Temuan Komnas HAM Soal Kasus Mutilasi di Mimika, Libatkan 6 Prajurit TNI AD, Terkait Bisnis Solar

Kasus pembunuhan disertai mutilasi tersebut diketahui terjadi pada 22 Agustus 2022 di Distrik Mimika Baru Kabupaten Mimika, Papua.

Editor: Faisal Zamzami
AFP/SEVIANTO PAKIDING
Seorang tersangka yang merupakan anggota TNI mengarahkan senjatanya dalam rekonstruksi kasus pembunuhan disertai mutilasi di Kampung Pigapu, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua, Sabtu (3/9/2022). Tersangka beserta lima anggota TNI lainnya disangkakan telah membunuh empat orang warga Papua dan memutilasi tubuh mereka pada minggu lalu. 

Kemudian, kata dia, Komnas HAM juga mendapat keterangan terkait komunikasi antara pelaku setelah peristiwa dan juga adanya berbagai upaya obstruction of justice.

"Jadi ini ada upaya juga untuk menghilangkan barang bukti dan sebagainya," kata dia.

Baca juga: 6 Prajurit TNI AD Jadi Tersangka Mutilasi 4 Warga Sipil di Papua, Korban Dipancing Beli Senjata

4. Pembagian uang

Komnas HAM pun mengungkap adanya pembagian uang hasil tindak kejahatan dalam kasus pembunuhan dan mutilasi tersebut.

"(Adanya informasi) pembagian uang bagi para pelaku dari hasil tindakan kejahatan yang dilakukan," kata Beka Ulung Hapsara.

Komnas HAM pun mendapatkan keterangan mengenai peranan masing-masing pelaku, pelaku yang menginisiasi tindakan tertentu, dan penentuan lokasi.

"Pelaku sipil juga mendapatkan informasi bahwa Roy Marthen Howai bukan aktor utama dalam peristiwa tersebut," kata dia.

5. Terkait Bisnis Solar

Komisioner Komnas HAM M Choirul Anam mengatakan hubungan pelaku sipil dan pelaku anggota TNI merupakan rekan bisnis.

"Berdasarkan tinjauan lokasi terdapat drum untuk penampungan solar dan grup Whats App terkait bisnis solar tersebut," kata Anam.

Anam pun menunjukkan foto lokasi yang disebut Mako oleh para pelaku.

Lokasi Mako tersebut diketahui merupakan bengkel las dan penampungan solar di Nawaripi milik seorang pelaku.

Dari drum-drum tersebut, kata dia, tercium aroma solar dari sisa solar.

"Ini di tempat ini terdapat (drum) jumlahnya 23 biji. Belum lagi ada satu tempat di sini yang sangat besar. Masing-masing drum ini bisa memuat sekitar 1.000 liter. Jadi kalau ada 23, sekitar 23 ribu liter, ditambah satu yang gede sekali itu sekira 5 ribu, sehingga 28 ribu solar," kata Anam.

Anam menjelaskan lokasi tersebut dekat juga dengan pelabuhan dengan kapal-kapal laut yang membutuhkan solar.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved