Berita Bireuen
Peringatan Hari Santri Nasional, Ini Pesan Abu Mudi Samalanga
Menurut Mustasyar PBNU ini, dalam momentum HSN ini, para santri harus mampu menjawab tantangan zaman dan bagian dari revolusi jihad ala santri zaman n
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Mursal Ismail
Pendiri kampus IAI Al-Aziziyah Samalanga itu mengatakan kaum santri harus bersiap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Menurutnya di antara tantangan bagi santri di masa depan adalah bagaimana para santri dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Khususnya kemajuan teknologi dan digitalisasi yang tak terbendung.
Mudir LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga ini menambahkan para santri perlu
hadir dengan ide-ide cerdas dan dakwah-dakwah solutifnya menghadapi
kompleksitas problematika umat dan bangsa.
Karena itu santri pun diharapkan terus memperkuat kompetensinya di berbagai bidang termasuk
dunia pendidikan itu sendiri.
Baca juga: Refleksi Hari Santri Nasional Ke-6, Santri Siaga Jiwa Raga
"Aspek atau kompetensi yang perlu diperkuat oleh santri dalam
menghadapi tantangan masa depan, di antaranya penguatan kompetensi
keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan digitalisasi dakwah dan
memaksimalkan medsos dengan konten-konten positif. Terus lantang
menyuarakan dakwah Islam rahmatan lil alamin,” ungkapnya
Abu MUDI menyebutkan kaum santri di era digital ini harus terus
melakukan perbaikan, melakukan transformasi dan terus melakukan
perubahan dan inovasi tiada henti.
Penguatan spiritual menjadi aspek
utama dan prioritas yang harus diperkuat, karena santri yang taat
dapat membangun bangsa yang kuat.
“Intinya perubahan itu harus dihadirkan tanpa meninggalkan tradisi
lama yang telah dilakukan atau singkatnya sejalan dengan ungkapan
“Al-Muhafadlatu ‘Ala Qadimis Sholih Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah“
(Mempertahankan Tradisi Lama Yang Masih Efektif Dan Mengambil Inovasi
Baru Yang Lebih Baik),” pintanya.
Abu MUDI juga menyebutkan santri identik dengan lingkungan agamis,
maka kehidupan adalah karakter yang melekat pada santri dengan jiwa
yang religius, sikap sosial yang akomodatif adalah bagian dari
karakteristik lingkungan.
Abu menambahkan namun secara individu sosok
santri juga memiliki keunikan yang berbeda-beda, dampak dari
dialektika faktor intrinsic dan ekstrinsik. Santri itu ada karakter
tersendiri yang khas dan unik, diantaranya; Theocentric.
"Theocentric disini adalah sebuah nilai dalam karakter diri santri
yang didasarkan pada pandangan yang menyatakan bahwa sesuatu kejadian
berasal, berproses, dan kembali kepada kebenaran Allah Swt.
Semua aktivitas pendidikan dipandang sebagai ibadah kepada Allah Swt, dan
merupakan bagian integral dari totalitas kehidupan keagamaan," ungkap
sang pendiri Pengajian dan Zikir Tastafi (MPZT). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Abu-Mudi-peringati-HSN.jpg)