Internasional

Kisah Keajaiban Satu Keluarga Terkubur Hidup-Hidup di Turkiye, Akhirnya Bisa Berkumpul Kembali

Kisah-kisah keajaiban para korban gempa Turkiye dan Suriah yang berhasil diselamatkan dari bawah reruntuhan bangunan terus mencuat ke permukaan.

Editor: M Nur Pakar
BBC News
Necla Camuz akhirnya bersatu kembali dengan suaminya Irfan dan putranya yang berusia tiga tahun Yigit Kerim di sebuah rumah sakit Provinsi Hatay, Turkiye. 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Kisah-kisah keajaiban para korban gempa Turkiye dan Suriah yang berhasil diselamatkan dari bawah reruntuhan bangunan terus mencuat ke permukaan.

Sudah seminggu sejak gempa 7,8 SR mematikan melanda Turkiye dan Suriah, menewaskan puluhan ribu orang.

Namun di tengah keputusasaan itu, ada kisah keajaiban dari satu keluarga dan ini salah satunya.

Saat seorang ibu bernama Necla Camuz melahirkan putra keduanya pada 27 Januari 2023, dia menamainya Yagiz, yang berarti "pemberani".

Hanya 10 hari kemudian, pada Senin (6/2/2023) pukul 04.17 waktu setempat, Necla bangun untuk memberi makan putranya di rumah mereka di provinsi Hatay, Turkiye selatan.

Beberapa saat kemudian, mereka terkubur di bawah gundukan puing.-puing bangunan tempat mereka tinggal.

Necla dan keluarganya tinggal di lantai dua sebuah gedung modern berlantai lima di kota Samandag.

"Itu sebuah bangunan yang bagus dan merasa aman disana", katanya kepada BBC News pada Senin (13/2/2023) di rumah sakit, tempat mereka dirawat.

Dia tidak tahu pagi itu, daerah itu akan terkoyak oleh gempa, dengan bangunan yang rusak dan hancur di mana-mana.

Bayi Turkiye Selamat dari Reruntuhan Bangunan
Bayi Yagiz saat diselamatkan oleh tim penyelamat Turkiye di Provinsi Hatay.

Baca juga: Gempa Dahsyat Bisa Saja Mengakhiri Kekuasaan Erdogan, Oposisi Turkiye Mulai Lontarkan Racun Politik

"Ketika gempa dimulai, saya ingin pergi ke suami saya yang berada di ruangan lain, dan dia ingin melakukan hal yang sama," katanya.

"Tetapi ketika dia mencoba untuk datang kepada saya dengan putra kami yang lain, lemari itu menimpa mereka dan tidak mungkin bagi mereka untuk bergerak," ujarnya.

“Saat gempa semakin besar, tembok roboh, ruangan berguncang, dan bangunan berubah posisi," tambahnya.

" Saat berhenti, saya tidak sadar sudah jatuh ke lantai bawah dan saya meneriakkan nama mereka, tapi tidak ada jawaban," katanya.

Wanita berusia 33 tahun itu mendapati dirinya berbaring dengan bayinya di dadanya, masih dalam pelukannya.
Sebuah lemari pakaian yang jatuh di sebelahnya menyelamatkan nyawa mereka dengan mencegah lempengan beton besar menghancurkan mereka.

Pasangan ini akan tetap di posisi ini selama hampir empat hari.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved