Breaking News:

Berita Pidie

Kasus Pria Pukul Wanita di Tangse Dihentikan, Jaksa Selesaikan Secara Restorative Justice

Kasus penganiayaan yang terjadi di Gampong Pulo Mesjid I, Kecamatan Tangse itu diselesaikan secara restorative justice atau keadilan restoratif.

Penulis: Muhammad Nazar | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
Kacabjari Pidie di Kotabakti, Muhammad Kadhafi foto bersama setelah dilakukan restorative justice di Kantor Cabjari Pidie di Kotabakti, Kamis (25/8/2022). 

Laporan Muhammad Nazar I Pidie

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Kantor Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Pidie di Kotabakti menghentikan kasus penganiayaan sesama tetangga di Kantor Cabjari di Kotabakti, Kamis (25/8/2022).

Kasus penganiayaan yang terjadi di Gampong Pulo Mesjid I, Kecamatan Tangse itu diselesaikan secara restorative justice atau keadilan restoratif.

Dihentikan perkara itu dituangkan dalam Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Cabjari Pidie di Kotabakti Nomor: KEP 22/L.1.11.8/Eoh.2/08/2022 tanggal 24 Agustus 2022. 

"Kita telah menyerahkan surat ketetapan penghentian penuntutan dalam perkara penganiayaan kepada tersangka berinisial M," kata Kepala Cabjari Pidie di Kotabakti, Muhammad Kadhafi, SH, MH kepada Serambinews.com, Kamis (25/8/2022).

Ia menjelaskan, perkara yang dihentikan penuntutan berdasarkan keadilan restorative merupakan perkara tindak pidana penganiayaan dengan tersangka laki-laki berinisial M (33), warga Gampong Pulo Mesjid I, Kecamatan Tangse, Pidie.

Menurut M Kadhafi, motif penganiayaan itu dilakukan M terhadap korban wanita berinisia K, warga gampong yang sama.

Baca juga: VIDEO Selesaikan 18 Perkara Tingkat Gampong, Kejari Aceh Barat Launching Rumah Restorative Justice

Diduga pemukulan itu terjadi akibat emosi pelaku yang berlebihan saat M mendengar informasi bahwa K memberitahukan kepada warga bahwa dia bisa mengurus kartu vaksin Covid-19 tanpa perlu divaksin.

"Pelaku emosi mendengar korban memberitahukan warga bahwa dirinya bisa mengurus kartu vaksin Covid-19 tanpa harus divaksin. Dasar informasi itu terjadi penganiayaan," papar M Kadhafi.

Menurutnya, atas perbuatan itu, M disangkakan telah melanggar Pasal 351 ayat (1) Juntho Pasal 353 ayat (1) KUHPidana. 

Ia menyebutkan, syarat diberikan restorative justice adalah tersangka belum pernah dihukum.

Lalu, tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana dan ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 tahun.

"Proses perdamaian dengan tersangka minta maaf dan korban telah memaafkannya. M berjanji tak akan mengulangi perbuatannya," ujar Kacabjari.

Baca juga: VIDEO - Viral, Seorang Pria Pukul Wanita Saat Cekcok di Jalan, Berselisih Paham Karena Kecelakaan

Ia menambahkan, Cabjari Pidie di Kotabakti menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2).

Seperti diketahui, keadilan restoratif dilakukan sesuai Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan berdasarkan keadilan restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.

"Saya berharap kedua pihak menjalin silaturrahmi yang telah lama terputus, mengingat keduanya hidup bertetangga," pungkasnya.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved