Video
VIDEO Satu-satunya di Asia Tenggara, Situs Bukit Kerang di Aceh Tamiang Bisa Datangkan PAD
Dari penelitian situs ini, tim peneliti memiliki bahan akurat untuk mengungkap sejarah peradaban manusia zaman dulu.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: T Nasharul
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Bukit Kerang di Aceh Tamiang diklaim sebagai situs sejarah terakhir yang masih utuh di Asia Tenggara. Bila dikemas dengan baik, situs bersejarah ini akan menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).
Keabsahan Bukit Kerang di Aceh Tamiang sebagai peninggalan sejarah ini dikuatkan oleh penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dilakukan tujuh tahun lalu.
Secara menyeluruh tim peneliti yang diketuai Prof Truman Simanjuntak ini menemukan enam situs bukit kerang (kjokken moddingger) di Aceh Tamiang.
Baca juga: Dewan dan Apkasindo Soroti Realisasi PSR di Aceh Tamiang Rendah, Ada Syarat yang Dinilai Rumit?
Keenam bukit kerang ini ditemukan di lokasi terpisah oleh 10 anggota tim peneliti Arkenas.
Namun sayangnya hanya satu situs yang dinyatakan masih utuh yakni di Kampung Masjid Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, sementara lima lainnya sudah mengalami kerusakan parah.
Menariknya, situs di Kampung Masjid Sungai Iyu yang dinyatakan utuh itu dipastikan satu-satunya situs yang tersisa di Asia Tenggara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Tamiang melalui Kabid Kebudayaan, Mustafa Kamal menjelaskan dalam laporan itu dijelaskan kalau di daratan Asia Tenggara tidak ada lagi situs bukit kerang dalam kondisi utuh.
Baca juga: Situs Bukit Kerang, Bukti Kehidupan Manusia di Aceh Tamiang Telah Ada Sejak 12 Ribu Tahun Lalu
Hampir seluruh situs bukit kerang di Asia Tenggara sudah rata dengan tanah akibat modernisasi zaman.
Dari penelitian situs ini, tim peneliti memiliki bahan akurat untuk mengungkap sejarah peradaban manusia zaman dulu.
Diyakini kalau kehidupan di Aceh Tamiang sudah dimulai 12 ribu tahun lalu.
Bukit kerang terjadi akibat kebiasaan manusia zaman dulu yang tinggal di rumah bertiang di tepi pantai dengan mengandalkan konsumsi kerang.
Kebiasaan ini berlangsung hingga ribuan tahun yang menyebabkan cangkang kerang yang dibuang menumpuk hingga membentuk bukit.
Melihat adanya potensi kerusakan ini, anggota DPRK Aceh Tamiang Muhammad Irwan pun berharap Pemkab Aceh Tamiang berperan aktif menjaga sekaligus merawat peninggalan sejarah ini.
Baca juga: Tangkal Banjir, Warga Kampung Bundar Aceh Tamiang Minta Dibangun Pintu Air, Ini Tanggapan Kadis PUPR
Menurutnya situs bukit kerang ini merupakan warisan sejarah yang harus diperkenalkan ke seluruh negara.
Dia sangat yakin bila kelestarian terjaga, maka ke bukit kerang akan menjadi daya tarik wisata manca-negara.