Senin, 13 April 2026

Berita Jakarta

Prof Dien Madjid: Banyak Sejarah Gayo Belum Terungkap

Sejarawan Indonesia yang juga guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dien Madjid mengatakan, banyak sejarah Gayo

Editor: bakri
For Serambinews.com
Prof Dr M Dien Madjid 

JAKARTA - Sejarawan Indonesia yang juga guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dien Madjid mengatakan, banyak sejarah Gayo belum terungkap terutama bersumber dari pandangan atau keterangan lokal.

Selama ini sejarah Gayo ditulis menggunakan kacamata Belanda, berdasarkan bahan yang mereka tulis untuk kepentingan Belanda sendiri.

Kegusaran Prof Dien Majid itu disampaikan dalam forum Bincang Sejarah Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, membahas peran Gayo dalam melawan Belanda di Sumatera.

"Kebanyakan belum banyak diungkap.

Selama ini, kita berkecimpung dengan Van Daalen.

Tapi peristiwa-peristiwa sebelum 1904, belum diungkap.

Ada ruang kosong yang harus kita isi," kata Prof Dien Madjid.

Ia mengatakan, keterangan-keterangan tentang Gayo diambil dari tulisan yang diterbitkan Belanda, yang itu berdasarkan kacamata Eropa.

Tapi tidak ada yang ditulis berdasarkan kacamata Gayo.

Baca juga: Sejarawan Nasional Prof M Dien Madjid: Temuan Ceruk Mendale Ubah Penulisan Sejarah Gayo

Baca juga: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof M Dien Madjid, Islam Masuk ke Gayo via Jalur Peureulak

"Saat Belanda datang, pasti ada perlawanan dari Gayo, tidak mungkin diam saja.

Tapi Belanda tidak menulis perlawanan yang diberikan oleh Gayo tersebut," katanya.

Padahal menurut Prof Dien Madjid, perlawanan itu justru diberikan dengan sangat keras oleh orang Gayo.

"Pernah ada peristiwa dahsyat, pejuang Gayo sembunyi di bawah pohon-pohon, lewat Belanda, lalu ditebas satu per satu, hilang satu per satu," kata sejarawan kelahiran Takengon, 6 Juli 1949 itu.

Tapi kejadian ini tidak ditemukan di dalam publikasi Belanda, karenanya harus dicari ke sumber-sumber lokal Gayo sendiri.

Ia menyarankan, kalau tidak ada sumber-sumber tertulis, maka bisa bergerak ke sumber lisan, tutur-tutur lisan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved