Internasional

Demonstrasi Berlangsung Ricuh, Presiden Peru Dituntut Mundur

Pengunjuk rasa dari seluruh negeri memadati Lima awal pekan ini untuk mengambil bagian dalam pawai besar-besaran, menuntut pengunduran diri Presiden

Editor: bakri
AFP/Juan Carlos CISNEROS
Kerabat korban bentrokan dengan polisi Peru menunggu dengan peti mati kosong di luar kamar mayat rumah sakit Carlos Monge Medrano di Juliaca, Peru selatan pada 10 Januari 2023. 

LIMA - Pawai yang disebut sebagai pengambilalihan ibu kota Lima meningkat menjadi pertempuran.

Pengunjuk rasa dan polisi anti huru hara ribut di tengah lemparan batu dan gas air mata pada Kamis (19/1/2023) malam di ibu kota Peru.

Ribuan pengunjuk rasa dari seluruh negeri memadati Lima awal pekan ini untuk mengambil bagian dalam pawai besar-besaran, menuntut pengunduran diri Presiden Dina Boluarte.

Seperti dilansir dari Guardian, situasi Peru masih mencekam.

Hampir enam minggu kekacauan terjadi dan telah menewaskan lebih dari 50 orang, termasuk satu petugas polisi dan delapan orang lainnya yang meninggal akibat pemogokan dan blokade.

Dalam pidato televisi larut malam, Boluarte mengatakan polisi telah mengendalikan protes dan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan dan vandalisme tidak akan dibiarkan tanpa hukuman.

Boluarte menambahkan bahwa aksi di ibu kota bukan pawai damai.

"Pemerintahan kami tegas dan kabinet lebih bersatu dari sebelumnya," ujar Boluarte.

Dia juga mengeklaim bahwa protes tersebut tidak memiliki agenda sosial melainkan berusaha untuk melanggar aturan hukum, menimbulkan kekacauan, serta merebut kekuasaan.

Dia menambahkan bahwa serangan terhadap tiga bandara regional telah direncanakan sebelumnya dan akan dihukum dengan hukum yang ketat.

Baca juga: Sosok Pedro Castillo, Presiden Miskin Pertama Peru yang Terjungkal karena Korupsi

Baca juga: Pedro Castillo Presiden Peru yang Dimakzulkan Kini Hadapi Tuntutan Pidana atas Tuduhan Pemberontakan

“Kepada rakyat Peru, kepada mereka yang ingin bekerja dalam damai dan kepada mereka yang melakukan aksi protes, saya katakan, bahwa saya tidak akan bosan mengajak mereka untuk berdialog dengan baik, untuk memberi tahu mereka bahwa kami bekerja untuk negara,” katanya.

Satu orang tewas dan sekitar 10 lainnya cedera dalam bentrokan dengan polisi di kota selatan Arequipa pada Kamis, menurut kantor ombudsman Peru.

Saat itu pengunjuk rasa dilaporkan mencoba menyerbu bandara.

Beberapa bandara telah ditutup dan sebagian besar negara telah dilumpuhkan oleh lebih dari 120 penghalang jalan.

Kemarahan atas meningkatnya jumlah kematian telah memicu protes yang meningkat, yang dimulai pada awal Desember 2022.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved