Kamis, 9 April 2026

Internasional

Kongo Penghasil 70 Persen Kobalt Dunia, Segera Gandeng Perusahaan Perdagangan Singapura

Republik Demokratik Kongo telah dikenal sebagai produsen kobalt terbesar dunia dengan komposisi 70 persen.

Editor: M Nur Pakar
Tangkap Layar Youtube 2nacheki
Ribuan warga sebuah desa di Kongo menggali gunung emas 

SERAMBINEWS.COM, GOMA - Republik Demokratik Kongo telah dikenal sebagai produsen kobalt terbesar dunia dengan komposisi 70 persen.

Tetapi, ketidakstabilan di Kongo timur menjadi kegagalan keamanan dan pemerintahan dalam mengamankan hasil sumber daya alam yang melimpah.

Keterlibatan lama di sektor pertambangan Pasukan Demokratik untuk Pembebasan Rwanda.

Milisi genosida yang melarikan diri dari Rwanda pada 1994, serta puluhan kelompok bersenjata ilegal Kongo yang didukung oleh militer dan pemerintah Kongo telah menjadi persoalan penambangan sumber daya alam.

"Mereka sempat mengeksploitasi sumber daya alam Kongo dengan impunitas,” kata juru bicara Yolande Makolo melalui pesan teks kepada Bloomberg, Jumat (20/01/2023).

Sedangkan sebuah rencana untuk memberlakukan monopoli atas penjualan semua kobalt yang digali dengan tangan juga merupakan bagian dari tujuan Presiden Kongo Felix Tshisekedi.

Baca juga: Pria Bersenjata Serang Kamp Pengungsi Kongo, Pasukan Penjaga Perdamaian PBB Temukan Kuburan Massal

Sehingga, akan dapat memastikan, Kongo dibayar penuh untuk mineralnya sendiri, katanya.

Entreprise Generale du Cobalt, atau EGC milik negara Kongo, masih membutuhkan tim manajemen penuh dan regulator.

Pembicaraan sedang berlangsung dengan calon mitra, termasuk Trafigura Group, pedagang komoditas yang berbasis di Singapura, katanya.

Kongo bertanggung jawab atas sekitar 70 persen produksi kobalt dunia, sebanyak 30 % di antaranya berasal dari apa yang disebut penambang artisanal.

Para penambang itu sering bekerja dalam kondisi berbahaya dan tidak diatur.

EGC mewakili salah satu harapan paling cemerlang untuk memicu perbaikan yang diperlukan," katanya.

Baca juga: Rwanda Tuduh Masyarakat Internasional Abaikan Kongo, Pemberontakan Semakin Brutal

“Trafigura tetap berkomitmen pada perjanjian komersialnya dengan EGC," ujarnya.

"Kami akan memenuhi kebutuhan mendesak untuk memulai formalisasi berskala besar dari industri kobalt ke pertambangan skala kecil dan artisanal," jelasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved