Senin, 4 Mei 2026

Info Distanbun Aceh

Aceh Surplus Cabai Merah, Dinas Dorong Produk Terserap untuk Industri Olahan

hingga September 2022 saja, Aceh sudah memproduski sebanyak 42 ribu ton cabai merah.

Tayang:
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: IKL
ist
Cabai merah 

Muhammad Nasir | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Provinsi Aceh saat ini masih surplus dalam produksi cabang merah. Namun, meski surplus cabai merah di Aceh masih sering terjadi fluktuasi harga. Ternyata kondisi itu, karena pasokan cabai merah merah tidak stabil sepanjang tahun.

Karena ada bulan tertentu produk melimpah dan ada bulan lainnya yang kekurangan pasokan. Sehingga menganggu pada stabilitas harga. Informasi itu disampaikan oleh, Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Ir Chairil Anwar, Mp.

Baca juga: Distanbun Aceh Tingkatkan Produktivitas Tanaman Kakao dengan Sistem Peremajaan & Insektisida Nabati

Katanya, hingga September 2022 saja, Aceh sudah memproduski sebanyak 42 ribu ton cabai merah. Dengan lumbung produksi ada di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Selain itu, kabupaten-kabupaten penyumbang pasokan cabai juga ada, Gayo Lues, Aceh Besar, Bireuen, Aceh Utara, dan Pidie.

Ia menjelaskan, jika dihitung secara keseluruhan pada akhir tahun, Aceh sebenarnya sudah surplus untuk produksi cabai merah. Namun masalahnya, produksi cabai belum merata tersedia setiap bulan, sehingga ada bulan tertentu produk melimpah dan ada bulan lainnya yang kekurangan pasokan.

Baca juga: Salak Sabang Beda dengan Salak Pondok, Distanbun Aceh Sebut Layak Diusulkan Jadi Varietas Unggul

Oleh karena itu, untuk mengatasi surplus cabai merah dan harga anjlok saat musim panen raya. Pihaknya mendorong agar ada pengolahan hasil paska panen, misalnya dijadikan cabai bubuk atau diserap untuk produksi bumbu masak.

Distanbun Aceh juga sudah pernah menjajaki kerjasama dengan PT Pembangunan Aceh (Pema), supaya dapat menjadi penyedia resi gudang. Sehingga perusahaan daerah ini bisa membangun cold storage.

Tak hanya itu, Badan Pangan Nasional juga akan memfasilitasi pembangunan cold storage di kawasan sentra produksi hasil tani, seperti dataran tinggi Gayo. Katanya, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh kedepan memiliki rencana supaya kedepan, Aceh bisa memproduksi lebih banyak produk holtikultura untuk dikonsumsi, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, hingga tanaman obat. Sehingga tidak lagi bergantung dari daerah luar.

Baca juga: Distanbun Aceh Kembangkan Kawasan Food Estate Berbasis Korporasi Petani, Salah Satunya SieBreuh

Ir Chairil Anwar, Mp mengatakan, untuk saat ini, Distanbun Aceh sedang maraknya menggalakkan peningkatan dua komoditas utama, yaitu bawang merah dan cabai marah. “Kita fokus ke dua komoditas ini dulu, karena bawang merah dan cabai marah selalu jadi pemicu angka inflasi tinggi di Aceh,” ujar Chairil.

Sementara untuk bawang merah, diakui Chaidir, produksi Aceh masih sangat minim, sehingga sering terjadi fluktuasi harga yang sangat tinggi. Oleh karena itu, saat ini konsumsi bawang masih bergantung dari pasokan dari pulau Jawa atau provinsi lainnya di Sumatera. Ia merincikan, saat ini produksi bawang merah di Aceh hanya 11 ribu ton/tahun. Sedangkan konsumsinya sebesar 41 ribu ton/tahun.

“Jadi saat ini Aceh masih kekurangan produksi bawang merah sekitar 30 ribu ton/tahun. Makanya masih banyak dipasok dari daerah luar. Nah inilah yang terus kita kejar agar produksi meningkat,” tambah Chairil.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat pihak Distanbun Aceh ingin segera menambahkan areal tanam hingga 1.000 hektare. Dengan harapan jumlah produksi bawang merah terus naik. Untuk bawang merah, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah dan Aceh tenggara masih menjadi penyumbang terbesar. Sedangkan cabai merah banyak dihasilkan oleh Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Luies, Aceh Besar dan Bireuen. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved