Opini
Peran Perempuan Dalam Politik
Keseimbangan hidup seorang Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah swt terlihat lebih solid dan tangguh dengan dihadirkan perempuan bernama Hawa
OLEH MISMARUDDIN SOFYAN, Mahasiswa Pemikiran Politik Islam IAIN Langsa dan Wasekwil Partai Bulan Bintang Aceh
PADA prinsipnya Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi kemuliaan dan martabat manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi.
Sejarah mencatat, praktik pentingnya seorang perempuan telah dimulai sejak manusia dilahirkan ke dunia.
Keseimbangan hidup seorang Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah swt terlihat lebih solid dan tangguh dengan dihadirkan perempuan bernama Hawa.
Alquran merefleksikan peran perempuan dalam beberapa surah dan ayat.
Bahkan nama perempuan, Maryam, menjadi bagian teladan di dalam Alquran.
Surah An Nisa ayat 32 memberikan makna hak perempuan yang sama dengan laki-laki.
“Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan dan bagi para perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan” .
Berdasarkan ayat tersebut, maka perempuan berhak mendapatkan bagian yang sama dengan laki-laki termasuk dalam berpolitik.
Perempuan dan politik Pemilihan umum legislatif diselenggarakan melalui proses demokrasi lima tahunan.
Partisipasi masyarakat dalam pemilihan sangat menentukan legalitas pemilu.
Partisipasi masyarakat dalam pemilu memerlukan upaya peningkatan bukan hanya dari segi pemilih yang merupakan indikator tingkat kesadaran dalam politik, tetapi juga peran masyarakat yang akan mengambil bagian dalam politik, di antaranya perempuan.
Baca juga: Aktivis Iran Tegaskan Belum Ada Perubahan Hak-Hak Perempuan, Polisi Moral Belum Resmi Dibubarkan
Baca juga: Tuntutan Demonstran Dipertimbangkan, Jaksa Agung Iran Tinjau Kembali Hukum Jilbab Bagi Perempuan
Kapasitas perempuan sebagai anggota organisasi politik di antaranya berhak untuk mencalonkan diri, memilih dan dipilih, serta memegang posisi dan jabatan strategis negara.
Hak politik didefinisikan sebagai hak individu dalam politik bermartabat dalam sebuah negara.
Periode keemasan keterlibatan perempuan dalam politik bermartabat terlihat di masa Rasulullah.
Perempuan memainkan peranan politik yang sangat piawai di masa Rasulullah saw.
Pada periode ini mulai terlihat peran perempuan dalam politik menjadi aktivitas penting.
Peran wanita di zaman Rasulullah di samping memberi motivasi kepada suami untuk berjuang mencapai kemenangan selain itu juga perempuan di saat itu juga mengambil bagian dalam peran politis guna menegakkan kalimat-kalimat Allah, dengan melakukan dakwah Islam, ikut berhijrah bersama Nabi, melakukan baiat kepada Nabi saw, dan ikut serta dalam peperangan bersama- sama kaum laki-laki.
Islam sangat mengistimewakan kaum perempuan.
Salah satu rukun dalam ibadah haji adalah penghormatan kepada perjuangan seorang perempuan.
Tegaknya suatu negara tidak terlepas dari peran perempuan sehingga ada ungkapan bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan.
Sehingga membuktikan bahwa keterlibatan perempuan dalam politik di masa tersebut menjadikan ghirah politik lebih bermartabat.
Peran wanita dalam merebut kemerdekaan Indonesia sangat besar.
Banyaknya wanita yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.
Para perempuan pejuang dengan strategi politiknya berjuang di masa penjajahan VOC, pemerintahan Hindia Belanda, hingga ketika perang revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Salah seorang dari banyaknya pejuang perempuan wilayah di Indonesia, adalah pejuang wanita dari Aceh.
Baca juga: Anggota DPRK Banda Aceh Musriadi Desak Pemko Segera Usul Qanun Perlindungan Anak dan Perempuan
Laksamana Malahayati merupakan salah satu pahlawan wanita dari Aceh, dan merupakan Laksamana perempuan pertama di dunia.
Selain pahlawan wanita lainnya dari luar maupun di dalam Aceh.
Seorang perempuan bernama Malahayati menorehkan tinta emas dalam sebuah perang di Selat Malaka tepatnya di Teluk Haru.
Perang antara kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Raiyat Syah dengan armada pasukan Portugis.
Pertempuran di Teluk Haru berlangsung sengit dan dimenangkan oleh armada Aceh, akan tetapi dua laksamana gugur di medan perang, dan salah satunya adalah suami dari Malahayati.
Setelah mengetahui suaminya gugur di medan perang, Malahayati bertekad untuk meneruskan perjuangan sang suami, dengan menghadap sultan dan membentuk armada Aceh yang beranggotakan para janda akibat suami mereka gugur di Teluk Haru.
Permintaan Malahayati dikabulkan oleh Sultan.
Ia dipercaya sebagai laksamana perang dan memimpin 2.000 orang armada pasukan perang yang diberi nama dengan Inong Balee.
Malahayati dikenal sebagai seorang diplomat yang ulung dan merupakan ahli politik di dalam negeri, selain kiprahnya sebagai pemimpin militer.
Berkat Malahayati Kerajaan Aceh memiliki hubungan persahabatan dengan Ratu Elisabeth I dari Inggris.
Ia pula yang menyelesaikan kondisi pelik istana tatkala Sultan Alaiddin Ali yang telah berumur 94 tahun dan oleh putra mahkotanya sendiri melakukan “kudeta”, padahal putra mahkota dikenal sebagai orang yang kurang bertanggung jawab dan tidak cakap dalam memimpin.
Hal ini membuat Malahayati melakukan manuver cerdik dengan melengserkan putra mahkota dan mengangkat Darmawangsa sebagai Sultan baru berjuluk Sultan Iskandar Muda, seorang sultan yang akhirnya memiliki nama sangat terkenal hingga ke semenanjung Malaya.
Dimensi kejayaan politik perempuan di masa dulu harusnya menjadi indikator untuk melibatkan perempuan dalam politik di saat ini.
Saat ini keterlibatan perempuan dalam politik khususnya di Aceh masih rendah.
Baca juga: Jadi Sorotan, Siapakah Sosok Perempuan di Rumah Ferdy Sambo yang Menangis Setelah Didatangi PC?
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2004 tentang Pemilu, mengatur keterwakilan perempuan di parlemen lebih dari 30 persen.
Berdasarkan data dari badan statistik data akses (www.bps.go.id) tentang keterlibatan perempuan dalam parlemen selama tahun 2020 sebesar 12.08 persen dan tahun 2021 naik menjadi 12.09 persen.
Kenaikan selama dua tahun ini hanya 1, 43 persen.
Hal ini menjadi indikator keterlibatan perempuan dalam politik khususnya di parlemen masih sangat rendah.
Peningkatan kapasitas Saat ini partisipasi perempuan dalam partai politik lebih banyak dipengaruhi keluarga, sehingga untuk meningkatkan peran perempuan dalam politik dapat dilakukan di antaranya dengan peningkatan kesadaran berpolitik bagi perempuan, melalui sosialisasi dan edukasi.
Kesadaran bahwa perempuan memiliki hak di ranah publik dan kompetensi yang sama dengan laki-laki.
Pemberian keterampilan, untuk peningkatan kesejahteraan melalui pelatihan-pelatihan.
Peningkatan kapasitas perempuan dalam berpolitik dan menjadi seorang pemimpin selayaknya harus memiliki kapasitas umum seperti cerdas, menguasai berbagai bidang, dan kritis, serta memahami instansi yang ingin dipimpin termasuk ukuran kemajuan instansi dan permasalahan yang terdapat di dalamnya.
Selain itu untuk menjadi pemimpin, perempuan juga harus memiliki keberanian untuk menepis stereotip yang ada.
Perempuan harus berani melawan arus, berani mendapat kritik, dan visioner.
Jangan merasa lemah dan harus percaya diri.
Selain itu, hal penting lain adalah untuk menjadi pemimpin harus memiliki forum dan memiliki uang.
Proses politik yang dimiliki seorang perempuan juga merupakan hal yang menjadi persoalan politik saat ini.
Dominasi laki-laki di dalam pemerintahan, politik, legislatif, dan penyelenggara politik membuat ruang gerak perempuan semakin terbatas.
Hal ini menyebabkan nilai, aspirasi dan kepentingan mereka dalam menentukan lebih banyak dilakukan laki-laki.
Padahal perempuan sendiri tentunya memiliki nilai kepentingan, aspirasi dan kebutuhan yang berbeda dengan laki-laki.
Perbedaan ini sangat penting untuk dapat terwakili dalam lembaga politik, sehingga dapat memberikan perubahan terhadap proses politik ke arah yang lebih demokratis, beretika dan bermartabat.
Ke depan kita berharap peran perempuan dalam politik menjadi garda terdepan untuk perubahan dan kemajuan berpolitik yang bermartabat di negeri ini.
Baca juga: Demonstrasi Nasional Berdarah Iran Ikut Menewaskan 60 Anak-Anak Laki-Laki dan Perempuan
Baca juga: Ganjar Jamu Makan Malam Delegasi Ulama Perempuan dari 31 Negara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MISMARUDDIN-SOFYAN-Mahasiswa-Pemikiran-Politik-Islam-IAIN-Langsa.jpg)