Opini
Merdeka Belajar, Mungkinkah Terwujud?
Jika dunia pendidikan masih dipenuhi dengan berbagai kepentingan, maka mimpi rasanya bisa mewujudkan merdeka belajar bagi peserta didik kita
OLEH Dr SRI RAHMI MA, Dosen UIN Ar Raniry, Ketua Asosiasi Prodi Manajemen Pendidikan Islam se-Indonesia
SEJAK merdeka belajar diluncurkan Menteri Nadiem Makarim, lembaga pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi terus berbenah.
Mulai dari merevisi kurikulum yang ada, sampai pada penyiapan sumber daya manusia seperti guru dan dosen agar siap menyukseskan merdeka belajar yang bebas dari berbagai tekanan kepentingan.
Karena pada prinsipnya, jika dunia pendidikan masih dipenuhi dengan berbagai kepentingan, maka mimpi rasanya bisa mewujudkan merdeka belajar bagi peserta didik kita.
Hakikatnya, kemerdekaan yang hakiki dalam dunia pendidikan akan mudah kita raih jika pemerintah membebaskan dunia pendidikan dari berbagai kepentingan apalagi kepentingan yang bernuansa politik.
Menjauhkan intervensi-intervensi yang dapat melemahkan posisi lembaga pendidikan menjadi sebuah keniscayaan.
Biarkan saja lembaga pendidikan menjadi tempat yang paling bersih dan bebas kepentingan apa pun sehingga lembaga pendidikan benar-benar mampu menjadi wadah pencetak generasi penerus bangsa.
Jangan jadikan lembaga pendidikan sebagai sarana untuk menitipkan berbagai kepentingan.
Miris rasanya jika melihat lembaga pendidikan yang diintervensi oleh “oknum” yang tidak bertanggungjawab, mulai dari penerimaan peserta didik baru, proses belajar mengajar, sampai saat peserta didik menyelesaikan pendidikannya tidak luput dari tekanan, yang jelas-jelas tidak membuat merdeka pengelola lembaga pendidikan.
Baca juga: SMA Plus Al-Athiyah Latih Guru Terkait Kurikulum Merdeka Belajar
Baca juga: PNL Gandeng Perusahaan Ima Montaz Sejahtera untuk Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka
Lalu, jika pengelola tertekan, mangkinkah dia bisa mengelola merdeka belajar bagi peserta didiknya? Filosofinya, merdeka belajar harus fokus pada asas kemerdekaan dalam menerapkan materi yang esensial dan fleksibel sesuai dengan minat, kebutuhan, dan karakteristik dari peserta didik, serta larangan adanya paksaan kepada peserta didik karena akan mematikan jiwa merdeka serta kreativitas yang ada pada mereka.
Namun, untuk mewujudkan ini semua, banyak komponen yang harus dimerdekakan terlebih dahulu agar merdeka belajar bisa terlaksana sesuai dengan harapan.
Jika ingin bicara kesuksesan sebuah pendidikan, maka tidak dapat dipisahkan dari peran penting seluruh elemen yang ada dalam lingkungan pendidikan.
Merdeka belajar merupakan kebijakan yang bertujuan memberikan kemerdekaan dalam berpikir bagi para guru dan peserta didik tanpa dibebani oleh sistem rangking/nilai.
Dalam program ini, guru didorong mengubah sistem pembelajarannya, sehingga suasana belajar menjadi nyaman karena hakikatnya belajar dapat dilakukan di mana saja termasuk di luar kelas (outing class).
Jika sebagian orang menganggap bahwa perangkingan/ nilai merupakan tolak ukur keberhasilan sebuah pembelajaran, maka terpikirkah oleh kita bagaimana dengan peserta didik yang merasa minder dan berujung pada frustrasi karena tidak mampu mencapai rangking/nilai yang diharapkan? Siapa akan bertanggungjawab terhadap mental anak yang terlanjur frustrasi? Padahal, ada banyak cara dapat dilakukan untuk mengapresiasi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih di atas temannya tanpa perlu diukur dengan nilai, karena pada dasarnya nilai masih bisa dimanipulasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sri-rahmi_ketua-ppmpi-indonesia.jpg)