Breaking News:

Kupi Beungoh

Kisah Anak Oemar Diyan, Serunya Belajar Jurnalistik ke Serambi Indonesia

Dayah Oemar Diyan (OD) Indrapuri, Aceh Besar adalah lembaga pendidikan terpadu yang mengikuti perkembangan zaman.

Editor: Amirullah
ist
Dina Alya Hasan adalah siswi/santriwati Dayah Oemar Diyan Indrapuri Aceh Besar 

Oleh: Dina Alya Hasan*)

Dayah Oemar Diyan (OD) Indrapuri, Aceh Besar adalah lembaga pendidikan terpadu yang mengikuti perkembangan zaman.

Dalam kehidupan seharian di dayah, selain wajib berkomunikasi dalam bahasa global (English and Arabic) kami juga disodorkan beberapa muatan “belajar merdeka” dalam pelajaran tambahan (ektra kurikuler).

Saya dan beberapa teman dari Madrasah Aliyah (MA) pada semester ganji 2022 ini mengambil kegiatan ektra kurikuler bidang jurnalistik.

Di Dayah Oemar Diyan tersedia Majalah Dinding “OD Post” sebagai tempat kami melakukan praktik jurnalistik. Kami aktif mengisi OD Post dengan berbagai liputan berita, foto dan tulisan lainnya.

Kami dari MA Oemar Diyan merasa beruntung. Pada tahun ini berkesempatan untuk belajar jurnalistik ke beberapa media besar di Aceh, salah satunya adalah ke Kantor Serambi Indonesia di Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Betapa senangnya kami. Pada Kamis, 13 Oktober 2022, kami dibawa oleh guru untuk berkunjung ke kantor Serambi Indonesia.

Baca juga: Anwar Ibrahim Pamer Video Call PM Palestina, Sultan Brunei Jadi Sopir PM Malaysia

Di kantor media terbesar di Aceh ini kami diterima oleh sejumlah jurnalis senior, seperti Bapak Subur Dani, M. Nasir dan Masrizal.

Kami semakin beruntung dalam rombongan penulis hebat yang mengajarkan kami hari itu terdapat Pak Zainal Arifin M Nur sebagai Pimpinan Redaksi.

“Pokoknya beda deh belajar ilmu menulis pada jurnalis-jurnalis ternama di Serambi Indonesia,” hati saya berbisik.

Ketika berada di Serambi Indonesia, kami dibawa ke meeting room. Di sini diceritakan sedikit masa kelam masa lalu Serambi Indonesia dan Serambi Indonesia yang sekarang oleh Bapak Zainal Arifin M. Nur sebagai pemimpin redaksi/penanggungjawab.

Diceritakan bahwa Serambi telah melewati tiga musibah. Ketiga konflik itu adalah konflik bersenjata GAM-Indonesia (1989-2005), musibah gempa 8.9 SR disusul tsunami (Desember 2004), dan terakhir pandemi Covid-19 (2020-2022).

Kata Pak Zainal, alasan pandemi menjadi paling berat untuk dilewati karena terkait jual beli (pemasaran koran).

“Koran bisa dicetak, tetapi tidak ada yang beli karena semua warung kopi ditutup,” kata Pak Pimred Serambi itu.

Baca juga: Ini Kronologi dan Dugaan Meninggalnya Mahasiswa Ditemukan di Krueng Aceh Menurut Keterangan Polisi

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved