Sosok
"Syair Dalam Jiwa", Kisah Maestro Tari Aceh asal Blangpidie yang Menghentak Hingga ke Panggung Dunia
Karya tersebut bercerita tentang sang maestro sejak dari buaian sampai kuliah dan hingga menari tari Aceh di seluruh dunia.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda I Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pertunjukan bertajuk "Syair Dalam Jiwa" berisi biografi maestro seni tradisi Aceh, Marzuki Hasan, dipanggungkan di Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (12/11/2022).
Pertunjukan disutradarai dosen seni pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Djoko Histi Maryono, yang juga murid dari Marzuki Hasan.
"Karya ini sebagai bentuk penghargaan kita kepada sang maestro seni tradisi Aceh yang sampai saat ini masih terus menari dan memberi bimbingan," kata Djoko Histi.
Karya tersebut bercerita tentang sang maestro sejak dari buaian sampai kuliah dan hingga menari tari Aceh di seluruh dunia.
• Mengenal Said Akram, Maestro Kaligrafi Kontemporer Asal Aceh yang Karyanya Mendunia
"Pak Uki sudah menari diseluruh benua di dunia. Di banyak negara di dunia. Beliau bahkan melatih tari Aceh untuk anak-anak Afrika dan mendapat pujian besar, termasuk CNN memberitakannya selama tiga hari," kata Djoko Histi.
Pertunjukan menghadirkan bintang tamu Mungkin Kusumastuti, Fikar W Eda, artis pendukung Yuyun Arfah, Cut Aja Rizka, Koreografer Ratna Ully, Penata musik Alex, dibantu asisten penata musik Fikar, Koordinator Musik Taufik, Penata Artistik Soni Soemarsono, Penata Suara Rafi Sujud, Videografer Turpin.
Marzuki Hasan yang sudah berusia 81 tahun juga ikut tampil bersama.
Anugerah Kebudayaan
Marzuki Hasan adalah penerima Anugerah Kebudayaan untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI pada 2017.
Lahir di Blangpidie, Aceh Barat Daya, 3 Mei 1943. Ia menjalani Pendidikan Sekolah Guru Olahraga di Yogyakarta, 1965-1970.
Tapi ia lebih memilih berkarier di dunia kesenian, khusus seni tradisi Aceh. Marzuki Hasan akrab disapa Pak Uki, menguasai detil tari tradisi Aceh dan menggubah tarian kontemporer berakar tradisi Aceh.
Sejak 1975 mengajar tari Aceh pada Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sementara saat di Yogyakarta, 1965 juga sudah memberikan pengajaran tari Aceh di Yogya, Jawa Tengah, Jawa Timur, kemudian ke beberapa negara di Benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Karya Pak Uki
Tari Rampa digubah bersama grup Cakra Donya (1978), Tari Hu, Tari Rampai Aceh, Tari Meusaboh Hatee adalah sederet karya Pak Uki.
Pak Uki hadir di banyak festival di dunia. Ia juga penari di Istana Negara sampai saat ini, khusus untuk tari Aceh.
Ia memperkenalkan Seudati ke seluruh dunia, seperti Amerika Serikat, Afika, Paris, Italy, Inggris, Australia, Lebanon, Abu Dhabi, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, bahkan Marzuki tak mengingatkan lagi negera-negara mana yang pernah ia datangi.
Bahkan ia sudah berkali-kali diundang oleh negara-negara maju tersebut.
Ia pernah tampil dihadapan perkumpulan orang-orang kaya dunia di Davos Swiss
Marzuki Hasan telah menjadi bagian penting Indonesia di bidang seni tari tradisional.
Tahun 1984, ia menampilkan pertunjukan tari tradisi di Amerika Serikat dan Jerman.
Ia juga pernah selama 40 hari keliling Amerika Serikat untuk pertunjukan tari Seudati.
Di Eropa, Marzuki melakukan pertunjukan keliling untuk tari Rampai Aceh.
Pak Uki juga diundang ke Amerika Latin, Kanada, Nikaragua.
Pertunjukan yang paling membekas baginya adalah saat diundang dan tampil pada acara 50 Tahun Konferensi Asia Afrika di Namibia.
Di sana ia diminta mengajari penduduk setempat untuk tampil menari di depan para pemimpin negara yang menghadiri konferensi tersebut.
Pertunjukan mereka mendapat sambutan meriah dari hadirin.
Kenangan manis lainnya, saat ia menampilkan pertunjukan tari di Harare yang sedang mengalami konflik. Karena keadaan tersebut, banyak media internasional hadir di negara Zimbabwe tersebut.
Tak diduga kehadiran media dalam situasi konflik itu memberi dampak positif terhadap liputan pertunjukannya.
Liputan pertunjukan tarian yang dibawakan Marzuki tayang tiga hari berturut-turut di CNN.
Tak heran bila kemudian Duta Besar RI di Zimbabwe menemuinya untuk mengucapkan terima kasih karena dianggap telah mengangkat wajah budaya Indonesia di panggung dunia.(*)
• Pesawat Precision Air Jatuh ke Danau Terbesar Afrika, 19 Orang Tewas, Diduga Ini Penyebabnya
• Hingga Siang Ini, SAR BPBD dan Aparat Masih Cari Korban Hanyut di Krueng Bayeun Aceh Timur
• Perut Buncit BCL Diduga Hamil 3 Bulan, Bunga Citra Lestari dan Ariel Noah Belum Klarifikasi