Rabu, 15 April 2026

Serambi Demokrasi Awards 2023

Cinta Bardan Sahidi dalam Denyut Nadi Rakyat Gayo

Bardan Sahidi yang juga Anggota DPRA dari Fraksi Partai PKS Aceh meraih penghargaan untuk kategori "Politisi Peduli Pemuda dan Olahraga".

|
Editor: IKL
SERAMBI INDONESIA
Bardan Sahidi, Politisi Peduli Pemuda dan Olahraga 

BARDAN SAHIDI, Anggota DPR Aceh adalah salah satu figur yang mendapatkan anugerah "Serambi Demokrasi Awards 2023" yang digelar pada malam puncak resepsi HUT Ke-34 Harian Serambi Indonesia, di Gedung AAC Dayah Dawood, Banda Aceh, Jumat 17 Maret 2023. Bardan Sahidi yang juga Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai PKS Aceh meraih penghargaan untuk kategori "Politisi Peduli Pemuda dan Olahraga". Berikut profil dan kiprahnya.

TAKENGON - Topografi Aceh Tengah yang sulit tidak membuat Bardan Sahidi, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang duduk di DPR Aceh ini, patah semangat.

Ia menguatkan hati terus hadir dan menyatu dengan masyarakat. Tekad bulat dan keinginan selalu berada dalam irama denyut nadi masyarakat itulah yang membuatnya berkeliling ke banyak tempat, ke kampung paling pelosok sekalipun.
Bardan Sahidi telah menjejakkan kaki di seluruh Tanah Gayo, Aceh Tengah.

Ia mencintai masyarakat. Sebaliknya, ia juga mendapatkan balasan cinta dari masyarakat.

Tekad bulat dan keinginan selalu berada dalam irama denyut nadi masyarakat itulah yang membuatnya berkeliling
ke banyak tempat, ke kampung paling pelosok sekalipun.

Bardan Sahidi telah menjejakkan kaki di seluruh Tanah Gayo, Aceh Tengah. Ia mencintai masyarakat. Sebaliknya, ia
juga mendapatkan balasan cinta dari masyarakat.

“Ada hal yang sulit kita lukiskan dengan kata-kata ketika menyatu dalam momen-momen tertentu bersama masyarakat,” cerita Bardan Sahidi sambil menyeruput kopi pagi di Kedai Kopi Pak Kahen, selepas menunaikan shalat Subuh di Masjid Agung Ruhama Takengon.

Kedai itu ramai oleh jamaah subuh yang hadir dari berbagai masjid di seputaran Kota Takengon. Bardan Sahidi, salah seorang pelanggan kedai yang terletak di Jalan Sengeda ini.

Bardan menyadari betul bahwa masyarakat masih membutuhkan perhatian. Karena itu, ia berusaha sebanyak mungkin berada di tengah masyarakat.

Boleh jadi, Bardan Sahidi salah seorang wakil rakyat yang menghabiskan lebih banyak
waktunya di daerah pemilihan ketimbang di Gedung DPR Aceh di Banda Aceh.

“Kalau tidak ada rapat paripurna, rapat komisi, atau tugas keluar daerah, saya lebih memilih pulang ke Tanah Gayo, bertemu rakyat Banyak hal yang perlu kita selesaikan di sana. Rasanya tidak cukup waktu,” kata Bardan.

Jadwalnya memang cukup padat. Setiap Jumat, jadi khatib dan imam di masjid besar kecamatan atau Masjid Jamik, masjid yang didirikan untuk menampung jamaah antarkampung. Lalu, setiap Sabtu Bardan berada di Rumah Sakit Datu Beru Takengon atau Puskemas Rawat Inap. Ia menjenguk pasien atau keluarga pasien yang berada di rumah sakit atau puskesmas.

Kemudian Senin, ia berada di tengah siswa sekolah menengah atas sebagai pembina upacara. Di sela-sela itu, ia bertemu dengan komunitas panjat tebing, arung jeram, komunitas sepeda, atau klub futsal. Sesekali ia juga bertemu dengan komunitas seni.

Di sela-sela itu, ia bertemu dengan komunitas panjat tebing, arung jeram, komunitas sepeda, atau klub futsal.
Sesekali ia juga bertemu dengan komunitas seni.

Melaju dengan kendaraan vespa tua, raung kenalpot memecah kesunyian pagi, begitulah Bardan Sahidi menjalani rutinitasnya. Sebuah konsep pengabdian yang terstruktur baik dan luas cakupannya.

Jadwal ini rutin ia kerjakan setiap waktu. Bardan merupakan utusan dari Dapil IV meliputi Aceh Tengah dan Bener Meriah ke Gedung DPR Aceh. Semua aktivitas tersebut dikerjakan sebagai bagian dari tugasnya sebagai wakil rakyat.

Medan perjuangan Bardan tidak bisa dianggap remeh. Sebaran permukiman penduduk berada di 14 kecamatan dengan 295 kampung. Sebagian besar berada di pelosok.

Kecuali empat kecamatan, Lut Tawar, Bebesen, Bies, Kebayakan, relatif mudah dijangkau, sebab berada di wilayah perkotaan. Di luar itu, berada di “pinggiran” kalau tidak ingin disebut pelosok.

Suatu ketika, cerita Bardan, ia sedang melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Ia mengunjungi
puskesmas, meninjau jalan, jembatan, dan bertemu masyarakat. Kebetulan hari itu Jumat.

Ia pun menuju masjid di salah satu kampung kecamatan itu. Saat waktu Jumat tiba, belum ada tanda-tanda shalat akan dimulai. Jamaah yang sudah hadir ke masjid mulai gelisah atau “macik” dalam bahasa Gayo. Rupanya, Pak Imam yang bertugas sebagai khatib dan imam Jumat, belum juga datang ke masjid.

Jamaah tentu makin “macik”. Mengetahui hal itu, Bardan Sahidi yang sedang mengenakan pakaian lapangan, diminta jamaah naik mimbar menyampaikan khutbah Jumat. Bardan juga diminta jadi imam.

Permintaan itu dijalankannya dengan baik Pak Imam yang ditunggu, belakangan diketahui sedang pergi ke Timang Gajah, membayar tagihan listrik.

Dalam perjalanan pulang, ban sepeda motornya bocor. Inilah alasan Pak Imam tidak bisa tiba tepat waktu di masjid tadi. Saat sudah kembali dan bertemu Bardan Sahidi, Pak Imam menyampaikan bahwa Jumat sebelumnya juga tidak ada shalat Jumat di masjid tersebut. Alasannya, tidak ada khatib.

“Sungguh sangat miris kita mendapati kenyataan ini. Bahwa masih banyak masjid di pelosok kampung yang tidak bisa
menjalankan Jumatan karena tidak ada khatib,” kata Bardan.

Kenyatan seperti ini yang membuat Bardan makin bertekad harus terus keluar masuk kampung, sekalipun terpencil di tengah lembah.

Ia pun lalu menyusun program “Safari Jumat”. Hasilnya mulai kelihatan. Paling tidak, lanjut Bardan, di setiap masjid terdapat buku panduan sebagai khatib dan buku kumpulan khutbah Jumat. Sehingga, kalau khatib yang diundang berhalangan, ada pengganti.

Seperti diutarakan Bardan di awal, kalau masjid berada di kecamatan wilayah perkotaan, tidak sulit. Tapi, ini berada di kecamatan perbatasan dengan kampung yang terpencil, seperti Kecamatan Linge, Bintang, Rusip Antara, Kecamatan Ketol.

Ia juga menyebut nama kampung yang masih sulit dijangkau seperti Bergang, Kekuyang, Karang Ampar, dan sebagainya.
“Ini menjadi daerah yang harus saya kelilingi, melihat bagaimana tata laksana peribadatan, tata laksana ibadah Jumat, dan sebagainya,” kata Bardan.

Ia juga menemukan tradisi masyarakat di kampung. Setelah shalat Jumat ada “kenduri rohol” di rumah imam dan masjid. Tradisi ini baik. Makannya ada “bertih, awal pisang nur, telur kampung” dan itu menjadi makanan yang ditunggu oleh anakanak ketika pulang Jumat. “Ini tradisi baik, bagaimana menggairahkan warga untuk datang ke majelis-majelis Jumat,” lanjut Bardan.

Ia sendiri kalau “Safari Jumat” menyampaikan materi yang umum, tapi karena yang menyampaikan pejabat publik, masyarakat mendengarkannya.

Sementara di beberapa tempat, majelis pengajian kaum ibu cukup aktif. “Yang dikaji sederhana, perukunen dan lain-lain. Mereka hafal Asmaul Husna. Ini rata -rata kampung. Hafal sifat wajib, sifat
mustahil.

Ini adalah penanaman tauhid yang mereka lakukan sendiri di kampung itu,” ujarnya. “Adapun kehadiran kita adalah untuk menangkap persoalan di kampung dan kemudian mengomunikasikannya dengan dinas terkait, seperti Dinas Syariat Islam, Pendidikan Dayah, dan sebagainya, agar hadir sebagai ‘suluh terang’ bagi masyarakat,” tambahnya.

Bardan Sahidi dalam setiap kunjungan ke kampung, selalu melihat empat bidang. Pertama, bidang pendidikan, memastikan anak-anak bersekolah.

Kedua, layanan kesehatan. Ketiga, ekonomi masyarakat, sumber mata pencaharian. Keempat, bidang rohaniah, bertemu masyarakat di masjid dan melihat apa yang dibutuhkan masyarakat dalam mendukung kegiatan peribadatan.

Terkait fasilitas dan infrastruktur peribadatan seperti masjid, mersah, dan joyah, menurut Bardan dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Mersah adalah tempat pendidikan atau pengajian kaum laki-laki, sedangkan joyah untuk perempuan.

Pemerintah memang punya program pembangunan masjid. Di tingkat provinsi namanya masjid raya, di kabupaten ada masjid agung, di tingkat kecamatan masjid besar, dan masjid jamik dibangun untuk menampung jamaah antarkampung. Namun, di luar itu, masyarakat masih harus bergerak membangun sarana peribadatan yang dibutuhkan kampung. Sebab, fasilitas yang dibangun pemerintah sangat terbatas.

Masyarakat juga memberi nama sendiri masjid atau mersah yang mereka bangun sendiri. Ada yang disebut Masjid Sjech Sirajuddin, Masjid Asaliah, Mersah Kala, Masjid Bah, dan sebagainya. “Ini menarik, masyarakat memberi nama untuk mengenang ulama-ulama atau pensyiar tertentu yang ada di kampung itu,” cerita Bardan.

Lalu bagaimana dengan insfrastruktur jalan yang menghubungkan antarkampung atau antarkecamatan? Soal ini Bardan mengatakan, masyarakat tahunya itu jalan pemerintah. Mereka tidak tahu ada istilah jalan kabupaten, jalan provinsi, atau jalan nasional. “Kalau jalan rusak, mereka tahunya itu jalan pemerintah, dan pemerintah harus segera lakukan perbaikan,” kata Bardan.

Dalam rangka fungsi pengawasan, Bardan tentu hafal seluruh kategori jalan sehingga memudahkan dirinya rapat dengan pihak terkait.

“Soal insfrastruktur jalan ini memang masih terkendala. Seringkali, kami harus terbenam dalam lumpur saat musim hujan, dan tidak jarang juga longsor.

Karena saya sering keluar masuk kampung, jadi tahu betul ruas-ruas jalan yang rawan,” ungkap Bardan. Bardan membaca denyut nadi masyarakatnya. Karena itu, ia tahu betul kebutuhan masyarakat yang kemudian ia komunikasikan di Gedung DPR Aceh atau dalam rapat-rapat dengan pemerintah.

Biodata Bardan Sahidi:

• Lahir di Takengon, 28 Desember 1979.
• Alamat Jalan Syiah Utama Nomor 159 Takengon Timur, Aceh Tengah

Pendidikan
• Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 2013;
• Program Doktoral Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, (disertasi 2022);

Kursus
• Lemhannas RI Pendidikan Reguler Angkatan PRA XIII Tahun 2007;
• Penguatan Konsepsi Ketahanan dan Kepemimpinan Nasional.

Jabatan
• 2014: Anggota DPR Aceh periode 2014- 2024;
• 2004: Anggota DPRD Aceh Tengah periode 2004-2014.

Pengalaman Kerja
• 2019: Aceh Climated Change Initiative (ACCI) Programme;
• 2006: Aceh Local Governance Academy (ALGAP) GTZ EU;
• 2005: Islamic Relief Tsunami Disaster Aceh BRR NAD-Nias;
• 2004: Pemantau Pemilu Pilkada Aceh, Forum Rektor-UNDP;
• 2003: Livelihood Program Muhammadiyah Aceh Tengah-CARDI;
• 2002: Konsultan Bina Swadaya Padang, Departemen Dalam Negeri RI-UNICEF;
• 2001: Dosen Tidak Tetap STAI Gajah Putih Takengon; dan
• 1998: Pos Bantuan Hukum dan PB HAM Aceh Tengah.

Keluarga
• Istri : Zakiah Hamid
Anak :
• Arina Izzataki Bardan
• Gaza El Nadhil Bardan

Media Sosial
• WhatsApp: +62 0852 9730 8979
• Facebook Page: Bardan Sahidi
• Instagram: @bardansahidi
• TikTok: @bardansahidi
• E-mail: bardansahidi@gmail.com

Baca Pdfnya Disini!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved