Opini
Evaluasi di Fase Akhir
Ini pula yang menjadi inspirasi mengapa tulisan yang akan mengevaluasi puasa kita di fase akhir Ramadhan ini mesti dimulai dari kisah hidupnya.
Dr Fairus M Nur Ibrahim MA, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Pengurus Dewan Dakwah Aceh (DDA)
TIGA perbuatan baik yang pernah dilakukan seorang sahabat Nabi tetapi kemudian disesalinya saat menghadapi sakaratul maut, selalu menjadi kisah favorit dalam hidup saya. Ini pula yang menjadi inspirasi mengapa tulisan yang akan mengevaluasi puasa kita di fase akhir Ramadhan ini mesti dimulai dari kisah hidupnya.
Dalam kodifikasi sejarah Islam, nama sang sejawat tidak begitu tenar. Ia tidak seeksis Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibn Khatthab, Usman, Ali atau sahabat-sahabat lain yang kerap disebut ketika sirah nabawiyah dibacakan maupun tatkala sejarah politik Islam dari A sampai Z dibentangkan di hadapan publik.
Baiklah, lupakan saja soal popularitas ini. Ada substansi yang lebih penting dari seorang Syakban, karib Nabi Muhammad saw yang tak populer itu. Berikut adalah sebagian dari fragmen hidupnya yang relevan dengan topik yang sedang kita diskusikan.
Kita mulai ketika Syakban bergegas menuju masjid pada suatu Jumat. Sama seperti laki-laki muslim lain, ia berniat menunaikan ibadah Jumat. Namun, hari itu langkahnya tak dapat benar-benar cepat. Di tengah jalan ia bertemu seorang lelaki buta yang terseok-seok menuju tempat yang sama. Tak sampai hati, sahabat Nabi ini pun memegangi tangan si orang buta dan menuntun jalannya hingga sampai di mesjid yang sama.
Di kali yang lain, Syakban terlihat buru-buru pula menuju mesjid untuk menunaikan shalat subuh. Cuaca cukup dingin dini hari itu. Di tengah jalan, perjalanannya pun terhenti. Bukan oleh lelaki buta seperti Jumat sebelumnya, tetapi oleh lelaki lansia yang sedang menggigil kedinginan.
Tak sampai hati, ia memberikan mantelnya kepada pria uzur itu. Kebetulan ia membawa dua: satu mantel lama yang dicopot dari tubuh dan disedekahkannya, satu mantel lain yang masih baru yang tetap dikenakan di body Syakban.
Sahabat Nabi ini memang baik hati. Tak cuma berkenan menuntun orang buta atau menyedekahkan mantel bagi lelaki papa, ia juga pernah pulang ke rumah dalam keadaan teramat lapar dan disuguhi sepotong roti yang telah dibubuhi daging oleh sang istri.
Saat “burger” itu akan disantap, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang musafir yang kelaparan. Bak petitih Aceh “menyoe hana raseuki nyang di bibie rhot u lua”, begitu pula yang terjadi atas Syakban. Roti yang akan dilahap seluruhnya ia bagi dua: setengah disedekahkan kepada sang musafir, setengahnya lagi ia gunakan untuk mengganjal perutnya sendiri.
Ketika waktunya tiba, karib Nabi ini pun wafat. Nabi bertanya kepada keluarga yang ditinggalkan, ”Tidakkah Syakban mengucapkan wasiat sebelum wafat?”
Sang istri menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu di antara suara nafas yang tersengal-sengal menjelang ajal.” “Apa yang dikatakannya?” tanya Nabi, lagi. “Saya tidak tahu, bahkan saya tidak mengerti apakah ucapan itu sekadar rintihan sebelum wafat ataukah pekikan dahsyatnya sakaratul maut. Ucapannya sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terbata-bata,” ujar sang istri.
“Bagaimana bunyinya?”
“Suami saya mengatakan, ‘Andaikata… andaikata lebih panjang… andaikata baru.. andaikata semuanya...’ Hanya itu yang tertangkap. Kami bingung, apakah perkataan itu igauan tak sadar ataukah pesan-pesan yang terputus.
”Sungguh, yang diucapkan itu tidak keliru,” ujar Nabi menglarifikasi. Nabi pun membeberkan misteri perkataan Syakban. Rupanya, si suami menyesali tiga perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Tatkala hendak menghembuskan napas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal saleh atas perbuatan baik yang pernah dilakukan itu.
Ia menyesali, mengapa jalan menuju mesjid saat menuntun lelaki buta di hari Jumat tak lebih panjang. Mengapa pula ia tak memberikan mantel yang masih new kepada lelaki tua yang kedinginan. Melihat limpahan pahala yang begitu besar saat sakaratul maut, ia pun menyesali mengapa hanya memberikan setengah roti kepada musafir yang lapar, mengapa tidak seluruhnya.
Perubahan orientasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fairus-M-Nur-Ibrahim-PENULIS-OPINI.jpg)