Breaking News:

Berita Aceh Tenggara

Masih Ingat Ustadz yang Rudapaksa Santrinya di Aceh Tenggara? MS Kutacane Hukum 163 Bulan Penjara

Majelis Hakim MS Kutacane juga menetapkan biaya restitusi yang harus dibayarkan terdakwa SA kepada korban sebanyak 52 Gram Emas Murni.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Taufik Hidayat
For Serambinews.com
Tersangka SA, mantan Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara juga seorang ustadz yang tega merudapaksa santrinya yang masih berusia 16 tahun. 

Masih Ingat Ustadz yang Rudapaksa Santrinya di Aceh Tenggara? MS Kutacane Hukum 163 Bulan Penjara

SERAMBINEWS.COM, KUTACANE – Masih ingat dengan SA (37), mantan Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara juga seorang ustadz yang tega me rudapaksa santrinya yang masih berusia 16 tahun.

Mahkamah Syar’iyah Kutacane menyatakan SA bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama 163 bulan.

Hal itu diketahui berdasarkan Direktori Putusan Mahkamah Syar’iyah Kutacane Nomor 4/JN/2022/MS.KC yang diunggah pada 14 September 2022.

Persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Muhammad Nawawi SHI MH serta Hakim Anggota Ahmad Arif Daniel SHI Mag dan Ibnu Mujahid SH menyatakan terdakwa SA telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan “Jarimah pemerkosaan terhadap anak” sebagai mana dalam Dakwaan Primer Penuntut Umum.

Baca juga: Ayah di Aceh Selatan Rudapaksa Anak Gadisnya Berkali-kali, Pernah di Bulan Puasa Saat Rumah Sepi

“Menjatuhkan ‘Uqubat kepada Terdakwa oleh karena itu dengan ‘Uqubat Ta’zir Penjara selama 163 bulan,” bunyi putusan itu yang dibacakan pada Jumat (9/9/2022).

Majelis Hakim juga menetapkan biaya restitusi yang harus dibayarkan terdakwa SA kepada korban sebanyak 52 Gram Emas Murni.

Kronologi Kejadian

Peristiwa bejat ini berawal pada Agustus 2021 ketika korban pertama kali di panggil terdakwa SA untuk datang ke rumahnya yang berada di area Pondok Pesanteren dalam satu kecamatan di Aceh Tenggara.

Tedakwa meminta korban untuk memijatnya yang saat itu sedang sakit.

Mendapat perintah dari terdakwa yang merupakan ustadznya, korban langsung melakukannya.

Pada saat korban sedang memijat, badan terdakwa tiba-tiba berbalik dan membuat korban kaget.

Terdakwa langsung menarik tangan korban M dan mengatakan “teriak aku ni ustad”.

Kemudian terdakwa langsung melakukan aksi kebajatan tersebut meski korban sudah meronta-ronta dan terdakwa menutup mulut korban dengan tanganya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved