Breaking News:

Internasional

Perebutan Air Sungai Nil Berlanjut, Mesir Protes Pengisian Bendungan Raksasa Ethiopia ke DK PBB

Kasus perebutan air Sungai Nil di Afrika dan sebagian Timur Tengah terus berlanjut.

Editor: M Nur Pakar
AFP/Amanuel SILESHI
Kondisi bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Guba, Ethiopia yang mulai beroperasi pada Minggu (20/2/2022) 

SERAMBINEWS.COM, KAIRO - Kasus perebutan air Sungai Nil di Afrika dan sebagian Timur Tengah terus berlanjut.

Mesir telah memprotes ke Dewan Keamanan (DK) PBB pada Sabtu (30/7/2022).

Dimana, Ethiopia memiliki rencana mengisi waduk bendungan Nil yang kontroversial untuk tahun ketiga tanpa persetujuan dari negara-negara hilir.

Bendungan Raksasa Ethiopia bernilai miliaran dolar di Blue Nile akan menjadi skema pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika.

Tetapi telah menjadi pusat perselisihan dengan Mesir dan Sudan sejak pekerjaan dimulai pada tahun 2011.

Mesir telah menerima pesan dari Ethiopia pada 26 Juli 2022.

Baca juga: Mesir Cari Solusi Bendungan Raksasa Ethiopia, Minta Bantuan Utusan Khusus AS untuk Afrika

Pemerintah Ethiopia menyatakan akan terus mengisi reservoir Bendungan Renaissance selama musim banjir saat ini.

Sebagai tanggapan, Mesir menulis kepada DK PBB untuk mendaftarkan keberatannya dan penolakan penuh terhadap kelanjutan Ethiopia secara sepihak tanpa kesepakatan.

Mohamed Nasr Allam, mantan Menteri Irigasi Mesir kepada Arab News, Minggu (31/7/2022) mengatakan langkah Mesir berada di jalan yang benar.

“Kami telah beralih dari mengeluh menjadi menuntut agar Dewan Keamanan PBB berperan aktif dalam kasus ini," ujarnya.

Dia menegaskan hak sah Mesir untuk membela kepentingan nasionalnya.

"Saya melihat nada Ethiopia menjadi lebih kuat dari sebelumnya," tambahnya.

Baca juga: Ethiopia Mulai Hasilkan Energi Listrik Secara Kontroversial dari Bendungan Sungai Nil

Mohamed Mahmoud Mahran, seorang spesialis dalam sengketa sungai internasional dan anggota American Society of International Law, mengatakan DK PBB harus turun tangan.

Ditambahkan, jika melihat ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional akan menjadi konflik.

“Bendungan Renaissance mengancam kehidupan lebih dari 150 juta warga Sudan dan Mesir." jelasnya.

"Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dan Ethiopia bertindak secara sepihak, dan DK PBB tidak melakukan intervensi, itu dapat mengarah pada skenario yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Dia menegaskan memicu perang regional.(*)

Baca juga: Rusia Tawarkan Kerjasama untuk Mengakhiri Konflik Bendungan Raksasa Ethiopia

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved