Berita Pidie
Banjir di Pidie Susah Surut Seperti Tsunami, Ketinggian Air Mencapai Setengah Meter
Betapa tidak, air menerobos rumah warga pada Senin (30/1/2023) sejak pukul 08.00 WIB, tapi hingga pukul 17.05 WIB, banjir belum kunjung surut.
Penulis: Muhammad Nazar | Editor: Saifullah
Laporan Muhammad Nazar | Pidie
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Banjir yang menerjang Kabupaten Pidie sangat dirasakan masyarakat dan cukup berdampak bagi Kecamatan Pidie dan Kota Sigli.
Betapa tidak, air menerobos rumah warga pada Senin (30/1/2023) sejak pukul 08.00 WIB, tapi hingga pukul 17.05 WIB, banjir belum kunjung surut.
Parahnya lagi, ketinggian air melewati lutut orang dewasa.
Bahkan, pada titik-titik tertentu, air masih tinggi mencapai satu meter lebih.
"Saya sudah 20 tahun tinggal di Kota Sigli, tapi belum pernah kejadian banjir separah ini," tukas warga Kota Sigli, Zukhri.
Banjir merendam rumah dan sarana prasarana umum susah surut seperti tsunami," kata mantan anggota DPRK Pidie, Zukhri Maulidinsyah Adan kepada Serambinws.com, Senin (30/1/2023).
Baca juga: Anggota DPRK Pidie Bantu Korban Banjir di Sigli
Ia menjelaskan, genangan air akibat banjir terjadi di sejumlah ruas jalan protokol Kota Sigli, belum pernah separah seperti yang terjadi tahun 2023 ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi di Pidie, Pemerintah wajib menjelaskan kepada publik terkait dengan lamanya genangan air hujan dan luapan sungai setinggi lutut hingga pinggang di jalan protocol, bahkan di Kantor Bupati Pidie," tukasnya.
Selain itu, lanjut mantan aktivis itu, banjir belum surut dan masih menggenangi Gampong Lampoh Lada, Cot Teungeh, dan Cot Rheng, Kecamatan Pidie.
Ketinggian air di Cot Teungeh, malah mencapai sekitar satu meter lebih.
Banjir belum surut juga terjadi di Gampong Blang Asan dan Gampong Asan, Kecamatan Kota Sigli.
Menurutnya, sudah saatnya pemerintah memberi jawaban yang benar kepada publik.
Baca juga: Prakiraan Cuaca di Jakarta, Bandung dan Kota Besar Lainnya, Selasa 31 Januari 2023
"Apakah ini bentuk kesalahan rancangan pembangunan sejak dari RT/RW Kota Sigli dan atau Kabupaten Pidie," tegasnya.
Kata Zukhri, saat ini ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Sigli saat ini berubah menjadi kawasan terbuka banjir.
"Alasan klasik sumbatnya drainase sudah sering kami dengar, nyanyian apa lagi yang pemerintah nyanyikan dari pertanyaan rakyat terkait banjir selain drainase yang sumbat,” sindir dia.
“Jujur saja bila ada kesalahan tata ruang hingga ada kejadian tenggelam Kota Sigli dan Kecamatan Pidie, yang telah dua kali merasakan banjir," jelasnya.
Sementara itu, sejumlah warga menyebutkan, bahwa banjir belum surut dari rumah warga Gampong Lampoh Lada, Cot Rheng, Cot Teungeh, Blang Asan, dan Gampong Asan, akibat bobolnya tanggul Krueng Teubeng.
Sehingga air Krueng Teubeng yang bersumber dari Padang Tiji itu meluap dan merendam sejumlah gampong di Kecamatan Pidie serta Kota Sigli.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/F20230130aya0001.jpg)