Berita Aceh Tamiang

Kerap Banjir hingga Sebabkan Gagal Panen, Warga di Pesisir Tamiang Enggan Bersawah

“Bukan untung yang didapat, perhiasan istri sampai terjual untuk modal tanam, tapi gagal terus,” ungkapnya.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Nurul Hayati
Dok: Warga
Warga Rantaupakam, Aceh Tamiang saat bergotong-royong menambal tanggul rusak menggunakan karung tanah saat banjir sebulan lalu. 

“Bukan untung yang didapat, perhiasan istri sampai terjual untuk modal tanam, tapi gagal terus,” ungkapnya.

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Sebagian besar masyarakat pesisir Aceh Tamiang enggan menggarap sawah, karena takut tanamannya kembali rusak diterjang banjir.

Pembangunan talud di salah satu bibir sungai yang sedang berlangsung, belum menumbuhkan optimisme masyarakat.

Keengganan ini dampak dari gagal panen yang dialami petani secara beruntun, dalam dua tahun terakhir. 

Kegagalan ini disebabkan jebolnya sheet pile di Kampung Telukhalban dan tanggul di Kampung Rantaupakam dalam banjir besar tahun 2020. 

Kedua kampung ini berdekatan dan sama-sama berada di dekat sungai.

“Dua tahun sudah kami mengalami gagal panen, artinya ada yang merasakan empat dan tiga kali gagal panen,” kata Mujiburrahman (53), petani yang memiliki lahan di Cintaraja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Selasa (6/9/2022).

Kerusakan sheet pile dan tanggul menyebabkan luapan air sungai tidak terbendung.

Genangan air secara berkala merendam permukiman di Kecamatan Bendahara, termasuk areal persawahan.

Baca juga: Kapolres Aceh Selatan Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir

Mujib mengungkapkan kerugian ini tidak hanya mengenai materi, namun juga mental. 

Sebab, dia bersama warga lainnya menaruh harapan besar atas hasil panen padi. 

“Bukan untung yang didapat, perhiasan istri sampai terjual untuk modal tanam, tapi gagal terus,” ungkapnya.

Saat ini kata dia, masyarakat masih menunggu dampak pembangunan talud di Telukhalban.

Tidak sedikit masyarakat meragukan fungsi talud itu, karena titik kerusakan juga terjadi di Rantaupakam.

“Maksudnya kalau mau diperbaiki yang sekaligus, kalau cuma satu, tetap saja air sungai masuk,” ungkapnya.

Dia berharap, pembenahan daerah aliran sungai dilakukan serius dengan memerhatikan aspek kebutuhan masyarakat.

Baca juga: VIDEO Banjir 50 Cm Genangi Badan Jalan Nasional di Lamno Aceh Jaya

 “Ini menyangkut hidup kami, biaya sekolah, biaya makan ya kami gantungkan dari sawah,” ujarnya.

Diketahui masyarakat Kampung Rantaupakam, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang sempat bergotong-royong mendirikan tanggul darurat untuk menghalau banjir kiriman pada Senin (22/8/2022) lalu. 

Gotong-royong ini dilakukan warga, dengan menambal tanggul lama yang sudah rusak menggunakan karung berisi tanah.

Datok Penghulu Kampung Rantaupakam, Ruslan mengatakan, gotong royong menambal tanggul rusak ini merupakan hasil musyawarah kampung. 

Kebetulan, kata dia, BPBD Aceh Tamiang bersedia menyuplai 3 ribu kantung goni.

Dalam musyawarah itu disepakati, satu kepala keluarga dibebani 10 karung untuk diisi tanah. 

Dia mengatakan, perbaikan tanggul di daerah itu dilakukan bertahap, yakni perbaikan Telukhalban dilakukan tahun ini, sedangkan Rantaupakam tahun depan. (*)

Baca juga: Pemerintah Aceh Salur Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh Selatan

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved