Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Tradisi Ramadhan di Bumi Peradaban Islam Mesir

Cerita fanous ini, menurut tradisi Islam di Mesir,  bermula dari seorang khalifah Kerajaan Fatimiyah yang hendak melihat rukyah bulan Ramadhan.

Tayang:
Editor: mufti
IST
AZMI PUTRA GAYO 

Tradisi ini sudah dilakukan dari generasi ke generasi di Mesir. Kedermawanan mereka merupakan anugerah bagi saya saat ini. Tertulis di pembagian buka puasa tersebut mai’dah rahman (hidangan) Allah Yang Maha Penyayang. Si pemberi tidak ingin disebutkan namanya. Begitulah tradisi indah di Mesir, hampir di setiap tempat ada Ma’idaturrahman. Sekarang mereka sedang inflasi tapi masih memberikan sedikit yang mereka punya.

Tidak hanya orang Islam yang memberi, tetapi yang nonmuslim juga sangat senang berbagi dengan orang-orang muslim, bahkan di satu meja duduk yang sama berbuka puasa dan makan besama nonmuslim. Oh, indahnya toleransi di Mesir.

Nah, ketika membangunkan orang untuk sahur, ada satu tradisi unik di Mesir yang hampir mirip dengan Indonesia. Walaupun di sekitar tempat tinggal saya tidak terdengar, tetapi tradisi tersebut sesekali masih dipraktikkan di Mesir, yakni tradisi membangunkan sahur dengan drum kecil sambil berteriak-teriak membangunkan orang lain. Biasanya anak-anak di Mesir sangat suka dan mengikuti gaya berteriak si pemain drum kecil. Bagi warga yang sudah terbangun biasanya memberikan uang seikhlasnya ataupun tidak. Tradisi ini disebut dengan nama el-messaharaty.

Beberapa teman saya memberikan komentar terhadap kebaikan muhsinin (sebutan orang baik yang biasanya memberikan sembako atau bantuan berupa uang) Mesir bahwa sulit menemukan orang-orang dermawan seperti yang berada di Mesir, masih memikirkan orang lain walaupun kondisi keadaan diri sendiri dalam keadaan sulit, terkhusus Ramadhan memberikan buka puasa dan uang saku dalam keadaan tidak terduga, terkadang sebagian halakah (suatu perkumpulan belajar) tahfiz (menghafal Al-Qur’an) dan tahsin (memperbaiki bacaan Al-Qur’an) seperti murid-murid yang belajar di Masjid Syekh Sholeh Ja’fari banyak 5 kg kurma untuk setiap mahasiswa.

Terkadang juga secara tidak sengaja, orang Mesir langsung memberikan uang 200 pound Mesir secara cuma-cuma dan tidak terduga, tidak pernah bertemu dan berbicara sebelumnya, kecintaaan mereka terhadap pelajar-pelajar Universitas Al-Azhar Mesir tidak bisa diukur dengan uang, tapi dengan dakwah di negeri masing-masing.

Sebelum tulisan ini dirilis saya juga sempat melihat komentar Ustaz Abdul Somad, seorang pendakwah kondang lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, dalam postingan Istagram pribadinya menuturkan kisah kebaikan dan kecintaan masyarakat Mesir di bulan Ramadhan kepada mahasiswa Azhar kepada wafidin (utusan pelajar dari negara selain Mesir) yang akan meneruskan dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Suasana Ramadhan di bumi peradaban Islam ini begitu mengesankan bagi para perantau seperti saya. Walaupun kerinduan pada keluarga di kampung halaman kerap hadir di momen Ramadhan seperti ini, tetapi kemeriahan di Mesir membuat segala rindu terobati.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved