Breaking News:

Pencari Suaka

Enam Korban Tewas di Laut Aegea, Uni Eropa Minta Yunani Selidiki Pelanggaran terhadap Pencari Suaka

Setiap anggota UE harus memastikan bahwa para imigran yang dalam kesulitan di laut dibawa ke tempat yang aman secepat mungkin.

Editor: Taufik Hidayat
File Anadolu Agency
Pasukan Yunani mendorong paksa para migran kembali ke teritorial Turki. 

SERAMBINEWS.COM, BRUSSELS – Pada Selasa (13/9/2022), Pasukan Penjaga Pantai Turki menemukan mayat enam migran gelap - dua bayi, tiga anak-anak, dan seorang wanita - saat menyelamatkan 73 migran dari empat perahu bot kecil di Laut Aegea di lepas pantai Turki.

Uni Eropa pun mendesak Pemerintah Yunani menyelidiki tuduhan penolakan pencari suaka di tengah laut oleh pasukan Yunani, termasuk laporan tentang insiden yang menyebabkan kematian lima anak pencari suaka.

Para migran yang diselamatkan mengatakan kepada para pejabat bahwa mereka telah didorong kembali ke perairan teritorial Turki oleh pasukan Yunani.

“Kami menyesali insiden yang merenggut nyawa dan mengingatkan pentingnya memastikan semua tindakan diambil untuk mencegah tragedi seperti itu, seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh Turki,” ungkap Anitta Hipper, juru bicara Komisi Eropa untuk urusan internal, Kamis (15/9/2022).

Badan eksekutif Uni Eropa (UE) “mengharapkan otoritas nasional ( Yunani) untuk menyelidiki tuduhan apa pun, dengan maksud untuk menetapkan fakta dan menindaklanjuti dengan benar segala kemungkinan kesalahan”.

Hipper juga menegaskan bahwa Komisi Eropa berulang kali menyerukan kepada anggota UE "untuk mematuhi undang-undang yang relevan untuk memastikan bahwa mereka yang dalam kesulitan di laut dibawa ke tempat yang aman secepat mungkin."

Sejak 2015, kelompok hak asasi manusia dan media terkemuka sering melaporkan tindakan penolakan ilegal dan pelanggaran HAM lainnya dari otoritas Yunani, serta keterlibatan Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex) dalam tindakan ini yang melanggar hukum UE dan internasional.

Ankara telah berulang kali mengutuk praktik tersebut sebagai tindakan ilegal dan tidak manusiawi.

​​​Turki telah menjadi titik transit utama bagi pencari suaka yang ingin menyeberang ke Eropa untuk memulai kehidupan baru, terutama mereka yang melarikan diri dari wilayah perang dan penganiayaan.(AnadoluAgency)

Baca juga: Pemimpin Hizbullah Kutuk Perpanjangan Mandat Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved