma punya rumah sama gudang produksi, mana cukup untuk agunan. Tapi ternyata bank di sana tanpa agunan, saya lebih kaget lagi," kenangnya.

Setelah kontrak ia tandatangani bersama buyer, uang pun cair dan Rahmah mulai bisa berbelanja kopi dari para petani untuk persiapan ekspor pertamanya ke luar negeri.

Baca juga: Khadafi, Anak Muda Asal Lhokseumawe Bos Bisatopup Beromzet Rp 20 Miliar Per Bulan, Begini Kisahnya

Pecah Telur untuk Ekspor Pertama

Berbagai aral terjal diterobos Rahmah, demi perjuangannya bisa ekspor perdana ke luar negeri.

Ia bercerita di awal, karena tidak menggunakan perusahaan atau PT, ia pun menggunakan sistem koperasi untuk mengurus bisnis tersebut hingga ekspor.

"Harus buat koperasi, menganggotakan petani, karyawan, termasuk izin ekspor, banyak itu," kenang Rahmah.

"Tidak segampang, ah aku mau ekspor aja. Karena kalau urus ini, harus ada ini lainnya, banyak. Namun saya tidak pernah menyerah, tetap bagaimana caranya harus bisa ekspor," tambahnya.

Rahmah bercerita di awal pernah sudah mengurus izin ekspor, namun akhirnya mati (expired) padahal belum sempat terpakai untuk ekspor.

Ada banyak syarat yang harus dipenuhinya seperti sertifikat organik produk kopi yang bakal diekspor dan lain sebagainya sebagaimana permintaan calon buyer di luar negeri.

Sambil jalan, Rahmah pun banyak belajar mengenai bisnis ekspor, menjaga dan mempertahankan kualitas produk kopi hingga menjaga kepercayaan serta memuaskan para buyer, baik di dalam maupun luar negeri.

Pecah telur, ia pun berhasil melakukan ekspor pertamanya dengan berbagai keterbatasan yang ada.

Seiring berjalannya waktu, Rahmah bersama anggota Koperasi Ketiara mulai merasakan buah manis dari kerja keras mereka.

Setiap tahun pihaknya kini sudah mengirim sekitar 65 kontainer, yang satu kontainernya mencapai senilai Rp 1,6 miliar.

Jika ditotal, berarti omzet yang didapat sekitar Rp 100 miliar per tahun atau rata-rata Rp 8,3 miliar per bulan di Koperasi Ketiara.

Baca juga: Kisah Firman, Co-Founder Startup Asal Aceh Raih Omzet Miliaran, Dulu Hampir Tewas Diterjang Tsunami

Menjaga Kopi Tak Terkontaminasi Pestisida

Rahmah bercerita, setiap tahunnya para buyer datang ke tempatnya di Bebesen, Takengon.

Kecuali pada masa pandemi Covid-19 dalam beberapa tahun terakhir, para buyer tidak bisa berkunjung langsung karena adanya lockdown di sejumlah negara.

Dulu saat masih dibolehkan berkunjungan, buyer bahkan sempat membantu pendanaan pembuatan jalan rabat beton untuk memudahkan para petani membawa hasil panennya.

"Mereka kasihan melihat langsung para petani menurunkan kopi dari atas gunung, buyer ikut bantu pendanaan buat jalan," ungkapnya.

Kebaikan para buyer sejak pertama ekspor dulu dan berangkat-berangkat ke luar negeri, Rahmah bersama suami pun membuatkan bangunan semacam guest house di sekitar tempat produksi kopi.

Tempat ini tidak diperuntukkan kepada umum, melainkan untuk para buyer yang datang dan diberikan secara gratis untuk bermalam atau menginap di sana.

"Karena saya selalu dilayani dengan baik saat ke luar negeri, diberi tempat gratis dan sebagainya. Makanya suami bilang, kita bangun saja sebagai ucapan terima kasih," ungkap Rahmah.

"Dan ini sudah tiga tahun mereka menikmati, gratis," tambahnya.

Dalam menjaga kualitas kopi, ia selalu menyosialisasikan ke desa-desa agar para petani kopi tetap menjaga tanaman berkafein itu supaya tidak terkontaminasi oleh bahan kimia.

Para petani tak henti-hentinya selalu disosialisasikan agar tidak menyemprot tanaman kopi dengan pestisida dan mempertahankan penggunaan pupuk organik.

Petani kopi khususnya yang tergabung di Koperasi Ketiara diminta untuk memetik kopi yang sudah merah, kemudian langsung digiling di sore harinya.

Setelah itu para petani diminta untuk memfermentasi kopi selama semalaman, lalu langsung menjemurnya serta berbagai proses yang dilewati secara ketat hingga sampai branding dan pengiriman ke para buyer.

"Kopi harus tidur satu malam, biar setelah bland dari desa-desa, bisa satu rasa. Itu salah satu rahasia sebenarnya di sini," kata Rahmah.

Langkah-langkah ini dilakukan secara rapi untuk menjaga kualitas kopi yang dihasilkan.

"Ini dilakukan agar mereka (para petani) sehat dan pembeli (buyer) juga sehat," tambahnya.

Baca juga: Kisah Jusuf Hamka, Bos Tol Senilai Rp 15,5 Triliun, Dulu Pernah Ngasong dan Ingin Jadi Tukang Parkir

Pihaknya di Koperasi Ketiara punya tugas masing-masing, seperti kepala gudang, bagian kualitas, bagian lab dan sebagainya, semua sudah komplet di sana untuk menjaga kualitas kopi yang diterima buyer.

Hingga kini, koperasi tersebut terus beroperasi menghidupi banyak petani kopi di dataran tinggi Gayo, dan menjadi penyambung usaha mereka untuk sampai kepada para buyer di luar negeri.

Dari yang dulunya kios-kios kecil, kini tempat produksi Koperasi Ketiara berdiri di tanah seluas sekitar 1 hektare di Takengon, Aceh Tengah.

Menghasilkan omzet Rp 100 miliar per tahun, kisah Rahmah bukanlah sesuatu yang instan.

Ia mengawali semuanya dari jual beli gelondongan kopi, sampai akhirnya ekspor ke sejumlah negara di belahan dunia.

Rahmah menjadi salah satu promotor penggerak perekonomian di tanah Gayo.

"Koperasi ini bukan milik Rahmah, tapi milik bersama," ucapnya dalam wawancara pagi jelang siang itu bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network dan Pemred Serambi Indonesia.

Semoga menginspirasi!

(Serambinews.com/Sara Masroni)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved