Serambi Demokrasi Awards 2023
Mengadvokasi Korban Perdagangan Manusia
Pada awal Januari lalu, ia langsung berangkat ke Malaysia saat mendapat informasi ada dua gadis Aceh yang dijual ke rumah bordil.
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Ibrahim Aji
SELAIN aktif turun langsung menerima aspirasi masyarakat, kepedulian Iskandar Ali juga tidak hanya di Aceh Besar saja.
Ia juga acap kali memulangkan warga Aceh yang mengalami sakit di Malaysia yang tidak bisa pulang karena terkendala biaya.
Kini yang menjadi perhatian Iskandar adalah banyaknya warga Aceh yang menjadi korban tindak pidana perdagangan manusia atau human trafficking di Malaysia.
Pada awal Januari lalu, ia langsung berangkat ke Malaysia saat mendapat informasi ada dua gadis Aceh yang dijual ke rumah bordil.
Dua gadis Aceh berumur 19 tahun dan 24 tahun menjadi korban human trafficking oleh oknum di Malaysia.
Keduanya berangkat ke Malaysia dijanjikan pekerjaan oleh pelaku yang merupakan warga Pidie.
Namun, setelah tiba di Malaysia dokumen mereka ditahan oleh agen (Mucikari) dari kedua gadis belia itu dijual ke tempat seks komersial.
Kondisi itu, menurut Iskandar, sangatlah miris.
Dan ia berharap unsur stakeholder di Aceh untuk turut serta menjaga agar anak Aceh tidak menjadi korban perdagangan manusia.
Baik itu dipekerjakan di sektor formal maupun informal.
Terlebih, kebanyakan korban human trafficking di Malaysia itu dijual orang Aceh sendiri.
Mereka bekerja sama dengan agen-agen diluar Aceh seperti Medan dan sebagainya.
Ia juga sempat melakukan wawancara langsung kepada kedua korban human trafficking yang ia temui di Malaysia.
Mereka mengaku, telah ditipu oleh orang yang menawarkan pekerjaan.
Mereka semula dijanjikan untuk bekerja di sektor formal dan diimingi gaji yang tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Iskandar_Ali_2023_Serambi_Awards.jpg)