Opini

Peran Pesantren Mencetak Pemimpin Umat

Presiden Sukarno kerap mewanti-wanti, agar bangsa ini jangan sampai menjadi bangsa yang mempunyai ‘mentalitas kaum yang terjajah’

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
NASHARUDDIN MA, Pendiri Pesantren Ar-Risalah Darusalam 

OLEH NASHARUDDIN MA, Pendiri Pesantren Ar-Risalah Darusalam

PADA awal abad 20, para tokoh modern Aceh mendirikan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), tepatnya pada bulan Mei 1939 di Matang Geulumpang Dua, Aceh Utara, yang diprakarsai oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Ayah Hamid Samalanga, Tgk Abdullah Ujong Rimba, Tgk Muhammad Daud Beureu-éh, dan beberapa tokoh lainnya.

Ini menjadi awal bangkitnya pemimpin ulama modernis di Aceh.

Di era 1950-an, PUSA mulai menguasai panggung politik Aceh.

Keberadaan entitas ini mendorong kemajuan Aceh, salah satunya ditandai dengan terjalinnya hubungan dengan berbagai organisasi baik di tataran nasional maupun internasional.

Sekolah-sekolah PUSA berhasil mencetak tokoh dan pemimpin yang mempunyai pengaruh dan disegani pada masa tersebut, beberapa di antaranya seperti: Abdullah Arif, Ismuha, Hasan Tiro, Zainal Abidin Tiro, Ismail Thaib Paya Bujok, AR Hasyimi, Hasan Saleh, dan beberapa tokoh lainnya.

Kekhasan dari para tokoh dan pemimpin yang berpengaruh tersebut terletak pada dalamnya ilmu agama yang dimiliki, yang mengarahkannya pada kesalehan (baik kesalehan religious dan kesalehan sosial) dan kuat pula ilmu dunianya (kompetensi di berbagai keilmuan).

Dengan kombinasi dua kemampuan tersebut, mereka dapat memainkan berbagai peran strategis dalam mengisi pembangunan di Aceh kala itu.

Sayangnya, saat ini kita kehilangan sosok tokoh dan pemimpin yang memiliki kombinasi kedua kemampuan tersebut.

Tentu ini memunculkan pertanyaan; mengapa ini bisa terjadi, apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan yang kita miliki saat ini, bila memang demikian, kira-kira solusi apa yang dapat ditawarkan terkait dengan upaya untuk mengatasi ketimpangan in.

Kemunduran Paska kemerdekaan Indonesia, presiden Sukarno kerap mewanti-wanti, agar bangsa ini jangan sampai menjadi bangsa yang mempunyai ‘mentalitas kaum yang terjajah’.

Baca juga: Pesantren Modern Al-Manar dan Babun Najah Juara LP3 Putri ke VIII

Baca juga: Peringati HUT Ke-71 Humas Polri, Polres Aceh Selatan Gelar Donor Darah di Pesantren Darulrahmah

Tipe mentalitas ini mempunyai 2 ciri utama, pertama, bagi yang lemah, mereka memiliki sifat minder, suka menzalimi diri sendiri, berpikir jangka pendek, takut bercita- cita tinggi, menggantungkan nasib pada keadaan dan mempunyai inisiatif yang lemah untuk melakukan perubahan pada dirinya.

Sedangkan ciri yang kedua, bagi yang kuat, karena kekuasaan atau kekayaan, mereka justru menjadi predator dan menjajah bangsanya sendiri.

Melalui orang- orang seperti inilah para penjajah (redbukan penjajah kolonialisme) menggerogoti bangsa ini dengan berbagai cara.

Kekayaan dan kekuasaan mendorong mereka semakin rakus dengan mengorbankan bangsanya sendiri.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved