Citizen Reporter
Tradisi Ramadhan di Bumi Peradaban Islam Mesir
Cerita fanous ini, menurut tradisi Islam di Mesir, bermula dari seorang khalifah Kerajaan Fatimiyah yang hendak melihat rukyah bulan Ramadhan.
AZMI PUTRA GAYO, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, dan Jurnalis Informatika Mesir, melaporkan dari Kairo
PERASAAN kagum itu hadir tatkala awal Ramadhan di Kairo. Saat itu, saya berjalan di gang-gang apartemen di sekitaran Kota Kairo. Pancaran terang pernak-pernik lampu di negara ini hampir tidak pernah padam pada bulan Ramadhan.
Pasar sekeliling jalan di setiap distrik yang dihiasi oleh fanous, lampu yang berasal dari kata Yunani yang berarti lilin. Saat ini fanous digunakan di dunia Arab sebagai lentera yang terbuat dari timah dan kaca yang berwarna-warni.
Dalam bahasa Mesir tertulis dengan فانوس dibaca faanuus. Makna fanous menurut bahasa Arab adalah titik putih pada warna hitam. Penamaan ini merujuk kepada pembawa fanous yang terang benderang ketika berada di kegelapan.
Fanous juga digunakan dahulu sebagai tanda waktu pengingat masuknya waktu imsak. Jika cahaya lampu lilin di dalam fanous sudah meredup padam maka itu tanda waktu imasak, maka segeralah hentikan aktivitas makan minum.
Cerita fanous ini, menurut tradisi Islam di Mesir, bermula dari seorang khalifah Kerajaan Fatimiyah yang hendak melihat rukyah bulan Ramadhan. Masyarakat berjalan mengelilinginya untuk mencari jalan yang dilalui. Dan masing-masing orang membawa fanous menyanyikan syair indah untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Versi lain, salah seorang khalifah Kerajaan Fatimiyah hendak menerangi jalan selama bulan Ramadhan. Maka, ia memerintahkan Syekh agar memasang fanous yang di dalamnya terdapat lilin menyala.
Ini juga alasan mengapa Ramadhan di Timur Tengah identik dengan fanous karena menjadi tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi, terutama di Mesir.
Terkadang, melewati pasar dan beberapa tempat saya merasa malu terhadap diri sendiri warga-warga di Mesir di dalam kesibukannya pada bulan Ramadhan tidak meninggalkan Al-Qur’an, baik tua maupun muda, mereka mendengarkan murattal ataupun membaca mushaf Al-Qur’an, dan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun, pertanda khazanah keislaman begitu melekat di jiwa mereka.
Jika hanya di masjid mungkin hal tersebut sudah biasa seperti layaknya di Indonesia dan negara-negara muslim lainnya. Namun, di Mesir mereka membaca Qur’an atau sekadar mendengarkannya di tuk-tuk (sebutan becak di Mesir) sopirnya sambil mengendarai mengikuti bacaan Al-Qur’an yang mereka dengar dengan lancar, begitu juga tremko (angkutan umum di Mesir) atau di bus-bus tak terlepas dari Al-Qur’an. Jarang sekali saya mendengarkan musik-musik di tempat umum selama Ramadhan, di luar Ramadhan sedikit banyaknya ada, tetapi terkhusus Ramadhan suara itu tidak pernah terdengar di telinga saya.
Dengan demikian, orang awam mendengarkan Al-Qur’an, apalagi masyaikh (banyak syekh) yang sudah mutqin (lancar) dengan banyak qiraat (ahli bacaan Al-Qur’an) di Mesir. Saya merasa bersyukur bisa melihat khazanah keislaman yang hadir di sekitar saya.
Syekh Mustafa Imran salah satu guru dari Grand Syekh Azhar Ahmad Thoyyib, dan Masyaikh lainnya, sebagaimana dikisahkan murid yang disayanginya Syekh Husam Ramadhan yang mengulang Al-Qur’an lima juz setiap harinya sejak ia muda sampai sekarang hingga suatu ketika Syekh Husam mengatakan,“Jika ada kesalahan dari bacaan saya, perbaiki mushafnya!”
Tentu bukan berarti ada kesalahan dalam mushafnya, tapi karena saking seringnya ia membaca Al-Qur’an, kesalahan jarang sekali terjadi. Al-Qur’an seakan Al-Fatihah di hadapan Syekh Husam. Ramadhan beliau takhasusnya aqliat (ilmu akidah dan filsafat) dan bukan berarti memisahkan diri dari Al-Qur’an.
Syekh Isa Ma’sarawi, Syekh Maqari (ahli bacaan Al-Qur’an) Mesir, selama 50 tahun tidak pernah lagi memegang mushaf ketika membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an sudah mendarah daging dalam diri beliau, jsdi sulit untuk dipisahkan.
Nah, pembagian bekal beruka puasa juga merupakan tradisi yang tak pernah terabaikan di Mesir. Apalagi sekarang Al-Azhar memberikan 4.000 makanan berat yang kualitas makanannya sangat fantastis, bak makanan di restoran, ditambah camilan buka puasa di Masjid Al-Azhar Mesir untuk para mahasiswa. Luar biasanya, di sela-sela keadaan Mesir yang sekarang mengalami inflasi, kerajaan masih memberikan kemurahan hatinya untuk mahasiswa-mahasiswa asing, di luar Azhar setiap daerah, bahkan di jalan-jalan, saya sering diberi menu berbuka puasa mulai dari minuman, kurma, nasi yang lauknya daging, ayam, kuftah, dan sayur-sayuran.
Tradisi ini sudah dilakukan dari generasi ke generasi di Mesir. Kedermawanan mereka merupakan anugerah bagi saya saat ini. Tertulis di pembagian buka puasa tersebut mai’dah rahman (hidangan) Allah Yang Maha Penyayang. Si pemberi tidak ingin disebutkan namanya. Begitulah tradisi indah di Mesir, hampir di setiap tempat ada Ma’idaturrahman. Sekarang mereka sedang inflasi tapi masih memberikan sedikit yang mereka punya.
Tidak hanya orang Islam yang memberi, tetapi yang nonmuslim juga sangat senang berbagi dengan orang-orang muslim, bahkan di satu meja duduk yang sama berbuka puasa dan makan besama nonmuslim. Oh, indahnya toleransi di Mesir.
Nah, ketika membangunkan orang untuk sahur, ada satu tradisi unik di Mesir yang hampir mirip dengan Indonesia. Walaupun di sekitar tempat tinggal saya tidak terdengar, tetapi tradisi tersebut sesekali masih dipraktikkan di Mesir, yakni tradisi membangunkan sahur dengan drum kecil sambil berteriak-teriak membangunkan orang lain. Biasanya anak-anak di Mesir sangat suka dan mengikuti gaya berteriak si pemain drum kecil. Bagi warga yang sudah terbangun biasanya memberikan uang seikhlasnya ataupun tidak. Tradisi ini disebut dengan nama el-messaharaty.
Beberapa teman saya memberikan komentar terhadap kebaikan muhsinin (sebutan orang baik yang biasanya memberikan sembako atau bantuan berupa uang) Mesir bahwa sulit menemukan orang-orang dermawan seperti yang berada di Mesir, masih memikirkan orang lain walaupun kondisi keadaan diri sendiri dalam keadaan sulit, terkhusus Ramadhan memberikan buka puasa dan uang saku dalam keadaan tidak terduga, terkadang sebagian halakah (suatu perkumpulan belajar) tahfiz (menghafal Al-Qur’an) dan tahsin (memperbaiki bacaan Al-Qur’an) seperti murid-murid yang belajar di Masjid Syekh Sholeh Ja’fari banyak 5 kg kurma untuk setiap mahasiswa.
Terkadang juga secara tidak sengaja, orang Mesir langsung memberikan uang 200 pound Mesir secara cuma-cuma dan tidak terduga, tidak pernah bertemu dan berbicara sebelumnya, kecintaaan mereka terhadap pelajar-pelajar Universitas Al-Azhar Mesir tidak bisa diukur dengan uang, tapi dengan dakwah di negeri masing-masing.
Sebelum tulisan ini dirilis saya juga sempat melihat komentar Ustaz Abdul Somad, seorang pendakwah kondang lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, dalam postingan Istagram pribadinya menuturkan kisah kebaikan dan kecintaan masyarakat Mesir di bulan Ramadhan kepada mahasiswa Azhar kepada wafidin (utusan pelajar dari negara selain Mesir) yang akan meneruskan dakwah ke seluruh penjuru dunia.
Suasana Ramadhan di bumi peradaban Islam ini begitu mengesankan bagi para perantau seperti saya. Walaupun kerinduan pada keluarga di kampung halaman kerap hadir di momen Ramadhan seperti ini, tetapi kemeriahan di Mesir membuat segala rindu terobati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AZMI-PUTRA-GAYO-PENULIS-CR.jpg)