Rabu, 22 April 2026

Berita Jakarta

Ada Konflik Terpendam Sesama Ajudan Sambo, Brigadir J Sempat Diancam Brigadir Daden

Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J sempat memberikan pesan kepada kekasihnya, Vera Simanjuntak, sehari sebelum ditembak di rumah dinas Ferdy

Editor: bakri
Dok. Puspenkum Kejagung
Empat tersangka obstruction of justice kasus kematian brigadir J, Kompol Baiquni Wibowo (rompi tahanan 100), Kompol Chuck Putranto (rompi tahanan 18), AKP Irfan Widyanto (rompi tahanan 45) dan AKBP Arif Rahman Arifin (rompi tahanan 10) selepas diserahkan ke Kejagung, Rabu (5/10/2022). 

JAKARTA - Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J sempat memberikan pesan kepada kekasihnya, Vera Simanjuntak, sehari sebelum ditembak di rumah dinas Ferdy Sambo, Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli 2022 lalu.

Salah satu hal yang disampaikan Vera adalah Brigadir J pernah mempunyai masalah dengan seorang ajudan Sambo lainnya yaitu Brigadir Daden Miftahul Haq.

Hal itu diungkapkan Vera Mareta Simanjuntak saat memberikan keterangan sebagai saksi atas terdakwa Bharada Richard Eliezer alias Bharada E dalam siding lanjutan kasus itu di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) pada Selasa (25/10/2022).

Awalnya, Vera mengungkapkan, dirinya yang sedang berdinas malam mendapatkan empat panggilan tak terjawab Brigadir J pada 7 Juli 2022 malam.

Lalu, tak lama setelah itu Brigadir J kembali menelepon dirinya.

"Terus jam 20.30 dia telepon lagi.

Saya angkat.'Lagi dimana dek?' Dia bilang.

Lagi dinas malam bang, ada apa? Terus dia bilang 'kurang ajar.

' Karena ada kata-kata dari mendiang, saya cari tempat yang kebuh nyaman untuk ngomong," jelas Vera.

Lalu, Vera kembali bertanya maksud kekasihnya berbicara kurang ajar pada sambungan telepon tersebut.

Kemudian, Brigadir J menjelaskan bahwa dirinya dituduh sudah membuat istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, menjadi sakit.

"Terus kenapa tadi bang? 'Kurang ajar orang ini.

Baca juga: Colekan Genit Sang Putri Sambo ke Pengacara Usai Jalani Sidang

Baca juga: Siapa Pria yang Berjabat Tangan dengan Ferdy Sambo sebelum Sidang? Kuasa Hukum: Kawan Lama

' Terus saya bilang kurang ajar gimana? 'Ibu sakit, aku dituduh bikin ibu sakit.

' Sakit apa saya bilang? 'Enggak tahu saya.

' Terus siapa yang nuduh saya bilang, 'ada lah orang di sini.

' Emang abang apain ibu? Abang pukul ibu? oh enggak lah dek.Aku diancam.'," imbuh Vera.

Vera menjelaskan bahwa Brigadir J mengaku sudah diancam oleh pihak yang disebutnya sebagai Squad.

Menurut Vera, squad merupakan istilah ajudan-ajudan dari Ferdy Sambo.

"Siapa yang ancam? 'Squad-squad di sini.

' Ya sudah kalau abang tidak salah, abang jangan takut.

'Iya nanti aku kabari lagi ya.' Memang abang lagi di mana? 'Lagi di Magelang.

' Tanggal 7 itu ancamannya itu berani kau naik ke atas, ku bunuh kau," ungkapnya.

Lebih lanjut Vera menuturkan bahwa dirinya kembali ditelepon Brigadir J pada 8 Juli 2022.

Baca juga: Mengagetkan, Isi Buku Hitam Sambo Setelah Diterawang, Ada Catatan Rahasia Mungkin Dibuka di Sidang

Tepatnya, sejam sebelaum Brigadir J dieksekusi di Duren Tiga yaitu pukul 16.10 WIB.

"Itu telepon 4 panggilan tak terjawab dari beliau.

Karena saya lepas dinas, saya berangkat ke Bangko untuk beli keperluan.

Karena sedang di perjalanan, saya tidak angkat," beber dia.

Setibanya di rumah, Vera menyatakan dirinya pun menelepon balik kekasihnya atau sekitar pukul 16.25 WIB.

Telepon itu pun tidak diangkat oleh Brigadir J."Terus saya chat, kenapa bang? Itu jam 16.25 WIB.

Awalnya chat itu ceklis satu, dan itu tidak pernah di WA beliau seperti itu.

Terus tiba-tiba centang dua di read, tetapi tidak dibalas," urai Vera.

Berikutnya, Vera kembali menelepon kembali Brigadir J sekitar pukul 16.31 WIB.

Lalu, telepon itu pun diangkat namun menjadi pernyataan terakhir yang disampaikan oleh Brigadir J kepada Vera.

"Saya telepon jam 16.31 WIB.Kenapa bang? 'Maaf ya dek nanti abang kabari lagi.' Itu yang terakhir," jelasnya.

Konflik ajudan Vera juga menyebutkan bahwa kekasihnya Brigadir J pernah mempunyai masalah dengan salah satu ajudan Ferdy Sambo yaitu Brigadir Daden Miftahul Haq.

Baca juga: Brigjen Hendra Berdoa di Pengadilan untuk Mantan Ajudan Ferdy Sambo yang Tewas Ditembak

Saat itu, Brigadir J baru menjadi ajudan Ferdy Sambo pada tahun 2019 lalu.

Hal itu terungkap saat Hakim Ketua, Wahyu Imam Santosa, menanyakan kepada Vera.

Wahyu bertanya soal cerita suka dan duka Yosua selama menjadi ajudan Ferdy Sambo kepada Vera.

"Dia tidak pernah cerita suka duka jadi ajudan.

Nggak cerita juga soal kerjaaan?" tanya Wahyu kepada Vera.

"Tidak yang mulia, cuma pernah tahun 2019 kalau dia itu pernah ada masalah sama salah satu ajudan," jawab Vera.

"Siapa?" tanya Wahyu."Brigadir Daden," timpal Vera.

Wahyu lantas kembali bertanya, apakah Yosua juga pernah bercerita soal Eliezer.

"Tidak pernah," jelas Vera.

Vera juga membeberkan percakapan terakhirnya dengan tambatan hatinya itu sebelum penembakan terjadi di Kompleks Polri, Duren Tiga.

Dalam pernyataannya, Vera menyebut bahwa sebelum kejadian, Yosua mengaku memiliki banyak masalah.

Itu diutarakan dalam perbincangan keduanya melalui sambungan video call.

Di sisi lain, Nama Daden juga tersebut oleh adik Brigadir J yakni Mahreza Rizky saat bersaksi dalam persidangan.

Reza mengatakan, Daden sempat meneleponnya pada 8 Juli 2022 sekitar pukul 19.00 WIB atau setelah Yosua dibunuh.

Namun, ketika itu Reza yang juga anggota Polri belum mengetahui pembunuhan tersebut.

“‘Kamu di mana?’ Saya jawab di kosan, dekat Saguling (rumah pribadi Ferdy Sambo),” tutur Reza menceritakan isi percakapan telepon dengan Daden.

Saat itu, Reza ditanya Daden apakah dirinya membawa senjata api (senpi) atau tidak.

Reza menjawab dirinya tidak membawa senpi dan diperintahkan untuk datang ke Biro Provos Divisi Propam Mabes Polri.

Sebelum berangkat, Reza datang ke tempat laundry untuk mengambil pakaian dinas harian atau PDL.

Namun, di tengah perjalanan, Reza bertemua dengan Daden di rumah pribadi Ferdy Sambo di Jalan Saguling III, Pancoran, Jakarta Selatan.

“Dia tanya lagi saya bawa senpi atau tidak? Dia langsung geledah sampai kaki, dan beliau (Daden) minta buka jok motor,” ungkap Reza kepada hakim.

Atas aksinya itu, Reza sempat curiga dengan tingkah laku Daden.

Namun, tidak terpikirkan olehnya jika kakaknya ternyata sudah tewas.

"Di situ saya sudah curiga, tapi saya belum tahu apa-apa,” jelasnya. (tribun network/abd/riz/igm/wly)

Baca juga: Kilas Balik Pengakuan Bharada E Soal Kematian Brigadir J: Sempat Ikuti Skenario Sambo, Kini Menyesal

Baca juga: Hotman Paris Tolak Tawaran Jadi Kuasa Hukum Keluarga Ferdy Sambo, Akui Tiga Hari Tak Bisa Tidur

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved