Breaking News:

Berita Banda Aceh

Pemasaran Susu Formula Tidak Terkontrol, ASI Eksklusif Terancam Turun

“Jika pemasaran sufor tidak terkontrol, maka pemberian ASI eksklusif terancam menurun,” kata dr Natassya pada talkshow dengan tema “Benarkah Dokter da

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Mursal Ismail
Dokumen Serambi FM
Dokter Aslinar, Sp.A, M. Biomed (Ketua Aceh Peduli ASI), Safnita Hamzah, S.ST., M.Kes (Ikatan Bidan Indonesia, Aceh) dan dr Natassya Phebe (Nutrition Officer Unicef Aceh) menjadi narasumber talkshow Unicef bersama Flower Aceh, APA, dan IBI Aceh dengan tema “Benarkah Dokter dan Bidan Terlibat Pemasaran Susu Formula?" di Radio Serambi FM 90.2, Selasa (4/10/2022). Talkshow dipandu Yarmen Dinamika. 

“Jika pemasaran sufor tidak terkontrol, maka pemberian ASI eksklusif terancam menurun,” kata dr Natassya pada talkshow dengan tema “Benarkah Dokter dan Bidan Terlibat Pemasaran Susu Formula?" di Radio Serambi FM 90.20, Selasa (4/10/2022) petang. 

Laporan Yarmen Dinamika | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Nutrition Officer Unicef Perwakilan Aceh, dr  Natassya Phebe, mengatakan promosi dan pemasaran susu formula (sufor) di Indonesia sudah ada regulasinya.

Regulasi itu dikeluarkan dengan maksud jangan sampai pemberian sufor justru menghambat pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif.

“Jika pemasaran sufor tidak terkontrol, maka pemberian ASI eksklusif terancam menurun,” kata dr Natassya pada talkshow dengan tema “Benarkah Dokter dan Bidan Terlibat Pemasaran Susu Formula?" di Radio Serambi FM 90.20, Selasa (4/10/2022) petang. 

Selain dr Natassya Phebe, talkshow itu juga menghadirkan dr Aslinar SpA, M.Biomed selaku Ketua Aceh Peduli ASI(APA) dan Safnita Hamzah, SST, MKes dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Aceh .

Talkshow yang dipandu Wartawan Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, itu terselenggara atas kerja sama Unicef Perwakilan Aceh dan Flower Aceh sebagai mitra pelaksana, APA, dan IBI Aceh.

Baca juga: Cakupan ASI Eksklusif di Aceh Masih di Bawah Target Nasional, AIMI Aceh Minta Dukungan Lintas Sektor

Dokter Tasya mengatakan, pihak produsen, termasuk tenaga medis, organisasi profesi medis, dan fasilitas kesehatan (klinik atau rumah sakit) dilarang mempromosikan dan memberikan sufor yang dapat menghambat pemberian ASI.

Ia menyebutkan sejumlah regulasi yang melarang pemberian sufor yang dapat menghambat pemberian ASI eksklusif.

Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif

Selain itu, ada lagi Permenkes Nomor 15 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif  Bagi Nakes, Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Penyelenggara Satuan Pendidikan Kesehatan, Pengurus Organisasi Profesi di Bidang Kesehatan, serta Produsen dan Distributor Susu Formula Bayi dan/atau Produk Bayi Lainnya yang Dapat Menghambat Keberhasilan Program Pemberian ASI Ekskusif.

Dokter Tasya juga mengatakan, pelaksanaan ketentuan tersebut sebenarnya sudah tercantum pada Pasal 128 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang isinya 'Setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 bulan, kecuali atas indikasi medis'.

Baca juga: ASI Berisi Semua Zat yang Dibutuhkan Bayi, Tak Tergantikan oleh Susu Formula

“Nah, regulasinya sebetulnya sudah lama ada. Tapi mungkin ada pihak yang belum tahu, lalu melanggarnya atau sengaja melanggarnya.

Pemasaran sufor sebetulnya tidak dilarang, tapi bagaimana mempromosikannya dengan cara yang tepat agar ibu hamil atau ibu menyusui tidak jadi korban,” ujarnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved