Breaking News:

Internasional

Tiga Negara Kuat Eropa Tuduh Iran Meningkatkan Program Nuklir, Abaikan Kesepakatan 2015

Tiga negara kuat Uni Eropa, Prancis, Jerman dan Inggris mendesak Iran menyetujui peluncuran kembali kesepakatan 2015 yang membatasi program nuklirnya.

Editor: M Nur Pakar
AFP/File
Tim inspeksi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memeriksa kondisi instalasi nuklir Iran 

SERAMBINEWS.COM, FRANKFURT - Tiga negara kuat Uni Eropa, Prancis, Jerman dan Inggris mendesak Iran menyetujui peluncuran kembali kesepakatan 2015 yang membatasi program nuklirnya.

Ketiganya mengatakan teks akhir dari sebuah kesepakatan telah disiapkan.

Tetapi Iran telah memilih tidak memanfaatkan kesempatan diplomatik kritis ini.

Dilansir AFP, Minggu (11/9/2022), tiga pemerintah Eropa itu mengatakan Iran malahan mengangkat masalah terpisah dengan terus meningkatkan program nuklir, jauh melampaui pembenaran sipil yang masuk akal.

Teheran juga telah membuka kembali masalah-masalah yang terkait dengan kewajibannya yang mengikat secara hukum di bawah Perjanjian Non-Proliferasi yang disepakati dengan pengawas energi atom PBB IAEA.

Pernyataan itu muncul di tengah upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan.

Baca juga: PBB Menduga Iran Mampu Memproduksi Senjata Nuklir Hanya Dalam Waktu Tiga Minggu

Dengan imbalan melonggarkan sanksi terhadap Iran.

Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian pada tahun 2018 di bawah Presiden Donald Trump saat itu.

Bahkan, menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, mendorong Teheran untuk mulai mundur dari ketentuan kesepakatan.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan pernyataan bersama ketiga negara itu tidak konstruktif dan disesalkan.

"Mengejutkan dan disesalkan, dalam situasi di mana interaksi diplomatik dan pertukaran pesan terus berlanjut untuk menyelesaikan negosiasi, Eropa mengeluarkan pernyataan tidak konstruktif," kata juru bicara kementerian luar negeri Iran Nasser Kanani.

Baca juga: Presiden Korsel Tegaskan Tidak Akan Mencari Penangkal Nuklir, Utamakan Diplomasi Dengan Korea Utara

“Ketiga negara Eropa disarankan untuk lebih berperan aktif memberikan solusi untuk mengakhiri beberapa perselisihan yang tersisa daripada memasuki fase menghancurkan proses diplomatik,” tambah Kanani.

Kanani mengatakan disesalkan karena tiga negara Eropa itu telah mengambil langkah di jalan rezim Zionis untuk mengalahkan negosiasi dengan pernyataan yang dianggap buruk ini.

Hal itu mengacu pada Israel, musuh bebuyutan republik Islam iran dan penentang keras negara itu.

“Jika pendekatan seperti itu berlanjut, mereka juga harus menerima tanggung jawab atas hasilnya,” katanya.

Badan pengawas atom PBB mengatakan Iran telah meningkatkan lebih lanjut persediaan uranium yang sangat diperkaya menjadi satu langkah pendek dan teknis dari tingkat tingkat senjata nuklir.

Iran pekan lalu mengirim tanggapan tertulis dalam negosiasi atas rancangan akhir peta jalan bagi para pihak untuk kembali ke kesepakatan nuklir yang compang-camping.

Meskipun AS meragukan tawaran Teheran.(*)

Baca juga: Ada yang Minat Investasi Bahan Baku Nuklir di Indonesia, Potensi Thorium Kita Capai Ratusan Ribu Ton

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved