Breaking News:

Berita Jakarta

Buruh Tolak Wacana ‘No Work No Pay’

Partai Buruh menolak sikap Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, yang menyetujui usulan pengaturan

Editor: bakri
Tribunnews/Fersianus Waku
Presiden Partai Buruh Said Iqbal di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat 

JAKARTA - Partai Buruh menolak sikap Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, yang menyetujui usulan pengaturan dan pengurangan jam kerja untuk mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Partai Buruh juga menyebut Muhadjir menyepakati sistem no work no pay atau buruh hanya mendapat upah sesuai dengan jam kerja.

"Menteri PMK sebaiknya tidak berkomentar soal no work no pay, karena tidak memahami pokok persoalan," ujar Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (3/12).

Ia juga menyatakan no work no pay tidak dikenal dalam perundang-undangan di Indonesia.

Said menjelaskan tiga alasan mengapa buruh menolak usulan no work no pay.

Pertama, menurutnya, karena bertentangan dengan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maupun Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Kedua, upaya untuk menghindari PHK telah diatur dalam peraturan Menteri Ketenagakerjaan, seperti mengurangi shift kerja, merumahkan, atau mengurangi jam kerja tanpa pemotongan upah.

Ketiga, karena usulan ini merugikan buruh.

Said mengatakan upah buruh yang diterima sekarang masih kurang.

Belum lagi jika dikurangi imbas sistem no work no pay.

Sebelumnya usulan no work no pay ini sempat dilontarkan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Anne Patricia Sutanto dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi IX DPR RI dan Menaker, beberapa waktu lalu.

"Saat ini kan undang-undang kita menyatakan 40 jam seminggu.

Baca juga: Partai Buruh Serukan People Power Jika Jabatan Presiden Diperpanjang

Baca juga: Presiden Partai Buruh Lakukan Konsolidasi di Aceh

Untuk mengurangi jumlah PHK supaya fleksibilitas itu ada dengan asas no work no pay pada saat tidak bekerja," katanya, Kemudian pada pekan ini, Muhadjir setuju dengan usulan pengaturan jam kera jika pengusaha dan pekerja sepakat.

Muhadjir juga mengaku telah berkoordinasi dengan asosiasi pengusaha, asosiasi pekerja, dan pemerintah daerah.

"Boleh dilakukan, pemotongan jam kerja, pembagian shift, waktunya harinya, silahkan, dan yang penting mereka ada kesepakatan antara pihak pekerja dengan pihak perusahaan," ungkap Muhadjir, Kamis (1/12/2022) lalu.

Saat itu Muhadjir tidak melontarkan istilah no work no pay.

Dikatakan, kini pihaknya tengah meminta Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah untuk membuat payung hukum terkait kesepakatan tersebut.

Selain itu, Ia juga meminta pihak BPJS Ketenagakerjaan memastikan jaminan kehilangan pekerjaan (JKP) bisa diberikan kepada pekerja yang terkena PHK. (cnnindonesia)

Baca juga: Ketua Partai Buruh Exco Aceh Serahkan SK Pengurus

Baca juga: Presiden Partai Buruh Said Iqbal Incar 20 Kursi DPR, Targetkan Menang Pilkada di 10 Daerah

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved