Kupi Beungoh
Refleksi Hari Santri Nasional Ke-6, Santri Siaga Jiwa Raga
Santri harus benar-benar menjadi pendakwah yang baik. Bukan menjadi pendakwah penghardik.
Oleh Muhammad Syarif, SHI,M.H*)
PONDASI Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) pertama kali di cetuskan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, Keputusan ini menjadi tonggak sejarah pengakuan negara atas peran santri dan kiyai (tokoh agama), Deklarasi HSN di Masjid Istiqlal jakarta menjadi sejarah kebangkitan santri nusantara.
Tentunya santri patut memberikan apresiasi kepada Presiden Joko Widodo, setidaknya legecy “Hari Santri Nasional” telah menjadi daya ungkit perkembangan santri “bansigoem donya”.
Resolusi jihad menjadi pilihan tepat sebagai landasan sosiologis dan filosofis peringatan Hari Santri Nasional setiap jenjangnya (tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, maupun Nasional).
• Hari Santri Nasional 2021, Tradisi Menulis Santri Aceh Harus Dibangkitkan Seperti Ulama Terdahulu
Resolusi jihad yang dipelopori oleh tokoh KH. Hasyim As`ari yang merupakan pendiri Nahdatul Ulama (NU), berhasil membangkitkan semangat jihad santri nusantara dalam mengusir penjajahan Belanda. 22 Oktober 1945 merupakan Ikhtiar dari gerakan jihad akbar santri.
Revolusi ini pula membakar para santri arek-arek surabaya melawan tentara kolonial Belanda NICA yang dipimpin oleh AWS. Mallaby dalam peperangan yang besar selama tiga hari berturut (27-29 oktober 1945), yang pada akhirnya Malllaby tewas.
Gerakan Resolusi jihad ini pula mengilhami dan menyemangati Tentara Nasional Indonesia bersatu padu dengan para santri dalam mengusir penjajahan. Itu artinya TNI dan Rakyat (baca santri) kala itu menyatu. Saat ini kita tentu tidak menarasikan nostalgia akan eksistensi santri masa lalu dalam ruang hampa.
Akan tetapi menjadikan momentum resolusi jihad sebagai gerakan membangun narasi mimpi besar.
Baca juga: Kontroversi Menag, Sekjen PB PMII: Pernyataan Itu untuk Memotivasi Santri, Kebijakan Sangat Inklusif
Dalam konteks Aceh potensi sumber daya santri sangat siknifikan, data verifikasi santri dayah se-Aceh Tahun 2018 sebanyak 216.499 santri, tentu ini bukan hanya kalkulasi yang hampa. Jika dikapitalisasi dalam makna yang positif dalam kontek politik, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan. Maka kalkulasi ini menjadi senjata pamungkas guna “meraih kekuasan”.
Akan tetapi memang harus diakui, kalkulasi santri yang besar belum mampu mewarnai perubahan pundamental tatanan kehidupan masyarat Aceh yang berjulukan serambi mekkah.
Santri Dayah di Aceh terpolarisasi dalam beberapa organisasi sebut saja, Himpunan Ulama Dayah (HUDA), Nahdatul Ulama (NU),Ikatan Alumni Santri Dayah (ISAD), Rabitah Taliban (RTA) serta banyak organisasi lainnya tempat bernaung dan berkreasi santri dayah.
• Mahasantri Mahad Aly Babussalam Antusias Ikuti Lomba Menulis Dalam Rangka Hari Santri Nasional
Tentu kita tidak harus memaksakan komunal santri dalam melakoni aktivitas sosial, kemasyarakatan, bahkan pilihan politik santri dayah.
Di samping itu juga warna manhaj santri dayah di Aceh terklaster dalam ragam yang berbeda, sebut saja, Al Waliyah, Al Fata, Al Aziziyah, Darul Mu`arrif, Al Munawarah, Al Huda. Manhaj ini punya tradisi yang berbeda, termasuk di dalamnya pakem kurikulum dayah.
Maka dari itu untuk menyatukan kekuatan dayah di Aceh perlu upaya harmonisasi dan sinergisitas, termasuk didalamnya mendorong konsep “dayah bersaudara”, sehingga ragam manhaj dayah di Aceh saling menghargai dan saling berkolaborasi dalam berbagai ragam aktifitas sosial keagamaan.
Menyatukan pikiran dan ukhwah di masa pandemi ini justru menjadi momentum dalam mengkampanyekan jargon; “Santri Siaga Jiwa Raga”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penulis-678uhbn.jpg)