Breaking News:

Internasional

Israel Tegur Duta Besar Ukraina, Ikut Dukung Penyelidikan Pendudukan Palestina

Israel memanggil Duta Besar Ukraina pada Selasa (15/11/2022) untuk berdandan.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Pasukan Israel melakukan operasi militer di Nablus, Tepi Barat, Palestina untuk menangkap pejuang Lions Den, Rabu (26/10/2022) 

SERAMBINEWS.COM, JERUSALEM - Israel memanggil Duta Besar Ukraina pada Selasa (15/11/2022) untuk berdandan.

Israel memprotes Kiev yang memilih mendukung resolusi untuk membuka penyelidikan internasional atas pendudukan berkepanjangan Israel di Palestina.

Resolusi tersebut, yang disetujui di markas besar PBB di New York pekan lalu, meminta agar Mahkamah Kejahatan Internasional (ICJ) mempertimbangkan penyelesaian pencaplokan berkepanjangan Israel atas wilayah Palestina.

Dikatakan, Israel melanggar Palestina, sebuah hak untuk menentukan nasib sendiri.

Dilansir AFP, Israel menyatakan ketidakpuasannya dengan keputusan Ukraina mendukung resolusi tersebut dalam percakapan dengan Duta Besar Yevgen Korniychuk.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan sudah diklarifikasi kepada Duta Besar Ukraina.

Baca juga: Mahmoud Abbas Prihatinkan Kembalinya Netanyahu, PBB Sudah Abaikan Palestina Selama 70 Tahun

"Prilaku ini tidak mencerminkan sikap ramah," kata pernyataan itu.

Sebaliknya, dalam sebuah pernyataan tentang pertemuan di Facebook, kedutaan Ukraina di Israel menulis:

"Duta Besar menyatakan kekecewaannya dengan posisi Israel, yang perwakilannya abstain selama pemungutan suara di Majelis Umum PBB tentang pembayaran reparasi Rusia ke Ukraina."

Israel mengatakan duta besar telah dipanggil dan Ukraina mengatakan pertemuan itu telah diatur sebelumnya dan bukan pemanggilan.

Israel merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur, wilayah yang diinginkan Palestina untuk sebuah negara dalam perang Timur Tengah 1967.

Negosiasi yang disponsori AS terhenti pada tahun 2014.

Baca juga: AS Tegaskan Kembali Komitmen Solusi Dua Negara, Akhiri Konflik Palestina dan Israel

Resolusi itu diadopsi oleh komite dekolonisasi PBB setelah pemungutan suara, dengan 98 negara memberikan suara mendukung, 17 menentang dan 52 abstain.

Pada pertemuan komite, Wakil AS untuk PBB yang memberikan suara menentang resolusi mengatakan pendapat penasehat ICJ kontraproduktif.

"Hanya akan menjauhkan para pihak dari tujuan yang kita semua bagikan dari negosiasi dua- solusi negara," katanya.

ICJ terakhir mempertimbangkan konflik pada tahun 2004, ketika memutuskan bahwa penghalang pemisah Israel adalah ilegal.

Israel membantah tuduhan itu.(*)

Baca juga: Liga Arab Serukan Persatuan Bela Perjuangan Palestina

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved