Rabu, 3 Juni 2026

Kupi Beungoh

Santri Menanti Kabar Baik dari Pj Gubernur Aceh

Setelah peringat HSN saat itu saya menulis siaran pers di Serambinews bahwa jika pemerintah serius peduli kepada santri di Aceh, maka kita harus betul

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Komisoner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh, Teuku Zulkhairi 

Oleh: Dr Teuku Zulkhairi MA*)

SAAT peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dilaksanakan di Asrama Haji Banda Aceh tahun 2021 lalu, hadir sebagai undangan saya menunggu kabar gembira - apakah yang akan disampaikan Sekda Aceh yang saat itu tampil memberi sambutan mewakili Gubernur Aceh.

Saya melihat ratusan santri yang diundang menghadiri acara HSN berdiri di bawah terik matahari. Namun rupanya tidak ada kabar gembira apapun kecuali arahan agar ikut vaksin dari Pak Sekda.

Mestinya memperingati hari santri itu bukan sekedar seremonial belaka tanpa diiringi komitmen untuk tidak memargilkan para santri.

Setelah peringat HSN saat itu saya menulis siaran pers di Serambinews bahwa jika pemerintah serius peduli kepada santri di Aceh, maka kita harus betul-betul peduli pada upaya-upaya meningkatkan sumber daya mereka. Dan itu sebenarnya tidak sulit jika kita serius.

Menanti Kepak Sayap Santri di 2024

Tapi meskipun tidak sulit, namun faktanya sampai saat ini santri-santri dayah masih menjadi pelajar “kelas dua”. Keberadaannya terus menerus dimarginalkan oleh para pemilik kekuasaan.

Selama ini kita sering mendengar orang-orang mengkritik mengapa tidak muncul banyak karya tulis dari para santri atau teungku-teungku dayah di Aceh.

Sejumlah dosen di perguruan tinggi mungkin akan membanggakan keunggulan kampus ketimbang dayah karena dosen-dosen dapat menghasilkan banyak karya tulis tapi tadak demikian santri /teungku dayah.

Apakah mungkin kita akan menanti banyak karya tulis dari para santri dayah sementara dukungan ke arah ini tidak diberikan?

Jika para dosen memiliki gaji bulanan, juga tidak jarang mendapatkan anggaran-anggaran untuk penelitian dan kemudian menghasilkan jurnal dan buku - sehingga dosen-dosen memiliki banyak karya tulis – tapi santri-santri atau teungku dayah tidak diberikan kesempatan semacam itu.

Saya jujur sangat penasaran mengapa tidak ada kepedulian maksimal untuk para santri di Aceh bahkan hingga dana otonomi khusus hampir selesai.

Kita tidak lelah mengingatkan tapi kadangkala penasaran mengapa ide-ide pengembangan santri sangat sulit didengar.

Peringatan Hari Santri Nasional, Ini Pesan Abu Mudi Samalanga

Mestinya, pengembangan tradisi menulis di kalangan santri dan mahasantri ini harus jadi perhatian utama para pengambil kebijakan dan itu tidak cukup hanya dengan pelatihan-pelatihan jurnalistik dan menulis di media saja.

Tapi ingin para santri dan mahasantri Aceh bisa menulis di jurnal-jurnal dan menghasilkan buku-buku dan kitab. Sehingga pemikiran para santri yang asli merujuk kepada khazanah kitab kuning klasik ini dapat dibaca oleh publik secara luas.

Selama ini belum pernah terdengar ada program spektakuler, misalnya program menulis “1000 buku santri” dan sebagainya yang proses penerbitannya difasilitasi pemerintah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved