Kupi Beungoh
Santri Menanti Kabar Baik dari Pj Gubernur Aceh
Setelah peringat HSN saat itu saya menulis siaran pers di Serambinews bahwa jika pemerintah serius peduli kepada santri di Aceh, maka kita harus betul
Saya menyaksikan selama ini banyak sekali santri-santri dan teungku dayah yang setelah menulis buku lalu kesulitan untuk mencari penerbit karena faktor keuangan.
Padahal jumlah santri yang mau menulis itu sedikit. Yang sedikit itupun tidak difasiltasi penerbitan naskah-naskahnya. Kita harapkan pengambil kebijakan di Aceh bisa perhatian pada pengembangan intelektualitas santri semacam ini. Karena ini adalah nyata sebagai kerja dalam skala peradaban.
Kita semua pasti paham bahwa ulama-ulama dahulu di Aceh dan di manca negara itu mereka adalah para penulis. Misalnya ulama Aceh seperti Syaikh Abdurrauf As-Singkili, Nuruddin Ar-Raniry, Baba Daud Rumi, Hamzah Fansuri dan sebagainya.
Begitu juga ulama dunia seperti Imam Ghazali, Imam Syafi’i, Imam Nawawi dan seterusnya. Semua mereka itu mengabdikan hidupnya dalam dunia keilmuan Islam yang ditandai dengan warisan karya tulis mereka yang dapat kita baca hari ini.
Dengan karya-karya mereka itu membuat terbangun peradaban keilmuan nusantara yang berpusat di Aceh dimana para ulama adalah tokoh sentral peradaban.
Dalam konteks ini, kita berharap adanya perhatian dari Pak Achmad Marzuki selaku Penjabat Gubernur Aceh. Jika bisa, peringatan HSN tahun 2022 adalah kabar gembira bagi para santri di Aceh.
Sebagai seseorang yang pernah nyantri di dayah, saya paham bahwa santri-santri itu butuh perhatian karena umumnya mereka adalah anak-anak masyarakat miskin, khususnya santri-santri di dayah tradisional.
Kabar gembira apa yang dapat diberikan kepada para santri? Misalnya seperti beasiswa. Harus ada program beasiswa khusus bagi santri-santri dari dayah.
Jujur, “hampir keriting” rambut saya ketika meneliti kenapa hingga saat ini tidak ada program beasiswa khusus bagi santri-santri dayah di Aceh. Baik di Dinas Dayah maupun di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh.
Saya beberapa kali menyampaikan kepada kepala BPSDM agar ada beasiswa khusus untuk para santri/mahasantri dari dayah-dayah tradisional di Aceh. Lalu diarahkan ke dinas dayah. lalu dinas dayah pun tidak ada program semacam itu.
Jadi sebenarnya ini jelas sebagai bukti bahwa para para santri masih dimarginalkan. Itu belum lagi kita berbicara tentang minimnya perhatian pemerintah kepada guru-gurunya para santri di dayah.
Coba anda bayangkan, ada dayah yang gurunya mencapai 100 orang, tapi hanya lima orang yang mendapat insentif tahunan (setahun sekali) dari pemerintah yang jika dihitung hanya ratusan ribu per bulan. Aneh tidak ?
Dan semakin aneh ketika saya mengingat kabar beberapa tahun lalu bahwa di Thailand yang notabene pemimpinnya bukan muslim, tapi menurut pengakuan ketua ulama bagian selatan Thailand, Tuan Guru Abdul Azis Yanya beberapa tahun silam kepada saya, para guru “pesantren” disana justru betul-betul dianggap sederajat dengan guru-guru lainnya dalam hal perhatian pemerintah. Itu pemimpinnya bukan muslim. Mestinya kita disini harus lebih maju lagi.
Berkaitan dengan beasiswa untuk santri, saya betul-betul bingung mengapa hingga saat ini para pihak di Aceh yang diberikan jabatan untuk mengurus pendidikan para santri masih gagal membuat terobosan-terobosan yang membanggakan untuk memajukan para santri misalnya dengan mengirim para santri keluar negeri dan sebagainya.
Selain kepada Pj Gubernur Aceh, kepada para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) kita harapkan agar betul-betul perhatian terhadap perkara ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/komisoner-komisi-penyiaran-indonesia-kpi-aceh-teuku-zulkhairi.jpg)