Breaking News

Internasional

Warga Kota Iran Barat Mogok, Beri Solidaritas Atas Jumat Berdarah di Masjid Zahedan

Kota-kota di Iran barat melakukan mogok massal pada Rabu (9/11/2022) untuk memberi solidaritas kepada puluhan orang yang tewas di tangan pasukan keama

Editor: M Nur Pakar
AFP
Warga melakukan demonstrasi untuk mengutuk penembakan warga sipil usai shalat Jumat di Zahedan, Iran. 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Kota-kota di Iran barat melakukan mogok massal pada Rabu (9/11/2022) untuk memberi solidaritas kepada puluhan orang yang tewas di tangan pasukan keamanan Iran.

Para pelayat memperingati 40 hari para korban meninggal dunia usai Shalat Jumat.

Dilaporkan, pasukan keamanan menembaki protes pada 30 September 2022 setelahShalat Jumat di Zahedan, Ibu Kota Provinsi Sistan-Baluchistan, perbatasan tenggara Iran dengan Pakistan.

Hal itu itu terjadi setelah demonstrasi pecah di seluruh Iran atas kematian Mahsa Amini, seorang warga Iran berusia 22 tahun asal Kurdi.

Serangan meluas sedang berlangsung Rabu (9/11/2022) di kota-kota barat Kurdi di Baneh, Kermanshah, Marivan, Sanandaj dan kampung halaman Amini di Saqez.

Kelompok hak asasi manusia Hengaw yang berbasis di Norwegia melaporkan aksi warga itu diamati saat memberi solidaritas atas kematian di Zahedan pada upacara kematian hari ke-40.

Baca juga: Pengadilan Iran Akan Sikat Habis Perusuh, Demonstrasi Anti-Pemerintah Terus Berlanjut

Dilansir AFP, Hengaw terus memantau pelanggaran di wilayah Kurdi melalui jejaring sosial Twitter.

Pemicu kekerasan yang meletus di Zahedan pada 30 September 2022 akibat dugaan pemerkosaan dalam tahanan terhadap seorang gadis berusia 15 tahun.

Pelecehan seksual itu dilakukan oleh seorang komandan polisi di kota pelabuhan Provinsi Chabahar.

Pasukan keamanan menembaki orang-orang yang turun ke jalan setelah keluar dari masjid, menewaskan puluhan orang dalam pembantaian yang dikenal sebagai “Jumat Berdarah.”

"Apa yang terjadi pada hari Jumat itu di Zahedan, berdasarkan hukum internasional, contoh yang jelas dari pembunuhan massal warga sipil," lapor Hengaw.

"Pembunuhan massal ini harus diakui oleh organisasi internasional dan pemerintah Barat," cuitnya.

Kelompok Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Oslo mengatakan sejak itu setidaknya 118 orang tewas di Provinsi Sistan-Baluchistan.

Baca juga: Presiden AS Joe Biden Tegaskan Akan Segera Bebaskan Iran

Pihak berwenang Iran mengatakan setidaknya enam personel keamanan telah tewas.

Zahedan, salah satu dari sedikit kota mayoritas Sunni di Iran yang didominasi Syiah.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved