Breaking News:

Internasional

Keluarga Mahsa Amini Tuduh Polisi Moral Iran Lakukan Penyiksaan dan Pelecehan

Mahsa Amini, wanita berusia 22 tahun yang kematiannya dalam tahanan polisi moral Iran telah memicu protes nasional di Iran.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Para demonstran membawa poster dan potret Mahsa Amini yang meninggal di tangan polisi moral Iran di Teheran. 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Mahsa Amini, wanita berusia 22 tahun yang kematiannya dalam tahanan polisi moral Iran telah memicu protes nasional di Iran.

Dilaporkan, Amini menghadapi penyiksaan dan pelecehan psikologis sebelum meninggal, kata sepupunya kepada Sky News dalam sebuah wawancara eksklusif pada Senin (26/9/2022).

Erfan Mortezaei, seorang aktivis politik dan pejuang Kurdi yang berbasis di Irak, mengatakan kepada Sky News, Amini telah menjadi suara kemarahan rakyat Iran.

Dia mendesak masyarakat internasional untuk menanggapi dengan tepat rezim di Teheran.

Menjelang kematiannya pada 16 September 2022, Amini berbelanja di Teheran bersama keluarga.

Mortezaei mengatakan konfrontasi terjadi dengan polisi moral setempat ketika melihat Mahsa dan yang lainnya jilbabnya tidak benar.

Baca juga: Iran Serang Pangkalan Militan Kurdi di Irak dan Tangkap Kelompok Separatis, Pemicu Demonstrasi

Ashkan, saudara Amini mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa mereka tidak berada di kota asal mereka, dan orang asing di Teheran.

Jadi, dia meminta untuk mempertimbangkan dan memohon untuk tidak dibawa pergi dan ditahan.

“Dalam perjuangan, petugas polisi menyemprotkan merica ke wajah Ashkan dan memaksa Mahsa masuk ke dalam van dan membawanya ke kantor polisi moral," ujarnya.

Dia menambahkan: "Selama perjalanan ke kantor polisi, dia disiksa dan dihina."

Mortezaei mengatakan korban fisik dari penyiksaan yang ditimbulkan selama perjalanan menyebabkan Amini kehilangan penglihatannya dan pingsan.

Bahkan, ambulans membutuhkan waktu 90 menit untuk membawanya ke rumah sakit setempat.

Baca juga: Protes Kematian Wanita Muda, Dua Pria Lempar Bom Molotov ke Kedutaan Besar Iran di Athena

“Ada laporan dari rumah sakit Kasra yang mengatakan secara efektif pada saat dia sampai di rumah sakit sudah meninggal dari sudut pandang medis," jelasnya.

"Dia mengalami gegar otak akibat pukulan di kepala,” tambahnya.

Mortezaei mengatakan keluarganya telah ditekan oleh pejabat rezim untuk tampil di TV pemerintah untuk menyangkal klaim tentang penyiksaan dan pelecehan.

Tetapi langkah-langkah rezim untuk mengurangi kemarahan publik gagal, dengan kematian Mahsa menjadi pemicu gerakan protes ini di Iran dan Kurdistan.

Presiden Ebrahim Raisi mengatakan Iran harus menangani dengan tegas mereka yang menentang keamanan dan ketenangan negara.

Kepala polisi Iran, Hossein Ashtari juga mengirimkan pesan peringatan publik terhadap demonstrasi.(*)

Baca juga: Amnesty International Desak PBB Selidiki Tindakan Keras Pasukan Keamanan Iran ke Demonstran

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved