Jumat, 8 Mei 2026

Internasional

Jenderal Baru Rusia Untuk Perang Ukraina Dikenal Brutal, Akan Paksa Kiev Menyerah

Seorang jenderal yang menjalankan strategi militer baru Presiden Vladimir Putin di Ukraina memiliki reputasi brutal.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Jenderal Sergei Surovikin 

SERAMBINEWS.COM, MOSKOW - Seorang jenderal yang menjalankan strategi militer baru Presiden Vladimir Putin di Ukraina memiliki reputasi brutal.

Dia telah membom warga sipil dalam kampanye Rusia di Suriah.

Bahkan, berperan dalam kematian tiga demonstran di Moskow selama kudeta yang gagal terhadap Mikhail Gorbachev pada tahun 1991 yang mempercepat runtuhnya Uni Soviet.

Botak dan tampak garang, Jenderal Sergei Surovikin ditugaskan untuk memimpin pasukan Rusia di Ukraina sejak 8 Oktober 2022.

Setelah invasi Rusia goyah dengan sejumlah kemunduran yang kacau dan kemunduran lainnya selama hampir delapan bulan perang.

Putin menempatkan pria karier militer berusia 56 tahun itu sebagai komandan menyusul pemboman truk yang tampak jelas di jembatan strategis ke Semenanjung Krimea.

Serangan itu telah mempermalukan Kremlin dan menciptakan masalah logistik bagi pasukan Rusia.

Rusia menanggapi dengan rentetan serangan di seluruh Ukraina, yang menurut Putin ditujukan untuk merobohkan infrastruktur energi dan pusat komando militer Ukraina.

Serangan itu terus berlanjut setiap hari, menghantam pembangkit listrik dan fasilitas lainnya dengan rudal jelajah dan gelombang drone buatan Iran.

Baca juga: Presiden Rusia Minta Drone Canggih Arash 2, Iran Menolak Dengan Alasan Teknis

Surovikin juga mempertahankan pekerjaannya sebagai kepala Angkatan Udara, sebuah posisi yang dapat membantu mengkoordinasikan serangan udara dengan operasi lain.

Dilansir AFP, Jumat (21/10/2022), selama pemboman terbaru di Ukraina, beberapa blogger perang Rusia membawa pernyataan yang dikaitkan dengan Surovikin.

Pria itu mengisyaratkan niatnya untuk mengejar serangan dengan kekuatan tak henti-hentinya dalam upaya memukul pemerintah Kiev agar tunduk.

"Saya tidak ingin mengorbankan nyawa tentara Rusia dalam perang gerilya melawan gerombolan fanatik yang dipersenjatai oleh NATO," para blogger mengutip pernyataannya.

“Kami memiliki sarana teknis yang cukup untuk memaksa Ukraina menyerah," tambahnya.

Sedangkan kebenaran pernyataan itu tidak dapat dikonfirmasi, tampaknya mencerminkan pendekatan keras yang sama yang diambil Surovikin di Suriah.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved