Salam
Standar Ganda FIFA di Piala Dunia U-20
FIFA lalu mengambil keputusan untuk membatalkan drawing atau pengundian Piala Dunia U-20 di Bali yang direncanakan pada 31 Maret mendatang.
SELAMA dua hari berturut-turut, Harian Serambi Indonesia menurunkan laporan tentang Piala Dunia U-20 tahun 2023 sebagai berita utamanya. Isu ini memang tengah menjadi perhatian pub-lik Tanah Air di tengah menyeruaknya kabar dibatalkannya Indonesia sebagai tuan rumah oleh Federasi Sepakbola Dunia (FIFA).
Piala Dunia U-20 FIFA, atau sebelum 2005 disebut Piala Dunia Pemuda FIFA, adalah kejuaraan sepak bola resmi yang diadakan FIFA setiap dua tahun sekali. Kejuaraan bergengsi ini diikuti oleh setiap negara yang mengirimkan tim nasional sepak bola di kelompok umur di bawah 20 tahun.
Edisi ke-23 turnamen ini akan diselenggarakan di Indonesia, yang dijadwalkan pada tanggal 20 Mei hingga 11 Juni 2023. Ada 24 tim negara yang lolos, termasuk salah satunya timnas Israel.
Nah, di sini masalah mulai muncul. Suara-suara protes ber-munculan, baik dari politisi, tokoh agama, ormas, hingga kepala daerah seperti Gubernur Bali, I Wayan Koster. Mereka menolak kehadiran timnas Israel, yang dikaitkan dengan penjajahan negara zionis tersebut terhadap Palestina.
FIFA lalu mengambil keputusan untuk membatalkan drawing atau pengundian Piala Dunia U-20 di Bali yang direncanakan pada 31 Maret mendatang.
“Memang kami belum mendapat surat resmi dari FIFA, tetapi pesannya jelas karena adanya penolakan dari Gubernur Bali yang menolak Tim Israel sehingga dengan sendirinya drawing tidak bisa dilaksanakan tanpa seluruh peserta,” kata Anggota Exco Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Arya Sinu-lingga dalam konferensi pers, Minggu (26/3/2023).
Tidak hanya itu, FIFA sepertinya juga akan membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Mantan pengurus PSSI, Yesayas Oktavianus dalam sebuah podcast dikutip Tribun Network, Senin (27/3/2023), mengatakan, FIFA s-dang menyiapkan tiga negara pengganti sebagai tuan rumah, ya-itu Peru, Argentina, dan Qatar.
Jika pembatalan itu benar terjadi, salah satu dampak buruknya adalah pengucilan Indonesia dari ekosistem sepak bola dunia. Selain itu, sanksi FIFA juga dipastikan akan berdampak pada agenda tim nasional dan juga kompetisi liga lokal. Belum lagi dampak-dampak lainnya secara ekonomi.
Memang sangat disayangkan, sebuah event olahraga bergengsi level global harus batal diselenggarakan di Indonesia hanya karena persoalan politik berbau agama. Tetapi di sisi lain, keputusan pembatalan itu juga menunjukkan adanya standar ganda yang dilakukan induk organisasi resmi sepak bola di dunia tersebut, terutama ketika dihadapkan dengan isu Israel.
Kita semua tentu belum lupa bagaimana FIFA ‘menendang’ Ru-sia dari Piala Dunia 2022 di Qatar karena telah melakukan inva-si ke Ukraina. Dalam kasus ini terlihat jelas bagaimana FIFA men-jadikan ajang olahraga sebagai alat politik untuk menekan Rusia agar menghentikan agresi militernya. Lalu apa bedanya dengan Israel yang sudah puluhan tahun menjajah Palestina?
Karena itu, saat ini mungkin menjadi moment yang tepat bagi Indonesia menegaskan posisinya di kancah dunia sebagai negara yang tegas menolak segala bentuk penjajahan. Sekaligus mengkritisi FIFA yang inkonsisten terhadap falsafah olahraga yang selalu mereka agung-agungkan.
POJOK
Erick Thohir akan ke Zurich melobi FIFA
Jangan sampai kebalik ya Pak, FIFA lobi Indonesia agar izinkan Israel
183 warga Rohingya terdampar di Pereulak
Tetapi alasannya diturunkan dari kapal kan?
Ketua Banggar DPR bagi-bagi uang
Hahaha... gaya lama nih, mau dekat pemilu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Logo-Piala-Dunia-U20-2023-Indonesia.jpg)